A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
HAMIL?



Onya membuat Frans kewalahan. Pria itu buru-buru menghubungi ayah dan kakak laki-lakinya, Franky. Ia meminta bantuan pada mereka sembari memberitahu kondisi Onya saat ini.


Tadi pagi Onya terus mengeluh untuk muntah, namun sampai sekarang ia tidak mengeluarkan satu apapun dari mulutnya. Itu membuat Frans cemas. Bagaimana tidak, tubuh wanita itu dibanjiri keringat dingin.


Mendengar Onya meringis, merengek karena tidak enak badan membuat Frans kebingungan.


Setelah menghubungi ayahnya juga Franky, Frans kembali menghampiri Onya ditempat tidur. Ia memegang dahi wanita itu seraya mengecek suhu tubuhnya. Tidak panas, tapi dingin.


"Aku hanya mabuk laut" racaunya seraya menggeleng kepala dengan gelisah. Merasa risih dengan sentuhan Frans di dahinya membuat Onya buru-buru mendorong tangan pria itu darinya.


"Kau tidak pernah mabuk laut" ucap Frans membantah ucapan wanita itu barusan.


"Aku hanya ingin pulang" ucap Onya mengalihkan ucapan Frans. Sedari tadi enggan membuka kedua matanya.


"Iya, aku sudah minta bantuan papa dan kak Franky. Sebentar lagi akan ada helikopter yang datang menjemput kita" ucap Frans disusul rengekan dari Onya.


"Rasanya mual lagi" lirih Onya tak berdaya.


Dan benar kata Frans, tidak lama kemudian ia diberitahu seorang pengawal kalau sebuah helikopter telah mendekati kapal mereka.


Buru-buru Frans membangunkan Onya. Ia memberitahu wanita itu beberapa kali kalau helikopter telah tiba menjemput mereka, namun wanita itu tidak bergeming sama sekali. Ia tetap tidur dengan wajah gelisah-nya.


Mau tidak mau, Frans bergegas menggendong wanita itu menuju belakang kapal, tempat dimana helikopter mendarat. Sesampainya mereka di sana, ternyata ada seorang dokter yang sedang menunggu.


Lebih dulu Frans membawa Onya duduk kedalam helikopter itu. Ia kemudian membiarkan dokter memeriksa Onya dibawah pengawasannya.


Frans memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Onya menggunakan stetoskop. Beberapa pertanyaan dokter itu tanyakan pada Onya, namun hanya satu jawaban yang sama Onya berikan.


"Aku hanya mabuk laut" ucap Onya.


Dokter itu dengan terpaksa beralih pada Frans. "Apa tuan suaminya?" tanya dokter pada pria itu.


"Iya" jawab Frans. "Ada apa dengan istri saya?" tanyanya kemudian.


"Tidak ada masalah serius. Cuma saya mau memastikan lagi, apa Tuan tahu yang Nyonya keluhkan?" tanya dokter. Mengingat mereka berada diluar rumah sakit, jadi tidak ada peralatan yang bisa memastikan sakit yang diderita oleh Onya.


"Dari tadi pagi dia mengeluh ingin muntah, tapi tidak muntah-muntah. Tadi dia juga bilang kalau dia pusing dan tubuhnya berkeringat dingin" ucap Frans.


Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa Nyonya sering mabuk laut?" tanya dokter lagi. Kali ini terkesan hati-hati karena dirasanya ia sudah banyak bertanya.


"Tidak" jawab Frans seadanya seraya menggeleng kepalanya.


"Kemungkinan Nyonya hanya sedang masuk angin. Biasanya kalau belum muntah, itu yang buat Nyonya lemas dan keringat dingin. Saya akan memberi beberapa resep, nanti kalau sudah sampai di Hawai, Tuan bisa membelinya di apotek terdekat" ucap dokter itu.


"Jadi maksud dokter istri saya hanya masuk angin, kan?" tanya Frans lagi.


"Iya, itu dari pemeriksaan saya. Kalau misalnya keluhannya tidak membaik-baik juga, saya sarankan Nyonya bisa dibawa ke rumah sakit langsung agar bisa ditinjau lebih dalam" ucap dokter itu.


