
Sekali lagi Onya ingin membuktikan kehamilannya. Tanpa sepengetahuan Frans, ia yang sedikit diberi kebebasan lantas menuju rumah sakit.
Onya sudah tidak terkejut lagi saat dinyatakan hamil. Ia hanya terkejut mengetahui usia kehamilannya sudah menginjak 1 bulan, kata dokter. Artinya saat ia dan Frans berhubungan pertama kali sudah membuahkan hasil. Sungguh luar biasa, benih dari keluarga Eisten dan Wiranta sangatlah unggul.
"Biasanya ibu hamil akan merasa mual-mual diusia kandungan 1-9 Minggu" ucap dokter saat Onya menanyakan kondisinya kemarin.
Onya tersentuh melihat sebuah gambar hitam putih yang diberikan dokter padanya. Sepanjang perjalanan pulang ia tersenyum menatap benda itu.
Onya sudah tidak sabar memberitahu Frans. Namun entah kenapa, ia merasa terdorong untuk mengunjungi pengacara keluarga Eisten yang diberitahu Frans padanya semalam.
Kebetulan yang mengantar Onya adalah supir dari rumah keluarga Eisten. Pasti supir itu tahu kemana ia harus mengantar Onya. Dan benar saja, saat Onya memberitahu bahwa ia ingin berkunjung ke rumah atau kantor pengacara khusus keluarga Eisten, supir itu langsung membawanya tanpa tahu apa-apa.
Sesampainya ia di sebuah kantor, lebih tepatnya perusahaan yang begitu menjulang tinggi, Onya langsung bergegas masuk kedalam sana.
Ia belum membuat janji dengan pengacara itu, mau tidak mau ia harus menunggu di ruang tunggu.
Beberapa saat menunggu, dilihatnya seorang pria yang seumuran orangtuanya datang menghampirinya.
"Nyonya muda Eisten?" tanya pengacara itu.
"Iya, benar" jawab Onya sambil berjabat tangan dengan pengacara itu.
"Panggil saja Pak Henry" ucap pengacara bernama Henry itu. "Saya tidak menyangka anda ingin bertemu saya secara dadakan. Tuan besar dan Tuan muda tidak memberitahu saya soal kedatangan saya, jadi mohon maaf sudah membuat anda menunggu" sambung pria itu dengan penuh hormat.
"Ah, tidak apa-apa, Pak Henry. Memang saya berniat mendatangi anda tanpa sepengetahuan mereka" ucap Onya.
"Ohya, jadi ada yang perlu saya bantu?" tanya Tuan Henry.
"Saya hanya ingin menyerahkan ini" ucap Onya sambil menyodorkan sebuah map pada pria itu. "Ini soal kontrak nikah saya dan Frans. Saya berniat menambah beberapa poin penting sebagai syarat kontrak nikah kami, dan..." Onya berpikir sejenak. Ia melupakan sesuatu dikarenakan ekspresi pengacara Henry yang tiba-tiba berubah mengganggu konsentrasinya.
"... dan saya ingin menambah jangkau waktu kontrak nikah kami. Eh mungkin dihapus saja kalau bisa, jadi kontrak nikahnya akan berakhir kalau diantara kami ingin mengakhirinya" sambung Onya kemudian.
Pengacara Henry tak berkutik mendengar penuturan wanita itu. Apa wanita itu sedang bercanda? Pengacara Henry telah membuang banyak waktunya untuk membahas hal yang tidak jelas ini.
"Bagaimana pak Henry?" tanya Onya.
Pengacara Henry mengeluarkan nafas beratnya. Ia tidak tahu harus mau mulai darimana. Karena kalau dilihat sepertinya wanita itu tidak sedang bercanda. Dan sepertinya wanita itu sedang dibohongi, atau apa...?
"Maaf sebelumnya Nyonya muda. Sebenarnya saya tidak tahu maksud anda. Mengenai kontrak nikah anda dan Tuan muda mungkin ditangani oleh orang lain, bukan saya" ucap pengacara Henry membuat Onya tertegun. Wajahnya mulai merona dengan sendirinya, ia sedang menahan malu.
"Tapi anda pak Henry. Kata Frans, anda yang menangani kontrak nikah kami" ucap Onya.
"Setahu saya, pernikahan anda dan Tuan muda sah dan tidak ada kontrak apapun. Atau mungkin saya salah, tapi lebih ke arah pasti kalau kontrak nikah itu tidak ada. Karena semua keluarga Eisten, termasuk Tuan muda tidak pernah berhubungan dengan kuasa hukum diluar perusahaan kami" ucap pengacara Henry.
