A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
LUSI KETAHUAN HAMIL



Obrolannya dengan Franky harus kandas. Pasalnya, belum sempat ia membalas ucapan Franky, tiba-tiba ponsel Frans berdering. Bukan panggilan telpon, tapi sebuah pesan yang dikirim oleh Onya padanya.


Jemput aku, Frans. Sebentar lagi kelasku akan dimulai. Begitulah kira-kira isi pesan yang dituliskan Onya.


Tanpa menunggu lama, Frans berpamitan pada kakaknya. Lalu ia keluar mansion itu untuk masuk kedalam mobilnya. Frans langsung melaju menuju kediaman Wiranta.


Sesampainya di sana, Frans turun dari mobilnya. Ia hendak mengabari Onya bahwa ia telah sampai. Niatnya ingin menelpon gadis itu, namun Onya lebih dulu menelponnya. Frans lantas mengangkatnya.


"Frans, kau dimana? Aku akan telat jika kau lama menjemput-ku" Onya menggerutu disebrang sana.


"Aku sudah didepan rumahmu. Cepatlah, aku pun sedang sibuk" jawab Frans.


Beberapa menit lamanya, Frans menunggu. Akhirnya Onya menunjukkan dirinya. Gadis itu bergegas masuk kedalam mobil Frans dengan tergesa-gesa. "Cepat, Frans. Aku terlambat" ucapnya.


Frans mendesah pelan. Tanpa banyak bicara, ia menghidupkan mesin mobilnya, dan bergerak melewati gerbang rumah.


"Kenapa kau lama sekali? Bukankah kau ingat kalau hari ini aku sedang ada kelas?" ucap Onya dengan ketus. Walau begitu, fokusnya tetap pada layar ponselnya.


"Aku tadi sedang mengobrol dengan kak Franky, jadi lupa" ucap Frans seadanya. Sementara Onya malah mengacuhkannya. "Kau tahu..." belum sempat Frans melanjutkan ucapannya, Onya lebih dulu memotongnya.


"Tidak tahu. Cepatlah, aku harus segera sampai di kampus" celah Onya.


Salah satu alis Frans tertarik keatas. Kemudian ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Yeah, akan lebih baik jika kau tidak tahu" gumamnya sambil menyeringai lebar.


Sesampainya mereka di kampus, Onya hendak keluar mobil. Ia sudah membuka pintu mobilnya, dan akan melangkah keluar. Namun entah kenapa, Frans menarik tangannya, disusul dengan pintu yang kembali pria itu tutup.


"Ada apa?" tanya Onya dengan datar.


Sementara Frans hanya tersenyum. Lalu tanpa aba-aba, ia mengecup bibir gadis itu. Sontak, kedua mata Onya membulat. Dengan sekali gerakan, gadis itu melayangkan tamparannya pada lengan pria itu.


Entah kenapa, Frans semakin menahan Onya. Ia merasa tertantang ketika jari-jari Onya meremas kulit tangannya.


"Kancing bajumu terbuka, bodoh" ucap Frans sambil menatap kagum kedua gundukan yang hampir terlihat.


Onya sontak menatap kebawah. Mengikuti arah tatapan Frans pada dua kancing bajunya yang terlepas.


"Makanya bilang dari tadi. Jangan kurang ajar dengan mencium-ku seperti tadi" ucap Onya. Ia ingin menarik salah satu tangannya yang masih dipegang oleh Frans. Namun pria itu tetap menahannya. "Apa lagi?" tanya Onya dengan kesal.


"Kau tidak pakai tank top? Bra saja tidak cukup untuk menutup tubuhmu, bodoh. Orang-orang bisa melihat kulit perutmu lewat front facing" ucap Frans sambil membuka-buka upper dan lower front facing, kemeja Onya.


"Biasanya aku bepergian seperti ini. Kenapa baru sekarang, kamu protes?" ucap Onya dengan ketus. "Hei, kelasku sudah mulai dari tadi" sambungnya lagi. Dengan kesal, Onya semakin meremas kuat tangan Frans. Hal itu membuat Frans merasakan sakit, dan langsung melepas Onya.


Frans meringis. Bukan hanya bekas cakaran yang ditinggal oleh Onya, tapi juga darah. Kulit Frans terkupas hingga terasa nyeri. Dan darah mulai terlihat dari kulitnya yang robek itu.


