A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BONUS 7



Tiga hari lamanya Frans dan Onya mengawasi Lisa. Ternyata dalam tiga hari saja, wanita itu mampu membuat kedua majikannya puas dengan hasil kerjanya.


Walaupun masih muda, ternyata Lisa sangat berpengalaman. Buktinya ia lebih lihai memandikan, mengganti pakaian dan popok adik kecilnya Liona.


Bukan hanya itu, Lisa juga pandai mengambil hati Liona. Mungkin karena wanita itu sangat sabar dan lembut mengurus anak-anak, jadinya Liona pun nyaman bersamanya.


Dan lihatlah sekarang. Lisa sedang makan sambil menyuapi Liana dengan begitu sabar.


Sementara dikamar utama, Onya sedang kesusahan mengenakan gaun cantiknya. Melihat Frans keluar dengan pakaian yang lengkap dan rapih, wanita itu lantas mendekatinya.


"Frans, bantu naikin resleting nya" ucap Onya sambil membelakangi pria itu.


"Bagaimana kalau kita pergi dengan Liona dan adik juga?" Ucap Frans.


Onya berbalik sambil menunjukan wajah cemberutnya.


"Memangnya kenapa? Kamu mau Lisa pergi dengan kita juga?" Tanya Onya.


"Aku masih belum mempercayainya" ucap Frans.


Onya terkekeh mendengar ucapan pria berstatus suaminya itu. "Baru kemarin kamu memujinya" ucap Onya setengah mengejek.


"Aku tidak memuji perempuan itu. Kau sendiri yang minta pendapatku" ucap Frans membela diri.


Karena kemarin malam, saat mereka akan tidur, Frans dan Onya sempat mengobrol tentang nanny itu. Sebenarnya bukan Frans, karena Onya yang terus menanyakan Frans tentang Lisa.


"Kenapa kau terlalu cantik, hm?" Saat itu Frans sedang memuji Onya.


Onya tidak merespon pujian pria itu. Justru ia mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Dia cantik, kan?" Tanya Onya. Sebenarnya ia hanya sengaja memancing Frans.


"Siapa?" Tanya Frans.


"Lisa" Jawab Onya.


"Hm" Dengan malas Frans menjawabnya. Entah tidak tertarik atau apa.


"Kau tahu, berapa usianya?" Tanya Onya lagi.


"Apa pentingnya sih, sayang? Mending bicara soal kita malam ini" ucap Frans hendak mencium wanita itu, namun ia malah didorong.


"Dengarkan dulu" Frans mendengus kesal karena Onya tak henti membicarakan orang asing itu.


"Dia itu sudah berumur 29 tahun, loh. Tapi keliatan awet..." Ucapan Onya tertahan karena langsung dicium oleh Frans.


"Kenapa kamu jadi banyak bicara, hm? Kamu tidak pernah seperti ini, apalagi memuji seorang wanita. Kamu dulunya lebih percaya diri dari siapapun" ucap Frans saat melapas ciumannya.


"Aku memang..." Frans kembali mencim bibir wanita itu agar tidak bicara lagi.


"Kalau kamu berniat membanding-bandingkannya dengan diri kamu, aku tidak peduli, Onya" ucap Frans.


"Tapi benarkan dia cantik?" Ucap Onya. Entahlah, wanita itu pun merasa aneh dengan dirinya.


"Kamu takut aku tergoda?" Tanya Frans membuat Onya bungkam.


Frans tersenyum karena wanita itu tak merespon ucapannya barusan.


"Kalau kamu takut, ya tinggal pecat saja" ucap Frans dengan enteng.


Onya sontak tersadar dari lamunannya.


"Jangan begitu. Tiga hari ini dia sudah menunjukkan kinerja terbaiknya. Kamu ga lihat, Liona yang keras kepala dan terus mengganggu adiknya saja patuh karena Lisa. Adik pun tidak rewel bersama dia" ucap Onya.


Kali ini Frans tidak bisa mengelak. Ia pun mengawasi Lisa, dan dia tahu bagaimana kinerja wanita itu.


"Gimana menurutmu?" Tanya Onya kemudian.


"Apanya?" Frans balik bertanya.


"Aku sedang menanyakan pendapat kamu tentang Lisa. Menurutmu, gimana kinerjanya sampai sekarang? Bagus atau tidak?" Tanya Onya memperjelas pertanyaannya barusan.


"Tidak begitu buruk. Dia memang terlihat pandai mengurus anak-anak kita" ucap Frans.


Begitulah ucapan Frans yang sempat terngiang-ngiang oleh Onya.


*


Tidak jauh dari keberadaan Lisa dan Liona, sepasang suami istri itu berpamitan keluar.


