A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
PERNIKAHAN



Hari demi hari telah berlalu, kini hubungan Frans dan Onya sudah membaik. Atas nama persahabatan, tanpa merasa curiga sama sekali pada Frans, Onya setuju membantunya menjalankan sandiwara pernikahan mereka.


Satu bulan, sesuai harapan keluarga besar, kini Onya dan Frans akan menggelar upacara pernikahan mereka bersama Lusi dan Franky. Seharian itu Frans dan Franky tidak diizinkan untuk menemui calon istri mereka. Franky berlagak santai, tidak peduli mau bertemu atau tidaknya dengan Lusi. Sementara Frans malah tidak sabar melihat penampilan sesungguhnya Onya.


Di sebuah gedung, tempat berlangsungnya upacara pernikahan, semua keluarga dan kerabat telah berkumpul. Begitu juga Frans dan Franky yang masih menunggu dibelakang altar. Franky yang bersandar di dinding terus memperhatikan sang adik yang terlihat begitu gugup.


"Santai, Frans" Franky terkekeh sambil geleng-geleng kepala mengucapkannya.


Frans menghembuskan nafas beratnya. Ia hendak merapihkan penampilannya, tiba-tiba Franky menepuk lengannya.


"Sepertinya pengantin kita sudah tiba" ucap Franky sambil memberi isyarat menggunakan kedua matanya. Frans yang mengikuti gerakan mata Franky melihat seorang pengawal yang sudah berada di ambang pintu.


"Kedua calon pengantin sudah siap di tempat, Tuan" ucap pengawal tersebut.


Frans dan Franky pun mengikuti arahan pengawal itu. Kini mereka telah mengambil tempat diatas altar. Mungkin bagi mereka yang melihat kedua pria tampan dan gagah itu sangat percaya diri. Nyatanya jantung Frans sudah berantakan. Begitu juga dengan Franky kala matanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang hadir sebagai tamu undangan. Hei, mereka yang menyaksikan upacara pernikahan adalah keluarga dan kerabat. Sementara para tamu undangan akan menyusul di acara pernikahan. Kenapa wanita itu ada di sana?


Franky mulai goyah. Pandangannya berputar ke setiap sudut ruangan untuk menyadarkan dirinya. Jika saja dia tidak melihat keberadaan kedua orangtuanya yang terlihat begitu bahagia, mungkin ia sudah berulah seperti orang gila.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa dia akan membiarkan wanita itu menyaksikan pernikahannya dengan wanita lain?


Frans pun sadar dengan perubahan sang kakak. Sengaja ia mengikuti arah tatapan sang kakak, dan betapa kagetnya Frans melihat wanita itu.


Mona? Frans hanya berani membatin.


Dan lihatlah wanita itu, ia duduk manis diantara keluarga dan kerabat mereka. Tatapan wanita itu juga mengarah pada Franky, tapi dia masih berani tersenyum pada pria itu.


"Ini bukan hanya pernikahanmu, kak. Jangan mempersulit pernikahan ku dengan Onya" ucap Frans dengan lirih. Untungnya posisi mereka tidak begitu jauh, jadi Frans tidak kesulitan untuk memperingati sang kakak.


Franky tak berkutik sama sekali. Bibirnya benar-benar kaku. Dan pandangannya masih terpaku pada wanita itu. Tatapannya benar-benar sulit dijelaskan. Ingin sekali Franky mengunci tatapan mereka, namun sepertinya wanita itu tidak kuat untuk bertatapan dengannya. Hanya sekilas, wanita itu berani tersenyum, dan berpaling untuk melihat ke arah pintu dimana calon pengantin telah berjaga.


Suasana ruangan itu mendadak hening kala lantunan piano dengan seorang penyanyi membawakan lagu I belong to you mulai terdengar. Pintu ruangan itu terbuka memancarkan silau matahari. Tampak seorang wanita cantik yang setia dirangkul sang ayah. Keduanya melangkah pelan sambil menikmati lantunan piano yang begitu tenang.


Dibelakang mereka, satu orang gadis yang tak kalah cantik ikut menyusul bersama sang ayah. Sayangnya ia tidak terlihat oleh sang pengantin pria karena terhalau pengantin satunya di depannya.


