
Lima bulan kemudian. Frans benar-benar mengurung Onya di vila selama itu.
Tak terasa usia kandungan Onya sudah menginjak enam bulan. Tentu tak terasa, karena kesehariannya hanya makan, tidur, jalan-jalan dan seterusnya.
Sayang hubungan Onya dan Frans semakin memburuk. Frans tidak banyak bicara dengan wanita itu. Ia semakin bersikap dingin.
Mereka tidak pernah tidur bersama lagi. Jangankan tidur, untuk bertemu saja cuma tiga kali sehari. Itupun karena Frans ingin memastikannya untuk makan.
Seperti saat ini. Saat akan makan siang, Frans membawakannya beberapa makanan bergizi. Pria itu hanya menontonnya makan tanpa memulai obrolan.
Jujur Onya tersiksa dengan sikapnya sekarang. Biasanya saat hubungan mereka renggang, Frans yang lebih dulu memperbaiki. Namun kali ini Onya terpaksa untuk mulai lebih dulu.
Sudah berulang kali Onya mengajaknya mengobrol. Namun apalah daya, jawaban pria itu tetap sama.
"Fokus saja dengan kehamilan-mu" itulah kalimat yang berulang kali Onya dengar. Mungkin Frans sudah menghafalnya.
Onya memperhatikan gerak-gerik Frans yang menyediakan makanannya kesebuah mangkuk. Pria itu memberi mangkuk itu padanya dan ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Onya.
Diam-diam Frans tersenyum melihat Onya memakan makanan itu dengan lahap. Melihat perut buncit wanita itu membuatnya tersenyum.
Namun saat Onya berhenti makan dan mendogak menatapnya, raut wajah Frans kembali berubah datar.
"Aku ingin bicara padamu..."
"Sudah berulang kali aku bilang, fokus saja..." Frans memotong ucapan Onya barusan.
"Please, Frans" Onya tidak peduli pria itu mau mendengarnya atau tidak. Dia perlu didengar. Dia tersiksa karena hidup selama lima bulan tanpa interaksi dengan orang lain. Komunikasi yang buruk dengan Frans semakin membebaninya.
"Aku benar-benar stres di sini. Kau tidak mau anak ini kenapa-kenapa, kan? Jadi tolong dengarkan aku sekali ini saja" ucap Onya dengan suara yang terdengar bergetar.
"Katakan" ucap Frans dengan datar.
"Aku butuh interaksi dengan orang lain" ucap Onya dengan suara yang tercekat.
Frans terkekeh seakan mengejek wanita didepannya itu. "Memangnya selama ini kau tidak berinteraksi dengan siapapun? Lihat sekarang, kita sedang berinteraksi" ucap Frans yang terheran-heran dengan wanita itu. Ada saja alasan yang dibuat-buat.
Onya memalingkan wajahnya ke samping. Enggan menatap pria didepannya itu. Dirasanya pria itu semakin tak berperasaan.
"Dan bukankah kau senang karena aku membebaskanmu mengelilingi vila ini?" Tanya Frans lagi. Setengah mengejek dengan nada suaranya.
Onya muak dengan pria itu. Dia juga muak dengan dirinya sendiri. Sekuat tenaga ia menahan tangisannya supaya tidak pecah.
"Tapi kamu selalu mengacuhkan aku" ucap Onya.
Frans dengan jelas melihat bibirnya yang bergetar. Namun pria itu tak bergeming sama sekali. Ia tetap fokus menatap dan mendengar wanita itu.
"Setidaknya jangan biarkan aku jalan-jalan sendiri, dan... temani aku tidur" ucap Onya tanpa menatap pria itu. Dia malu karena menangisi hal sepele itu. Air matanya sudah bercucuran, dan tenggorokannya sakit karena menahan ledakan tangisnya.
Inilah yang ia tahan selama ini. Dia merasa terbiasa, hingga tersiksa saat tidak ditemani tidur oleh pria itu.
Entah karena keinginannya atau karena anaknya yang menginginkan semua itu. Onya tidak peduli, yang penting semua yang terpendam bisa didengarkan oleh pria itu. Dengan harapan pria itu bisa mewujudkannya.
