A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KELAPARAN KARENA DIKURUNG



Didalam kamarnya Frans, Onya berjalan mondar-mandir. Beberapa kali ia menghubungi Frans, namun ponsel pria itu tidak aktif. Onya betul-betul geram dengan kelakuan pria itu. Mungkin ia bisa terima kalau pria itu kembali mengurungnya. Walau kali ini dengan alasan yang tidak masuk akal. Tapi Onya tidak habis pikir, karena pria itu mengurungnya tanpa makanan.


Sudah beberapa jam telah berlalu. Onya belum makan, dan benar-benar merasa lapar. Onya mencoba untuk menghubungi ibu dan ayahnya, namun ponsel kedua orangtuanya pun sibuk.


Onya terduduk dibawah kaki tempat tidur. Ia menangis sambil mengusap perutnya yang lapar. "Frans!" teriaknya sambil terisak-isak.


Sementara yang ditunggu, sedang berada di bar. Siang-siang bolong, Frans berkunjung ke bar hanya untuk menenangkan pikirannya.


Tentu Frans tidak sendiri. Ternyata di sampingnya, Franky berada. Kedua pria itu duduk dengan segelas minuman. Tidak ada perbincangan sama sekali. Keduanya masih terjaga dengan pikiran masing-masing.


"Jadi, bagaimana dengan Lusi?" tanya Frans, memecah keheningan diantara keduanya.


"Apa yang kau ketahui tentangnya?" bukannya menjawab, Franky balik bertanya.


Frans terkekeh. "Tidak banyak" jawab Frans, seadanya. Ia meneguk segelas minuman, dan kembali mengisinya hingga penuh.


"Aku yakin, anak yang ia kandung bukanlah anakku" ucap Franky.


Frans lantas berbalik, dan menatapnya dengan tajam. "Lalu, menurutmu siapa yang bertanggungjawab?" tanya Frans. Mengingat ucapan Onya tadi membuatnya was-was. Apalagi Franky tidak ingin mengakui janin yang dikandung oleh Lusi. Dia yakin, masalah Lusi dan Franky akan melibatkannya. Walau Frans tahu, anak yang dikandung oleh Lusi tidak berhubungan dengannya. Namun bisa saja kalau Onya membuka suara, dan terjadilah salah paham besar.


"Kau mengenalnya. Dan aku ingin bertanya padamu, apakah wanita itu wanita baik-baik? Saat berhubungan dengannya, aku yakin kalau dia bukanlah wanita yang baik" ucap Franky.


"Jangan menilai dari perawan atau tidaknya, kak. Lusi memang wanita yang suka berhubungan diluar nikah, tapi aku yakin kalau dia tidak akan berhubungan dengan orang lain, kecuali kekasihnya" ucap Frans.


Ucapan Frans sepantasnya dicurigai. Namun sepertinya Franky tidak curiga. Karena ia memiliki penilaian lain tentang ucapan Frans.


Saat Franky ingin meneguk minumannya, ponselnya mendadak berdering. Franky mengernyit melihat nama yang menghubunginya. Franky pun menerima panggilan telepon tersebut. Belum sempat ia menyapa, suara disebrang sana lebih dulu bicara.


"Kak Franky. Kak, bantu Onya. Onya lapar, tapi Frans mengurung Onya di kamarnya, kak" Franky terkejut mendengar suara tangisan Onya. Ia sontak membulatkan kedua matanya, kemudian menatap tajam ke arah Frans.


"Onya, kau baik-baik saja?" tanya Franky, dengan cemas. Sontak, Frans yang berada di sampingnya tersedak minuman. Ia langsung teringat pada Onya yang ia kurung di kamarnya.


"Onya?" lirih Frans, ia langsung merebut ponsel Franky dan berlari keluar dari bar tersebut.


"Onya, aku dalam perjalanan pulang" ucap Frans, tanpa peduli dengan pemilik ponselnya, ia langsung melempar ponsel tersebut ke belakangnya.


"Frans!" geram Franky. Tadi ketika Frans merebut ponselnya, dan berlari begitu saja, Franky sontak mengikutinya.


Dan ponselnya dibuang begitu saja oleh Frans. Franky tentu marah. Bukan hanya karena ponselnya, Franky lebih marah karena Frans berani mengurung Onya.


Sesampainya Frans di parkiran, belakang kepalnya langsung ditampar oleh Franky. Pria itu meringis sambil mengusap belakang kepalanya. Frans pun berbalik dengan niatnya membalas orang itu, namun mengetahui Franky yang melakukannya membuatnya enggan membalas.