Sesampainya mereka diatas altar, masing-masing pengantin langsung berdampingan dengan pasangannya. Franky dan Lusi, Frans dan Onya. Keempat manusia dengan perasaan yang berbeda-beda. Franky ragu, Lusi yang merasa kosong, Frans yang bersemangat tertutup rasa gugup, dan Onya yang acuh tak acuh. Pernikahan serasa permainan oleh mereka.


"Franky Eisten, apakah engkau bersedia menerima Lusi Bliss sebagai istrimu?" tanya seorang pemimpin upacara pernikahan itu.


Lima detik Franky tak kunjung menjawab. "Ya" jawab Franky kemudian. Suaranya tercekat membuat seisi gereja yang menyaksikan langsung berbisik-bisik.


"Lusi Bliss, apakah engkau bersedia menerima Franky Eisten sebagai suamimu?"


"Ya, saya bersedia" jawab Lusi dengan tenang. Tidak setenang hati dan pikirannya. Tatapannya kosong ke depan membuat pemimpin upacara itu geleng-geleng kepala.


Mereka terpaksa menikah. Lihatlah, aura wajah mereka sedari tadi tidak menunjukkan kebahagiaan. Suara mereka pun terkesan memaksa.


Mona yang duduk diantara perumpi itu hanya bisa mendesah pelan.


"Kau dalam masalah, kak. Keputusan kita untuk hadir benar-benar salah" ucap seorang gadis di samping Mona.


"Kita akan baik-baik saja" ucap Mona mencoba tetap tersenyum. "Dan kau, apa kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian.


"Mungkin tidak" ucap gadis itu sambil menatap cemberut ke arah sepasang pengantin emas yang sedang berdiri diatas altar.


"Frans Eisten, apakah engkau bersedia menerima Sonya Wiranta sebagai istrimu?"


"Ya, saya bersedia" berbeda dari pasangan sebelumnya, Frans menjawab dengan sungguh-sungguh. Kali ini Frans berhasil membuat orangtua dan mertuanya lega. Tadi saja Tuan dan Nyonya Eisten menunduk malu saat dicibir para kerabat. Untungnya Frans tidak mengecewakan mereka.


"Sonya Wiranta, apakah engkau bersedia menerima Frans Eisten sebagai suamimu?"


"Ya, saya bersedia" jawab Onya disusul alunan musik yang berjudul It's you.


"Kedua pasangan telah resmi menjadi suami-istri. Kedua pengantin pria dipersilahkan memberi tanda kasih sayang pada istri masing-masing" Mendengar hal itu, beberapa kamera langsung mengambil posisi.


Kini Frans sudah tidak gugup, ia bernafas lega. Ia tersenyum nakal ke arah Onya membuat gadis itu memelas. Sementara Franky dan Lusi masih canggung satu sama lain. Pada akhirnya, Franky hanya mampu mencium kening wanita itu. Sementara Frans, tanpa aba-aba langsung mencuri ciuman bibir Onya dengan mesra. Pria itu memegang tengkuk Onya, kemudian menciumnya sembari tersenyum senang. Onya yang tiba-tiba diserang langsung melotot pada kedua mata Frans, sayangnya kedua mata pria itu tertutup rapat saking menikmati.


Seisi gedung heboh karena Frans. Kedua orangtua mereka sontak bertepuk tangan dengan senang.


"Apa kita berhasil?" tanya Nyonya Wiranta dengan girang. Senyumannya memancar pada wajahnya yang mulai keriput.


"Frans yang berhasil" jelas Tuan Wiranta.


Frans melepas ciumannya dengan Onya dan kembali mendaratkan bibirnya pada pipi mungil gadis itu. Tatapan melotot Onya tidak memudarkan senyuman Frans. Kesempatan yang tepat untuknya tentu tidak boleh disia-siakan.


"Tenang, ini masih seperlima dari malam nanti" bisik-nya pada Onya sambil menyeringai jahat. Tanpa malu-malu, Frans memeluk Onya. Gadis itu hanya pasrah. Pikirnya, Frans sedang ingin memanasi Lusi.


Saat Onya hendak melihat ke arah Franky dan Lusi. Ia baru menyadari kalau Franky telah meninggalkan mereka diatas altar.


"Kak Franky kemana?" tanya Onya sambil berusaha melepas pelukan Frans.


"Entah" jawab Frans, acuh tak acuh.


NOTE: sorry ya teman-teman baru hadir lagi. Ini juga buru-buru tulisnya, jadi maaf ya kalau bab ini terkesan lebai. Author tidak pandai merangkai kata-kata soalnya. 🤭