Suara tangis Onya sontak pecah kala menyadari pria itu tetap bergeming di tempatnya.
Melihat wanita itu menangis histeris membuat Frans terganggu. Pria itu mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menangis, kau bisa mengganggu anak kita" ucap Frans.
"Bahaya, Onya. Jangan menangis. Setelah ini aku akan mengajakmu jalan-jalan" ucapnya lagi berusaha menenangkan wanita itu. Jelas pria itu takut terjadi apa-apa dengan anaknya didalam sana.
"Bawa aku pulang ya. Aku ingin bertemu mama" ucap Onya dengan sesegukan.
"Perutku sakit" ucap Onya tiba-tiba sambil terbatuk-batuk karena menangis terlalu lama.
Frans jelas ketakutan. Ia melepas pelukannya dan hendak meraih ponselnya untuk menelpon dokter, namun Onya yang paham langsung menahan tangannya.
Dilihatnya wanita itu menggeleng-geleng kepalanya. Tanda ia tidak setuju.
"Tidak apa-apa. Perutku tidak sakit lagi" ucap Onya yang sudah mulai tenang. Namun ia masih mengeluarkan suara sesegukan kecilnya.
Frans tidak heran lagi dengan sikapnya. Ini bukan kali pertama Frans akan menghubungi dokter. Pernah beberapa kali dokter datang untuk memeriksa keadaan wanita itu.
Frans pun tahu dari pernyataan dokter sendiri kalau mood seorang wanita hamil sering berubah-ubah. Jadi tidak heran kalau Onya tadinya menangis sekarang bisa mengontrol tangisannya.
"Tapi tadi perutmu sakit" ucap Frans.
"Tidak lagi. Anakmu hanya butuh perhatian kamu. Aku akan sehat lagi kalau kau perhatian padaku" ucap Onya sambil merapat pada pria itu dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
Frans terkekeh melihat perubahan aneh dari wanita itu. Kali ini Onya terlihat lebih manja darinya.
Onya yang biasanya menjunjung harga dirinya sudah tidak peduli lagi dengan itu. Sekarang ia mau bermanja-manja pada pria itu.
"Anak nakal" ucap Onya dengan lirih. Ia malah menyalakan anaknya sendiri.
Tanpa sadar ucapannya barusan didengar oleh Frans. Pria itu terkekeh mendengarnya.
"Aku ingin tidur siang. Bawa aku ketempat tidur dan temani aku tidur" ucap Onya dengan suara manjanya, namun terkesan memerintah.
"Baiklah, itu permintaanmu" ucap Frans dengan semangat ia mengangkat tubuh wanita itu ala bridal menuju tempat tidur.
"Aku belum pernah mengunjungi anak kita. Karena mamanya memberi lampu hijau jadi mama tidak boleh melarang papa mengunjungi anak papa ya" ucap Frans sambil membaringkan tubuh mungil itu keatas ranjang.
Melihat wanita itu memejamkan matanya dengan erat membuat Frans gemas sendiri. Tanpa permisi Frans menarik dres panjang Onya hingga keatas perut wanita itu. Dilihatnya kain tipis yang membungkus bunga berharga wanita itu. Dengan hati-hati ia membuka kain tipis itu. Tempaklah bunga yang selama lima bulan ini tidak pernah ia kunjungi.
Tanpa merasa jijik sama sekali pria itu mencium bunga itu dengan lembut. Onya yang sadar sontak membulatkan kedua matanya dan kedua tangannya langsung menutupi bunga kebanggaannya itu.
"Bodoh kau, Frans. Aku lagi hamil, jangan seperti itu" ucap Onya memprotes.
Frans menepis tangan wanita itu. Tidak peduli tatapan garangnya, Frans buru-buru membuka celananya dan memposisikan tubuhnya diantara paha mulus yang terbuka itu.
"Em..." Onya menahan desahannya saat kepunyaan Frans berhasil memasukinya.
Frans mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan. Mengingat peringatan dokter kalau mereka bisa berhubungan suami-istri, namun harus tetap hati-hati.