"Apa yang kau lakukan, kak?" tanya Frans, dengan nada membentak. Ia ikut geram, karena ingin terburu-buru, namun kakak laki-lakinya itu menghalanginya.


"Apa yang kau lakukan pada Onya?" tanya Franky.


"Tidak untuk sekarang. Aku harus cepat pulang" ucap Frans. Tanpa peduli lagi, ia bergegas masuk kedalam mobilnya.


Franky berniat menghajar adiknya itu, namun harus diurungkan. Onya lebih membutuhkan Frans sekarang, walau dialah penyebab masalahnya.


Sesampainya Frans disebuah restoran, ia memesan makanan. Setelah itu, buru-buru ia kembali. Ia melajukan mobilnya hingga tiba di gedung apartemennya.


Usai memarkirkan mobilnya, Frans bergegas masuk kedalam apartemennya. Dengan perasaan campur aduk, Frans membuka pintu kamarnya. Awalnya ia mengintip, dilihatnya Onya sedang tidur diatas tempat tidurnya.


Frans bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintunya dengan perlahan, agar tidak mengganggu tidurnya Onya. Namun sepertinya Onya tidak bisa diajak berkompromi. Gadis itu langsung terbangun, hanya karena mendengar suara langkah kaki seseorang.


Frans terpaku ditempat kala ia melihat wajah pilu gadis itu. "Kau kemana saja?" tanya Onya setengah berteriak. Ia kembali menangis, dan kali ini terdengar keras.


Frans segera menghampirinya diatas tempat tidur, kemudian memeluknya dengan erat. "Maaf" ucap Frans.


Sementara Onya yang kesusahan bernafas, lantas berusaha untuk melepas pelukan pria itu. Namun bukannya dilepas, Frans semakin memeluknya dengan erat.


"Aku tidak bisa bernafas" ucap Onya, dengan suara tercekat. Ia memukul-mukul pinggang pria itu, kemudian mencubitnya. Dan akhirnya Frans melepas pelukannya.


"Maaf. Jangan menangis lagi. Aku sudah bawa makanan untukmu, bodoh" ucap Frans sambil meletakan bungkusan makanan itu diatas paha Onya yang polos.


Ingin sekali Onya menyumpahi pria itu dengan nama-nama binatang. Namun dia urungkan. Dia tidak mau dihukum lagi. Dan ia juga sudah lapar.


Onya menganggukkan kepalanya, dan membuka bungkusan makanan tersebut. "Fish fillet?" tanya Onya sambil mengernyit keningnya.


"Iya, aku terburu-buru jadi hanya bisa membelikan itu" ucap Frans, tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Kau tahu, aku sudah hampir mati karena lapar. Hanya karena kebodohanmu. Dan kau hanya membawa ini?" tanya Onya sambil mengarahkan dua fish fillet itu pada Frans.


"Yeah, setelah itu aku akan membuatkan mu makanan yang enak-enak" ucap Frans dengan memelas.


Mulut lancang Onya kembali berulah. Ia tidak berhenti mengatai Frans. Pria itu sudah mulai malas mendengar suara Onya, lantas ia bergegas keluar dari kamar itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Onya.


"Cepat habiskan makanannya. Setelah itu, aku akan membuatkan-mu makanan lain" ucap Frans setengah berteriak.


Onya buru-buru menghabiskan dua fish fillet, dan bergegas turun dari atas tempat tidur. Ia keluar kamar dan mengikuti Frans. Sesampainya mereka di dapur, Onya duduk pada bangku dan memperhatikan Frans yang mulai memasak.


"Kau sudah selesai makan?" tanya Frans.


Onya lantas menganggukkan kepalanya.


"Mau membantu?" tanya Frans. Ia hanya alasan bertanya, karena ia tahu, gadis itu tidak akan pernah membantunya di dapur.


Onya lantas menggelengkan kepalanya.


"Cepatlah belajar memasak. Jika tidak, mau jadi apa setelah menikah nanti?" ucap Frans.


Onya lantas mengernyit tak suka. Ia tidak suka dengan perkataan Frans. "Bukan urusanmu" ucap Onya dengan ketus. Ia tidak begitu mempedulikan ucapan Frans, dan bergegas turun dari atas bangku. Onya lantas berjalan menuju ruang tamu, dan duduk nonton televisi di sana.


Sementara Frans, pria itu hanya menyunggingkan senyumannya. Ucapannya tadi penuh makna. Bukan hanya membicarakan tentang masa depan Onya, tapi mengenai masa depan mereka berdua.