A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
MASALAH FRANKY



Franky menjadi syok kala mendengar ucapan Lusi. Tadi ia menolak tawaran Lusi untuk berkunjung ke danau, tempat terakhir kali mereka bertemu. Dan entah menyapa Lusi sangat kesal padanya sehingga wanita itu tak bisa mengontrol emosinya untuk memberitahukan masalah yang sedang ia hadapi pada pria itu.


"Aku sedang hamil anakmu, kenapa kau tidak bisa menurut sedikit?" bentak Lusi dengan nada kesalnya. Sontak saja Franky mengerem mobilnya secara mendadak. Untungnya Lusi menggunakan sabuk pengaman, jadi tubuhnya tidak terkena benturan.


"Kak Franky, kau hampir membunuh anak kita" ucap Lusi sambil memeluk perutnya kala mobil itu sudah terparkir di samping jalan.


Sementara Franky langsung menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Apa yang kau bicarakan, Lusi?" Franky balik membentak Lusi.


"A-aku sedang mengandung anakmu, kak. Kenapa kau membentak-ku seperti itu?" tak mau kalah, Lusi kembali membentak pria itu.


"Jangan asal bicara... atau, atau kau tidak meminum pil KB waktu itu?" tuduh Franky. Ia hanya syok hingga tak bisa mengontrol emosinya. Franky benar-benar kacau mengetahui perbuatannya bisa menghadirkan sebuah kehidupan didalam sana.


Tidak, dia belum bisa mempercayai ucapan wanita itu.


"Aku meminumnya, kak. Tapi aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku hamil walau sudah meminumnya" terang Lusi. Cara bicaranya menunjukkan bahwa ia tidak berbohong. Ia benar-benar jujur ketika mengatakan semuanya pada Franky.


"Kau benar-benar meminumnya, Lusi?" tanya Franky lagi, pria itu ingin memastikan kalau ucapan Lusi benar adanya.


"Iya, kak" jawab Lusi seraya mengangguk pasti, dan hal itu mampu membuat Franky merasa lega. Namun wanita itu menatap heran atas respon Franky. Tadinya pria itu terlihat syok, namun ia kembali tersenyum pada detik ini. Dan Lusi menganggap kalau Franky sedang bahagia mendengar kabar tersebut. Itu artinya, Franky pasti akan bertanggungjawab atasnya.


"Jadi bagiamana, kak?" tanya Lusi.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Untuk apa kau memberitahukannya padaku? Seharusnya kau bicarakan hal itu pada ayah biologisnya" ucap Franky.


"Maksud kakak?" tanya Lusi sambil mengernyit kebingungan.


"Kau bilang kalau waktu kita melakukan itu, kau minum pil KB. Jadi itu bukan anakku, Lusi. Dengan siapa kau berhubungan selain denganku waktu itu?" tanya Franky dengan tenang. Sementara Lusi menjadi ternganga mendengar penuturannya tersebut.


"Maksudmu apa, kak? Kau menuduhku selingkuh begitu? Dan kau tidak percaya kalau ini anakmu?" Lusi seakan tidak percaya dengan jalan pikiran Franky. Ayolah, ucapan Franky lebih masuk akal darinya.


Franky terkekeh mendengar pertanyaan yang dilayangkan Lusi padanya. Apa kurang jelas? Wanita itu sudah mengakui bahwa ia memang meminum pil KB tersebut. Jadi apa ucapannya harus dibenarkan kalau anak yang dikandungnya adalah anak Franky?


"Jangan menjebak-ku, Lusi. Aku akan sangat murka jika anak itu bukan anakku, dan kau membuatnya seolah-olah anak itu adalah anakku" ucap Franky dengan sinis-nya, pria itu menatap Lusi.


"Ini memang anakmu, kak. Kau... kalau kau tidak percaya, maka lakukan tes DNA sekarang juga" ucap Lusi.


Walaupun Franky kekeh dengan jawabannya bahwa anak yang dikandung Lusi bukanlah anaknya, tapi ada keraguan didalam sana. Melihat perut Lusi yang masih rata membuatnya ragu. Sepertinya ia merasa iba pada wanita itu.


"Yeah, mungkin kita akan melakukan tes DNS. Besok aku akan menjemputmu ke rumah sakit" ucap Franky.