"Lisa, aku dan Frans mau keluar sebentar. Aku titip Adik dan Io, ya!" ucap Onya.


"Iya, Onya" ucap Lisa sambil tersenyum tipis.


"Mama dan papa mau kemana?" Tanya Liona.


"Io ikut, boleh?" Tanya gadis kecil itu kemudian.


"Papa dan mama mau jalan-jalan dulu, sayang. Kamu dengan nanny dulu ya" jawab Lisa setenang mungkin. Sayangnya dia salah berucap. Seharusnya ia tidak mengatakan kalau ia dan Frans akan jalan-jalan, karena Liona pasti ingin ikut.


Padahal sebenarnya Frans dan Onya akan menghadiri pameran an lukisan di museum. Dan pasti sangat merepotkan jika anak-anak pun ikut.


"Io bosan dirumah terus. Io mau ikut mama dan papa" kali ini gadis kecil itu tidak mau mendengarkan ucapan Lisa. Dia turun dari atas tempat duduk dan berlari ke arah sang ayah.


"Papa, Io ikut ya" ucap Liona.


"Io tinggal dulu sama nanny" ucap Onya.


"Tapi Io mau ikut papa" anak itu kekeh mau ikut membuat Onya hampir meledakan suaranya.


"Io..." Belum sempat Onya memarahi anak gadisnya itu, Frans malah memotongnya.


"Mungkin sebaiknya mereka ikut" ucap Frans pada Onya.


"Kamu enakan ngomongnya. Nanti kita yang repot" ucap Onya.


"Ada Lisa yang mengawasi nanti" ucap Frans.


"Kamu ga mikir Adik? Lisa bisa kebingungan mengawasi mereka berdua di sana. Ngomong enak, coba kamu yang ngurus" eh malah mereka aduh mulut.


Melihat itu, secepat mungkin Lisa berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka.


"Sebaiknya Ibu dan Bapak tidak bertengkar didepan anak kecil..." Ucapan Lisa tertahan karena Frans dan Onya langsung menatapnya dengan tajam.


"Mmm... Maaf kalau saya lancang. Sebenarnya saya lebih setuju dengan ucapan Onya, karena di rumah lebih mudah merawat dua anak kecil ketimbang diluar rumah. Kalau saya fokus ke Adik, Io bisa saja terabaikan dan akan sangat sulit mengontrol Io kalau dia berlarian" jelas Lisa.


"Baiklah kalau kamu bisa membujuk Io" ucap Frans dengan datar kemudian melangkah pergi meninggalkan Onya, Lisa dan Liona di sana.


Sementara Liona yang hendak mengejar ayahnya langsung ditahan Lisa.


"Io tinggal bareng nanny aja, ya!" Ucap Lisa dengan lembut.


"Ga mau, Io mau ikut papa sama mama" ucap Liona sambil membanting-banting kakinya.


"Mama dan papa mau rapat, ke acara orangtua. Di sana ga ada teman-teman Io, lalu Io mau main sama siapa di sana? Ga asik banget, loh" ucap Lisa mencoba merayu gadis kecil itu.


"Main sama papa" ucap Liona dengan polosnya.


"Io ga bisa main sama papa di sana, nanti dimarahi sama orang-orang" ucap Lisa terus mencoba.


"Kenapa?" Tanya Liona. Anak kecil itu terlalu pintar dan tak mau mengalah. Dasarnya anak Frans, jadi begitulah.


Dan Lisa kalah telak. Wanita itu bingung menjawab apa, takut anak kecil itu terus bertanya kalau ia menjawab.


"Io ga mau main sama adik? Kasihan adik sendirian di rumah" dengan cerdasnya Lisa mengubah topik pembicaraan.


Ternyata berhasil, karena Liona melupakan niat awalnya yang ingin ikut orangtuanya jalan-jalan.


"Ohiya, Io lupa kalau Io udah punya adik di sini" ucap Liona dengan polosnya tertawa sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


Cara Lisa membujuk Liona tak luput dari pandangan Onya. Wanita itu puas dengan kinerja Lisa, dan juga banyak belajar darinya.


"Mungkin aku harus banyak bersabar" lirih Onya pada dirinya sendiri.


Tidak lama dari itu, Frans kembali dengan seorang pelayan yang lumayan berusia.


"Ini Bibi yang akan membantu kamu dan mengawasi kamu" ucap Frans pada Lisa. Karena sampai detik ini ia masih belum mempercayai Lisa merawat anak-anak tanpa pengawasan.


"Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta bantuan Bibi" tambahnya sambil mendekati istrinya, kemudian merangkul wanita itu.


"Ayo, kita bisa terlambat" ucap Frans.