Onya segera mengambil kesempatan itu untuk keluar dari dalam mobil. Tanpa peduli dengan ulahnya pada Frans, gadis itu langsung berlari masuk kedalam kampusnya.


Sementara Frans, ia tidak berniat untuk mengejar Onya. Ia membiarkan Onya selamat kali ini.


...*...


Kini ia sedang duduk berhadapan dengan seorang dokter kandungan. Baru saja ia diperiksa. Dan siap untuk mendengar penjelasan dokter tersebut.


"Kandungan anda sangat sehat, Nona" ucap dokter sambil mengangguk pasti. "Rasa keram itu memang normal. Tapi akan lebih baik, jika anda tidak banyak pikiran. Terpenting mengenai emosi, karena kedua hal itu dapat mempengaruhi janin" sambung dokter tersebut.


"Baik. Terimakasih, dok" ucap Lusi.


Wanita itu bergegas keluar dari ruangan itu. Ia terus berjalan, mengikuti lorong-lorong rumah sakit. Ia berjalan lunglai ketika memasuki lorong yang terasa sunyi dan sepi. Dari depannya, kedua matanya menatap nanar seorang pria. Tidak begitu jelas, hingga ia jatuh tak sadarkan diri.


Pria tak dikenal itu langsung berlari menghampiri Lusi. Ia berjongkok di samping Lusi, dan menjadikan pahanya untuk memangku kepala wanita itu. Sesekali ia menepuk pipi wanita itu. Dan Lusi yang sedikit sadar hanya bisa tersenyum tipis. Kepalanya terasa pusing, bahkan dunianya berputar-putar sewaktu ia mencoba untuk membuka kedua matanya. Jadi ia memilih untuk memejamkan kedua matanya dengan erat.


"Nona, Nona... Ada apa dengan anda?" tanya pria itu.


"Pusing" jawab Lusi seadanya.


Tanpa menunggu lama, pria itu langsung menggendong Lusi. Ia membawa wanita itu untuk diperiksa.


Beberapa menit telah berlalu. Selama itu, Lusi tak sadarkan diri.


"Apa dia belum bisa bangun?" suara seorang wanita yang sangat tidak asing dalam pendengaran Lusi. Ia mengerjap. Samar-samar ia melihat seorang pria dan wanita sedang menatapnya dengan intens.


"Ma, pa?" lirih Lusi. Ia hendak berdiri duduk, namun seorang wanita yang disebut sebagai mamanya itu langsung membantunya.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya ibunya.


Lusi mengedipkan matanya. "Baik, ma" jawabnya. Namun sesaat kemudian, ia tersadar. Lusi menelan ludahnya dengan kasar. Ia menatap kedua orangtuanya dengan gugup.


"Kamu tidak ingin menjelaskan apa-apa pada kami, sayang?" tanya ibunya. Sepertinya wanita itu mencoba untuk bersikap tenang didepan anaknya itu.


Sementara ayahnya, malah menatap tajam kearah Lusi. Pria itu tidak berbicara sama sekali. Sepertinya ia menunggu jawaban dari anaknya itu.


"Pe-penjelasan apa, ma?" tanya Lusi dengan gugup. Hingga suaranya terdengar gagap.


"Mama dan papa sudah tahu kalau kamu hamil, sayang"


Deg...


Yang ia takutkan ternyata terjadi. Kehamilan yang ia tutupi akhirnya terbongkar. Dan kedua orangtuanya sudah mengetahui semuanya. Lantas, apa yang harus ia jawab?


"Ma... Pa... maafin Lusi" ucapnya sambil menunduk.


"Bukan itu yang ingin kami dengar darimu. Siapa? Siapa yang bertanggungjawab atas kehamilan-mu, Lusi?" tanya ayahnya. Suara pria itu terdengar nyaring. Untungnya, kedua orangtuanya sudah memindahkannya ditempat yang layak. Ruangan VVIP kini Lusi berada. Mungkin orang-orang diluar sana tidak dapat mendengar suara nyaring ayahnya. Karena ruangan tersebut kedap suara.


"Tenang, pa. Bicarakan baik-baik" ibunya berusaha untuk mengontrol emosi ayahnya.


"Ini, ini dia... Ini hasil dari didikan-mu. Dia menjadi bebas berkeliaran, dan akhirnya hamil diluar nikah" ucap ayahnya dengan nada membentak. Jari telunjuknya terarah pada Lusi yang sedang menunduk. Sementara tatapan pria itu terarah pada istrinya.