Lebih baik melakukan tes terlebih dahulu. Jika ia tidak mengakui janin didalam sana sebagai miliknya, itu akan memperburuk keadaan apabila itu benar-benar anaknya. Begitulah yang dipikirkan oleh Franky, pria itu tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.


...*...


Keesokan harinya...


Seorang wanita terlihat waspada disekitaran trotoar. Dengan menggunakan masker, ia menutup dirinya. Ia terus memperhatikan trotoar disebrang jalan, dimana halte bus berada. Merasa tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan membuat wanita itu memberanikan dirinya untuk menyebrang.


Sesampainya ia di halte, wanita itu duduk ditempat yang ada di sana. Ketika merasa aman, wanita itu kembali membuka maskernya. Namun sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya membuat wanita itu buru-buru memasang maskernya kembali.


Wanita itu menjadi was-was ketika melihat empat pria berbadan kekar turun dari sana. Dari penampilan mereka, ia bisa menilai bahwa mereka bukanlah sembarangan orang. Keempat pria itu menggunakan seragam dengan aksesoris kacamata yang serba hitam.


Dan betapa canggungnya ia ketika melihat keempat pria itu mendekatinya...


"Permisi, Nona. Apa anda bisa membantu kami?" tanya salah satu diantara mereka.


"Maaf, saya sedang buru-buru" jawab wanita itu dengan tak acuh. Ia sudah sangat ketakutan pada keempat pria itu. Apalagi bus yang ia tunggu belum juga lewat. Dan akan lebih baik jika dia segera menghindar. Namun baru saja ia berdiri, keempat pria itu malah menghadangnya.


"Apa yang kalian lakukan? Aku akan berteriak jika kalian nekat" ucap wanita itu dengan berani dia mendorong salah satu yang menghalangi jalannya. Namun sepertinya pria itu sangat kuat sehingga dorongan wanita itu tidak membuat tubuhnya bergerak sama sekali.


Dengan sangat lancang, pria yang didorong oleh wanita itu langsung melepas masker yang menutupi wajahnya. "Sebaiknya Nona mengikuti kami" ucap mereka. Dan dengan penuh keberaniannya, wanita itu langsung menampar pria itu.


"Jangan lancang" ucap wanita itu sambil menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya. Dia ingin menghindar, namun tangannya dicekal oleh mereka. Belum sempat ia berteriak, mereka lebih dulu membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan.


Ditempat lain...


Franky yang baru saja selesai dengan urusan kantornya berniat untuk menjemput Lusi. Seperti perjanjian kemarin, mereka akan melakukan tes DNA di rumah sakit. Namun dalam perjalanan ia mendapatkan sebuah pesan yang sangat menggemparkan. Entah apa isi pesan tersebut, namun raut wajah Franky terlihat panik hingga membuatnya lupa dengan tujuan awalnya.


Franky berputar arah. Pria itu melajukan mobilnya dengan memasang ekspresi yang sulit diartikan. Hanya karena sebuah pesan, ia benar-benar lupa diri. Bahkan ia tidak peduli pada rambu lalu lintas yang berwarna merah. Ia melewati persimpangan jalan tersebut dengan kecepatan tinggi, hingga sebuah mobil dari arah berlawanan meleset hampir menabraknya. Untung saja mereka menghindari, jika tidak, mungkin saja akan terjadi kecelakaan hebat di sana.


Sementara Lusi yang sedang menunggu Franky menjadi bosan ditempatnya. Wanita itu sudah menunggu beberapa menit lamanya. Namun tidak ada tanda-tanda pria itu akan datang. Ia kembali mengotak-atik ponselnya dan membuat panggilan telepon pada Franky, namun pria itu tidak menjawabnya.


"Franky, kenapa lama sekali" gumam Lusi. Wanita itu sudah lama menunggu dimuka rumahnya, mau tidak mau ia harus kembali masuk kedalam sana.


"Kakak dan adik sama saja" gerutu Lusi. Wanita itu benar-benar marah, karena Franky tidak menepati janjinya.


Lusi kembali meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat pada Franky. Kalau tidak berniat datang, jangan janji. Dan betapa kesalnya Lusi saat melihat pesan yang ia kirim pada Franky hanya centang satu.


Ayo, jangan lupa mampir ke sini πŸ€­πŸ‘