"Jadi maksudnya saya ditipu sama Frans, gitu?" tanya Onya.
"Bisa seperti itu" ucap pengacara Henry.
...*...
Onya merasa dibohongi oleh Frans. Sepanjang ia bertemu Frans, wanita itu mendiaminya. Seperti yang terjadi saat ini. Frans yang merasa gemas langsung membopong wanita itu menuju kamar mereka.
Frans membaringkan tubuh wanita itu di kasur. Melihat pria itu mulai membuka kancing kemejanya membuat Onya semakin muak. Acuh tak acuh Onya masuk kedalam selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
Frans yang tertawa kecil. Tidak mungkin wanita itu hanya menggunakan kain tebal itu untuk berlindung. Ia menyusul kedalam kain dan hendak menerkam wanita itu.
"Frans, aku tidak ingin sekarang" ucap Onya dengan datar kala pria itu sudah menindihnya dibawah sana.
"Sekali saja. Tidak lama" ucap Frans seraya meremas pinggang wanita itu. Namun dengan kasar Onya memukul lengannya dan berbaring menyamping pria itu.
"Aku masih tidak enak badan jadi jangan paksa aku" ucap Onya.
Melihat wajah wanita itu tanpa ekspresi membuat Frans mengernyit bingung.
"Apa yang masih sakit?" tanya Frans dengan putus asa. Ia terpaksa mengalah dan ikut berbaring dibelakang Onya.
"Onya?" panggil Frans sekali lagi, namun ternyata Onya sudah tertidur. Frans geleng-geleng kepala menyaksikannya. Ia pun memejamkan kedua matanya, berharap bisa menyusul wanita itu di alam mimpi.
Frans pikir, besok Onya akan membaik seperti semula. Nyatanya tidak, wanita itu justru semakin tak bersahabat. Onya tidak bisa ditahan seperti sebelumnya. Wanita itu bahkan berani keluar rumah tanpa pamit padanya.
Frans hendak menyusul Onya. Namun saat ia akan keluar rumah, ayahnya menahannya.
"Frans, mau kemana?" tanya Tuan Eisten.
"Mau menyusul Onya, pa" jawab Frans.
"Papa ingin bicara dulu sama kamu" ucap Tuan Eisten.
"Nanti saja, pa" ucap Frans buru-buru keluar rumah, namun mendengar ucapan ayahnya kali ini membuat langkah kakinya berhenti.
"Ada yang ingin papa bicara tentang Onya. Kemarin dia datang menemui pengacara Henry" ucapan Tuan Eisten membuat Frans tertegun.
"****" umpat Frans dalam hati kala menyadari sikap Onya sedari kemarin padanya. Mungkin inilah penyebabnya.
Kini Tuan Eisten dan Frans duduk berbincang di halaman belakang. Frans benar-benar kalang kabur karena ayahnya telah mengetahui persoalan kontrak nikah mereka.
Sementara Onya ternyata hanya keluar rumah sebentar. Entah kemana hingga bisa kembali secepat itu. Ditangannya ada sebuah map yang dipegang begitu hati-hati.
Wanita itu mencari Frans kemana-mana. Mengetahui pria itu berada di halaman belakang, ia lantas bergegas ke sana. Langkah kaki Onya yang memburu mulai melambat saat suara Frans dan Tuan Eisten terdengar jelas.
"Apa maksud kalian dengan kontrak nikah itu?" tanya Tuan Eisten.
"Frans kan sudah bilang, tidak ada kontrak nikah. Frans nanya membohongi Onya, karena dengan begitu dia mau menikah dengan Frans, pa" ucap Frans membuat Onya yang mendengarnya ternganga tak percaya.
Ternyata benar, pria itu membohonginya.
"Berarti dia berpikir kalau saat ini kalian hanya nikah kontrak yang sewaktu-waktu akan bercerai dikemudian hari?" tanya Tuan Eisten lagi.
"Frans tidak akan menceraikan Onya, pa. Frans hanya butuh waktu untuk buat dia terikat dengan Frans" ucap Frans lagi.
Onya semakin melebarkan mulutnya saat terang-terangan dia mendengar kejujuran dari pria itu. Sungguh Frans membuatnya seperti orang bodoh. Onya benar-benar naik pitam saat menyadari hal mengejutkan ini.