
Ini bonus, karena kemarin Sabtu, saya lupa up ðŸ¤
Suasana berubah canggung. Tadi kedua orangtuanya mendesak ia untuk bicara jujur. Mereka bertanya mengenai ayah biologis dari janin yang sedang Lusi kandung. Awalnya ragu, namun entah keberanian darimana, Lusi menjawab.
"I-ini... anaknya Franky Eisten, pa, ma" jawab Lusi dengan gagap.
Mendengar nama itu, seketika, kedua mata orangtunya membulat. Siapa yang tidak mengenal keluarga Eisten? Ayahnya Lusi yang notabennya seorang pengusaha, tentu mengenal pria itu.
"Apa kau sudah memberitahunya, sayang?" tanya ibunya. Ia begitu sabar menghadapi anaknya itu.
Lusi menganggukkan kepalanya, tanpa berniat menatap ibunya. Mungkin dibelakang kedua orangtuanya, Lusi terlihat begitu liat. Pergaulan yang begitu buruk. Bahkan terlibat dalam dunia **** bebas. Tapi didepan orangtuanya, ia menunjukkan dirinya yang lain. Menjelma menjadi wanita baik-baik didepan kedua orangtuanya, khususnya sang ibu.
"Papa tidak masalah, jika kalian terlibat hubungan asmara. Tapi ini menyangkut nama baik, Lusi. Mau taruh dimana muka papa?" ucap ayahnya dengan frustasi.
"Tenang, pa. Biar mama yang bicara" ucap ibunya. Memang seperti inilah yang dilakukan oleh sang ibu. Ia terus membela anaknya didepan suaminya. Hal ini yang menjadi kekesalan suaminya.
Ibunya beralih pada Lusi. "Jika kamu sudah memberitahunya, apa kamu sudah meminta pertanggungjawaban pria itu?" tanya ibunya.
"Sudah, ma" jawab Lusi dengan lirih.
"Lantas, bagaiamana jawabnya?" tanya ibunya lagi.
"Dia ragu, ma. Dia ragu dan ingin membuktikannya melalui tes DNA" akan lebih baik jika ia segera jujur. Mungkin kedua orangtuanya bisa membantu. Jika dia tidak memberitahu mereka, mungkin ia akan kesulitan.
Ayahnya langsung menoleh kala mendengar jawaban anaknya itu. Dia terkekeh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Dia tidak yakin, karena dia menganggap kamu sebagai wanita murahan. Kamu pasti terkenal liar diluar sana, bukan?" suara ayahnya kembali menggema ditempat itu. Sebagai seorang pria, ia tahu. Dia menganggap sikap Franky Eisten sebagai hal yang wajar. Karena ia akan melakukan hal yang sama.
"Lusi?" suara bas itu kembali terdengar. Ayahnya kembali bersuara, karena Lusi tak kunjung menjawab ucapannya barusan.
Lusi menggeleng-geleng kepalanya, tanpa berniat menjawab dengan kata-kata. "Kau benar-benar membuatku malu. Nama keluarga kita pasti sudah tercoreng didepan mereka" ucap ayahnya lagi. Ia menarik nafasnya dengan berat, kemudian mengeluarkannya dengan kasar. "Kau selalu membuat masalah, Lusi" sambungnya dengan nada kesal.
Hening sejenak...
Ayahnya Lusi yang sedari tadi berdiri, kemudian dibimbing oleh istrinya untuk duduk di sebuah kursi yang ada di samping tempat tidur anaknya.
"Jika papa tidak mau nama keluarga kita tercoreng, maka biarkan aku yang merawatnya sendiri. Aku tidak akan meminta bantuan Franky lagi..." ucapan yang terlontar dari mulut Lusi, tampaknya mengundang amarah ayahnya. Ucapannya tertahan ketika ayahnya melayangkan tamparan yang begitu keras pada pipinya.
Ibunya yang berada di sana pun terkejut. Suara tamparan yang terdengar nyaring. Meninggalkan bekas pada pipi mulus wanita itu.
"Anak bodoh. Kau pikir, dengan begitu akan menjaga nama baik kita? Kau sudah memberitahu pria itu tentang kehamilan-mu. Jika kau lari darinya, tanpa meminta tanggungannya, dia akan menduga-duga hal yang lain. Itu akan membernarkan dugaannya bahwa anak itu bukanlah anaknya" ucap ayahnya yang masih terselimuti oleh emosi. Untungnya, sang istri setia di sampingnya. Mengelus-elus lembut punggung suaminya.
