A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BONUS 1



Yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Onya bernafas lega melihat hasil test pack. Dua garis merah menandakan kalau wanita itu positif hamil.


Onya pun keluar kamar mandi dan mencari ponselnya. Ia ingin mengabari Frans akan kabar baik itu. Namun sayang ponsel pria itu tidak aktif.


"Mungkin sibuk" gumamnya.


Wanita itu terus menggeser layar ponselnya lalu teringat seseorang. Tidak menunggu lama ia langsung mengubungi orang itu dan mengajaknya ketemuan.


Untung ada Nyonya Eisten yang setia merawat Liona. Jadinya Onya bisa keluar rumah sebebasnya.


Kini Onya tiba disebuah cafe. Ia janjian bersama orang yang tadi dihubunginya di tempat itu.


Baru saja melewati pintu masuk, Onya melihat gadis itu sedang duduk membelakanginya.


"Hai Liana!" Sapa Onya.


"Onya, apa kabar?" Tanya gadis itu.


"Mm..." Sejenak Onya berpikir. "Baik" jawabnya kemudian membuat gadis didepannya itu mengerutkan keningnya karena bingung.


"Jadi bagaimana? Kenapa kamu tiba-tiba ajak aku ketemuan?" Tanya Liana.


Onya berpikir sejenak. Ia terlalu senang karena hasil test pack tadi. Saking senangnya sampai ia tidak bisa berpikir jernih. Harusnya ia menunggu suaminya dulu atau ke rumah sakit untuk mengecek kehamilannya.


Tapi lihatlah sekarang. Dia mengajak Liana bertemu tanpa alasan jelas.


"Aku bosan saja di rumah. Gimana kalau kita pergi ke museum? Terus kita melukis di sana" ucap Onya kemudian.


"Boleh juga. Seharian ini aku juga tidak ada kegiatan lain" ucap Liana.


Keduanya pun pergi ke museum. Ada banyak lukisan dan tempat untuk melukis di sana.


Baik Liana maupun Onya kini duduk didepan kanvas putih tebal. Liana begitu lihai melukis sesuatu yang ia pikirkan. Berbeda dengan Onya yang kebingungan.


"Aku bingung mau melukis apa" ucap Onya.


Namun ucapannya tidak mengganggu Liana sama sekali.


Onya pun memilih untuk menonton saja. Dia meletakan kuas ke tempat semula dan duduk memperhatikan Liana menggambar.


"Liana"


"Kamu punya kenalan gitu gak buat jadi nanny?" Tanya Onya tiba-tiba.


Liana sempat menoleh ke arahnya sambil mempertanyakan maksud pertanyaan wanita itu barusan.


"Kenapa memangnya? Bukannya Io sudah besar? Kenapa kamu mau cari nanny?" Tanya Liana balik.


"Jawab dulu, ada gak kenalan kamu yang mau jadi nanny?" Tanya Onya kembali.


"Banyak sih. Cuma semuanya kan pada kerja" ucap Liana. Namun sesaat ia berhenti melukis dan menatap Onya dengan mata menyipit.


"Ada satu kenalan aku yang lagi nganggur. Tapi aku gak saranin sih karena dia masih muda" ucap Liana kemudian.


"Iya, gak apa-apa. Soalnya aku dan Frans berencana mau punya anak lagi. Dan setelah anak kita lahir, kita mau pindah ke rumah baru. Takutnya Io gak keurus kalau aku sibuk" ucap Onya.


Liana mengangguk-anggukkan kepalanya seakan paham.


"Nanti aku cariin deh. Tapi kalau kenalan aku yang satu ini sih aku gak saranin. Takutnya suami kamu tergoda" ucap Liana dengan enteng.


Onya yang mendengarnya sontak tertawa kecil.


Dulunya mungkin Onya akan membenarkan ucapan gadis itu. Namun sekarang rasanya mustahil. Onya pikir, Frans terlalu bucin padanya. Dan pria itu pasti sulit tergoda pada siapapun perempuan diluar sana.


"Kamu tenang. Frans gak mungkin tergoda" ucap Onya.


Liana hanya tersenyum kecut mendengarnya. Dia agak iri memang. Biar bagaimanapun ia masih mengagumi sosok Frans.


