A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KEMBALI TERBUKA



Hari dimana Alka keluar negeri, Frans dan Onya menyempatkan hari itu untuk jalan-jalan bersama. Frans dan Onya yang dulu telah kembali. Setidaknya mereka bisa kembali terbuka satu sama lain.


Frans mengajak Onya nonton di bioskop dan berbelanja. Mengingat malam hari nanti mereka akan pergi ke pantai, Onya pun menyempatkan waktu belanja mereka untuk membeli teropong bintang.


Dan disinilah mereka berada. Sebuah pantai yang hanya ada mereka berdua. Frans dan Onya duduk diatas pasir tanpa alas, keduanya memandang cahaya bulan yang memantul ke sekitar gelombang air laut.


Frans melirik ke samping, ia memperhatikan Onya yang terus memejamkan kedua matanya. "Untuk apa kau membeli teropong kalau tidak menggunakannya?" tanya Frans, karena sedari tadi mereka berdiam di tempat itu tanpa melakukan sesuatu.


Onya membuka kedua matanya dan ikut melirik ke arah Frans. "Kau ingin berkenalan dengan IO?" tanya Onya.


Frans mengernyit tidak mengerti. "Apa itu IO?" tanya Frans.


"Nama salah satu satelit bintang" jawab Onya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian Onya bergegas dari duduknya. Sementara Frans masih duduk ditempatnya sambil memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Sampai dimana Onya mencari-cari keberadaan bintang IO tapi belum juga ditemukan membuat ia berdecak kesal. Frans yang merasa gemas dengan ekspresi Onya ikut menghampiri gadis itu.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku tidak tahu bintang IO itu dimana" ucap Onya sambil mengerucutkan bibirnya. Frans yang gemas langsung menjepit bibir gadis itu dengan dua jarinya. Namun segera ditepis oleh Onya.


"Aku juga tidak tahu apa itu IO. Apalagi untuk mencarinya menggunakan benda ini, mungkin sedikit sulit" bukan karena Frans tidak bisa menggunakan benda itu. Tapi karena ia tidak tahu apa itu bintang IO.


"Lebih baik kamu melukis. Aku suka melihatmu melukis" ucap Frans, kemudian mengambil perlengkapan melukis Onya dan mulai mengaturnya.


"Aku tidak punya ide untuk menggambar" Onya mendekati Frans saat perlengkapan melukisnya telah siap untuk digunakan.


Sejenak keduanya berpikir. "Lebih baik kamu gambar IO, atau apa itu" ucap Frans kemudian.


"Aku sudah pernah menggambarnya saat bersama Alka" ucap Onya tanpa sadar.


Frans sontak terkejut. Ia terkekeh, tak percaya jika gadis itu pernah membawa pria lain ditempat mereka ini. "Di sini?" tanya Frans memastikan.


Onya menganggukkan kepalanya. "Jadi aku tidak suka membuang-buang tinta hanya untuk melukis sesuatu yang sama" ucap Onya.


Frans menghembuskan nafas beratnya, berusaha untuk mengendalikan emosinya. Ternyata hubungan Onya dengan Alka sudah sejauh ini sampai-sampai ia berani membawa masuk pria ini ketempat khusus mereka berdua.


"Ternyata hubungan kalian bisa sejauh ini sampai-sampai kau bisa mengundangnya masuk ke tempat ini" ucap Frans sambil tertawa sumbang. Tidak lucu, tapi kenapa ia tertawa? Frans tertawa untuk menutupi amarahnya yang menggembuh.


"Apanya yang lucu, Frans?" tanya Onya dengan kesal. Ia pikir, Frans sedang mengejeknya.


Sejenak Frans menghentikan tawanya. Ia lantas duduk di atas pasir, disusul oleh Onya yang ikut duduk di sampingnya.


"Ayo ceritakan padaku, bagaimana awal pertemuan-mu dengan Alka, dan apa saja yang kalian lakukan saat pacaran?" tanya Frans.


Mendengar pertanyaan Frans, Onya sontak menatapnya dengan kedua mata yang menyipit. Seolah-olah ia sedang menyelidik maksud pertanyaan mencurigakan pria itu.


"Ayolah, bukankah kita sahabat? Semenjak kau mengenalnya, kau malah menjadi tertutup padaku. Ayo mulai dari awal, kita harus sama-sama terbuka seperti dulu lagi" ucap Frans membuat Onya tertawa terbahak-bahak.


Frans mendesah pelan. Memang yang dikatakan Onya benar adanya. Bukan tanpa alasan ia tertutup pada Onya, tapi dia tidak ingin gadis itu mengetahui sisi brengseknya selama ini.


Frans semakin tertutup saat pertama kali ia melepas keperjakaan-nya. Saat itu ia benar-benar sangat menyesal telah melepas sesuatu yang berharga, yang seharusnya dinikmati pertama kali oleh wanita masa depannya, yaitu sang istri. Tapi semuanya berubah saat ia dijebak. Disaat itulah ia mulai candu berhubungan ranjang.