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap Frans memberi perintah bagi pilot.


Helikopter itu membawa mereka ke Hawai. Niatnya Frans ingin membeli obat sesampainya mereka di sana, namun Onya malah merengek ingin kembali ke negara asal mereka sesegera mungkin. Alhasil saat helikopter itu mendarat di bandara, mereka langsung berpindah ke pesawat.


Frans membiarkan wanita itu beristirahat. Mengingat perjalanan yang akan ditempuh berkisar lebih dari enam jam menuju Eropa.


Frans duduk merenung diatas tempat tidur, tepat di samping Onya berbaring. Jangan heran, mereka memesan tiket berkelas jadi ada tempat tidur.


Frans sempat-sempatnya berpikir tentang rencana bulan madu mereka yang batal. Padahal ia sudah menyiapkan banyak kejutan pada wanita itu, namun sepertinya semua itu harus ditunda.


Frans tersadar dari lamunannya kala mendengar Onya menggeliat. Wanita itu menyentuh paha Frans dan langsung membuka kedua matanya. Ia kemudian bergeser mendekati Frans dan memeluk pinggang pria itu.


"Sedikit" ucap Onya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kita langsung ke rumah sakit pas tiba nanti" ucap Frans.


"No" Onya menggelengkan kepalanya seraya bangun dan ikut duduk di samping pria itu. "Aku tidak sakit lagi" sambungnya.


...*...


Onya mematung didepan cermin kamar mandi. Wanita itu menatap tak percaya pada sebuah benda.


"Aku hamil!" desahnya dengan berat.


Tadi saat ia dan Frans hendak menuju rumah besar keluarga Eisten, terlintas dibenak Onya untuk membeli test pack tanpa sepengetahuan Frans.


Dan kini ia berada di rumah besar keluarga Eisten. Menatap dua garis merah yang nyaris membuatnya jantungan. Antara senang atau takut, Onya tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini.


Tok... tok...


"Onya, apa yang kau lakukan didalam sana? Kenapa lama sekali?" suara Frans membuatnya buru-buru memasukan benda itu kedalam tong sampah.


Onya membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya Frans yang menantinya didepan pintu.


"Ada apa? Masih sakit?" tanyanya.


"Tidak" jawab Onya dengan gagap.


Frans mengernyit curiga pada wanita itu. Dia meletakkan tangannya ke dahi Onya, namun suhunya sudah kembali normal.


"Aku kan sudah bilang aku baik-baik saja" ucap Onya.


...*...


Malam itu saat Frans dan Onya hendak tidur. Wanita itu sudah membungkus tubuhnya dibawah selimut sembari menanti Frans.


Saat Frans ikut masuk kedalam selimut dan memeluknya, Onya langsung mulai membuka obrolan.


"Frans, aku ingin tanya tentang kontrak nikah kita" ucap Onya tiba-tiba.


Frans mengernyit, entah angin dari mana wanita itu ingin membahas masalah itu lagi.


"Kontrak nikah kita selesainya kapan ya?" tanya Onya.


"Kenapa?" tanya Frans dengan suara tercekat.


"Aku hanya ingin menambah beberapa poin dan memperlama kontrak nikah kita. Kalau tidak salah, waktu itu aku ajukan kita akan bercerai setelah aku punya anak. Tapi kalau dipikir-pikir bagusnya kita harus cari alasan tepat agar orangtua kita tidak memperhambat tujuan kita. Tidak mungkin kita bercerai secepat itu disaat aku baru melahirkan, bukan?" ucap Onya.


Frans memaksa untuk tersenyum. "Betul juga" ucap Frans dengan suara beratnya.


"Lalu pengacara siapa yang menangani kontrak nikah kita itu?" tanya Onya lagi.


"Kau tidak kenal" ucap Frans.


"Katakan ayo" Onya memaksa pria itu dengan berbagai cara.


Awalnya Frans enggan mengatakannya pada Onya. Namun karena wanita itu terus mendesaknya, mau tidak mau Frans terpaksa menceritakan tentang pengacara keluarganya tanpa curiga sama sekali.