"Tenang, pa..." ucap istrinya.
...*...
Di parkiran kampus, Onya berada. Gadis itu sedang menunggu seseorang. Mungkin seseorang yang dimaksud adalah Frans. Namun pria itu belum juga muncul. Dan sedari tadi itu, matanya terarah pada sebuah motor. Bisa saja, ia menunggu pemilik motor itu.
Beberapa detik kemudian, seorang pria dan seorang wanita berjalan beriringan. Ketika kedua mata Onya menangkap kedua insan itu, seketika itu juga, ia langsung menundukkan kepalanya.
Tanpa Onya sadari, Alka terus memperhatikannya. Pria itu menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum tipis. Tanpa berniat menghampiri gadis itu, Alka langsung menaiki motornya. Disusul oleh wanita itu, kemudian memeluknya dengan erat.
Onya melihat itu. Sekilas ia mendongak untuk melihat keberadaan keduanya. Dan matanya tak sengaja berkontak dengan mata Alka. Ia lantas menunduk kembali.
Ketika motor Alka telah meninggalkan tempat itu, barulah Onya bernafas lega. Dia begitu gugup dan malu. Apalagi pria yang masih ia sukai itu berduaan dengan wanita lain. Sungguh, Onya merasa sesak untuk bernafas.
Biarlah! Karena Onya sedang berusaha untuk melupakan pria itu. Masih dalam tahap. Dan belum sepenuhnya ia bisa melupakan semua kenangan mereka.
IO
Onya tersenyum mengingat bintang IO. Namun dengan cepat, ia menggeleng kepalanya.
Onya pun melangkah menuju gerbang kampus. Beberapa menit ia menunggu di sana, akhirnya Frans datang juga. Biasanya Onya akan marah karena pria itu terlambat. Entah kenapa, ia tidak marah. Frans pun merasa heran, lantas bertanya.
"Ada apa?" tanya Frans sambil melirik Onya di sampingnya itu.
"Tidak" jawab Onya seadanya.
Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Sepertinya mood Onya benar-benar buruk saat ini. Dalam perjalanan pulang, ia hanya melihat-lihat pemandangan diluar jendela mobil. Namun melihat arah jalanan yang mereka tujuh berbeda dari arah rumahnya, ia lantas menoleh pada Frans.
"Mau kemana?" tanya Onya dengan datar.
"Pantai" jawab Frans seadanya.
Onya mendesah pelan. Pandangannya kembali terarah diluar jendela. Ia tidak menolak untuk berkunjung ke pantai. Mungkin di sana ia bisa menenangkan dirinya.
Sesampainya mereka disebuah pantai, tempat yang membuat Onya hampir dihukum oleh Frans. Mungkin dulu, tempat itu dipenuhi oleh banyaknya pengunjung. Karena hari itu adalah hari libur. Tapi sekarang, tempat itu terlihat kosong. Hanya ada Onya dan Frans di sana.
Onya keluar dari dalam mobil. Ia berjalan menuju tepi pantai, dan duduk diatas pasir. Begitu juga dengan Frans. Pria itu menyusul Onya, dan ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa sunyi, ya?" tanya Onya sambil menumpu dagunya dengan salah satu tangan. Walau tatapannya terarah pada lautan bebas itu, tapi otaknya bebas berkeliaran.
"Yeah, hari ini bukan hari libur" ucap Frans. Berbeda dari Onya, pria itu malah setia menatap Onya. Sesekali ia tersenyum. Dan hal itu disadari oleh Onya.
Onya menoleh kearahnya. Dan menatap pria itu dengan intens. "Apa kau sudah bicara pada kedua orangtuamu?" tanya Onya.
"Apa?" tanya Frans sambil menarik salah satu alisnya keatas.
Onya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia memainkan pasir dengan tangannya sambil menjawab pertanyaan Frans. "Mengenai perjodohan kita. Kalau kita sama-sama tidak ingin perjodohan ini berlanjut" ucap Onya.
"Belum" jawab Frans dengan singkat.
"Secepatnya, Frans. Kau harus segera mengatakannya pada mereka. Dan jangan lupa untuk mengatakannya pada mamaku juga" ucap Onya.