Namun sayangnya, seberapa jauh ia tutupi kebusukannya tetap akan terbongkar. Onya telah mengetahui kelakuan brengseknya saat berhubungan dengan Lusi. Sungguh cerita yang panjang jika kembali diungkit. Biarlah masa lalu itu berlalu.


"Mungkin kau benar. Tapi bukan hanya aku kan? Kau juga begitu, jadi kita sama-sama salah di sini. Untuk itu, yang lalu biarlah berlalu. Mau tidak kamu terbuka lagi seperti dulu?" tanya Frans lagi.


Namun Onya masih saja menatapnya dengan sinis. "Kau tidak bisa dipercaya, Frans. Aku sudah tahu kebusukan-mu selama ini. Setiap kali aku curhat kalau aku sedang dekat dengan seorang pria, hubungan-ku dengan mereka pasti akan berakhir begitu saja tanpa kejelasan. Sungguh aneh bukan? Seharusnya itu patut dicurigai" ucap Onya.


"Kau mau tahu alasan, dan pelaku dibalik itu semua?" tanya Frans. Onya yang penasaran lantas menganggukkan kepalanya. Walau ia masih begitu kesal untuk meladeni obrolan pria itu. "Mungkin lebih baik aku yang lebih dulu terbuka padamu. Tapi kamu harus janji, setelah ini kita harus seperti dulu lagi. Kamu harus kembali terbuka padaku, begitu juga denganku. Bagaimana?" tanya Frans kemudian.


"Iya, iya. Cepat katakan padaku" ucap Onya.


"Memang aku pelakunya" ucap Frans sontak mendapatkan tamparan kecil dari Onya. "Jangan dipukul dong. Biar aku selesaikan dulu penjelasan-ku" sambung Frans sambil menangkap satu tangan Onya yang berani menamparnya.


"Okay, tapi lepas dulu tanganku" ucap Onya. Tapi Frans tidak mengindahkannya. Pria itu meraih satu tangannya lagi, dan digenggamnya erat. "Apa yang kau lakukan? Lepas dong" ucap Onya sambil menarik kedua tangannya. Namun sia-sia, Frans begitu erat menggenggamnya.


"Biar seperti ini agar kamu tidak nakal memukulku lagi. Kalau mau lepas, aku tidak akan lanjut bicara" ucap Frans. Mau tidak mau, Onya harus stop melawan. Ia ingin mendengar penjelasan Frans lebih lanjut.


"Ayo katakan" Onya memelas.


"Aku melakukan itu karena aku sayang padamu. Selama ini para pria yang mendekati-mu itu brengsek semua. Jadi aku mengancam bahkan menghajar mereka kalau tidak mau mengakhiri niat mereka yang ingin dekat denganmu" jelas Frans. Jujur akan apa yang selama ini ia perbuat.


Onya ternganga tak percaya. Sungguh Onya benar-benar syok mendengarnya. Ternyata yang dikatakan oleh Alka benar adanya.


"Kau gila, Frans!" pekik Onya.


"Ya aku tidak akan gila jika kau didekati oleh pria yang benar" ucap Frans.


Onya tertawa mengejek. "Memangnya wanita yang selama ini dekat denganmu benar semua?" sarkas-nya.


Frans mendesah lagi dan lagi. "Semua sudah berlalu, Onya. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Tapi dengan syarat, kau harus menjadi Onya-ku yang dulu, yang setiap saat terbuka padaku. Baik suka maupun duka-mu, aku selalu mendengarkan" ucap Frans. "Kau mau kan terbuka denganku lagi? Ayo perbaiki persahabatan kita" sambung Frans. Ia terus membujuk Onya hingga gadis itu luluh. Satu hal yang ia sadari, jika memperlakukan gadis itu dengan lembut maka ia akan luluh.


Dan malam itu, Onya mulai terbuka pada Frans. Walau sebenarnya ia masih belum percaya sepenuhnya pada pria itu, tapi setidaknya ia bisa memperbaiki persahabatan mereka.


Onya mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Alka, hingga apa saja yang telah mereka lakukan. Memasuki ceritanya mengenai bintang IO langsung menyadarkan Frans pada isi pesan yang pernah dikirim Onya padanya.


Kau tahu, kenapa kemarin aku tidak menunggumu untuk menjemput-ku pulang? Bahkan semalam aku tidak menjawab telepon-mu? Karena semalam, aku baru saja jadian dengan seseorang. Dia bahkan berhasil mengambil perawan-ku. Kami bercinta semalaman tanpa diganggu olehmu.


Begitulah pesan yang pernah Onya kirimkan padanya. Sampai saat ini masih memenuhi pikiran Frans karena Onya tidak membahasnya.


Walau mengetahui Onya sudah tidak perawan lagi, Frans tidak mempermasalahkannya. Ia sadar ia juga tidak sempurna. Ia bisa menerima gadis itu apa adanya, dan juga ingin gadis itu menerimanya demikian.