...*...


Frans kembali ke ruangan kebesarannya saat selesai meeting. Pria itu mencari ponselnya didalam laci mejanya dan mengaktifkan benda itu.


Padahal mereka sudah hidup bersama bertahun-tahun. Tapi pria itu tidak pernah bosan-bosannya mengangumi istrinya itu.


Bagaimana tidak, pasalnya sikap Onya yang menjengkelkan dan cuek itu yang membuatnya tidak pernah bosan.


Frans kembali menghubungi istrinya. Panggilan pertamanya langsung diterima sang istri.


"Kamu dimana, sayang?" Tanya Frans langsung.


"Aku sama Liana di museum mama" jawab wanita itu diseberang sana.


"Tadi kenapa telpon, sayang? Maaf ya baru selesai meeting" ucapnya.


"Nanti deh kalau kamu sudah pulang. Aku ingin omongin sesuatu" ucap Onya.


"Apa itu?" Tanya Frans penasaran. "Aku ke situ sekarang. Kamu tunggu ya" ucapnya kemudian lalu memutuskan panggilan itu.


Frans meraih jas dan kunci mobilnya. Pria itu buru-buru keluar ruangannya menuju tempat parkiran mobil.


Sesampainya Frans di museum, ia masuk keruangan khusus yang diyakininya sang istri sedang melukis di sana.


Dan benar, dilihatnya sang istri bersama seorang gadis sedang duduk membelakanginya. Dan didepan dua wanita itu ada sebuah jendela berkaca tebal yang tembus pandang. Mereka bisa melihat keindahan lautan di sana.


Frans memasukan kedua tangannya kedalam saku celana sambil berjalan mendekati dua orang itu.


Ia berhenti di belakang Onya dan memeluk wanita itu.


"Frans?"


Frans mengecup pipinya sekilas tanpa mempedulikan seseorang yang berada di samping mereka.


"Tadi mau bilang apa, sayang?" tanya Frans sambil menempelkan pipinya dengan pipi wanita itu.


Tadi Liana sempat melirik ke arah sepasang kekasih itu. Ia merasa seperti obat nyamuk. Tidak mau mengganggu, gadis itu kembali fokus ke lukisannya dan mengabaikan dua insan disampingnya itu.


"Penasaran ya?"


...*...


Frans dan Onya meninggalkan museum dan membiarkan Liana melukis seorang diri di sana.


Dalam perjalanan, Frans menyetir sambil menggenggam salah satu tangan Onya. Sesekali pria itu mengecup punggung tangan wanita itu saking senangnya.


Baru saja Onya memberitahukan kabar baik itu pada suaminya. Dan sekarang mereka ingin memastikan sekali lagi ke dokter kandungan.


Tidak henti-hentinya Frans dan Onya tersenyum saat berbincang dengan dokter kandungan.


"Berarti kandungan ibu sudah berusia dua bulan. Betul kan, Bu?" tanya dokter itu.


Onya membenarkan ucapan dokter itu dengan menganggukkan kepalanya. Karena dua bulan lalu Frans dan Onya pertama kali melakukan hubungan suami istri tanpa pengaman.


Usia janinnya sudah memasuki dua bulan lebih, namun pada layar komputer yang hitam putih itu masih terlihat janinnya masih sangat kecil.


"Kapan kita bisa tahu jenis kelaminnya, dok?" tanya Frans kemudian.


"Belum saatnya, pak. Nanti saya kabarkan lagi. Yang penting ibu harus rutin periksa seminggu sekali biar perlu" ucap dokter itu.


"Baik, dok" ucap Frans.


"Ohya, dan satu lagi..." ucap dokter itu. "Saya sarankan ibu dan bapak untuk tidak berhubungan suami-istri dulu. Mengingat usia bayinya masih sangat rentan" sambung dokter.


Bukan hal yang baru didengar oleh Frans dan Onya. Mungkin dokter pertama yang menangani Onya sudah diganti. Dan didepan mereka ini adalah dokter baru, jadi dokter itu sekedar mengingatkan diakhir obrolan mereka.


Sekembalinya mereka ke kediaman Eisten, kedua insan yang sedang dilanda kebahagiaan itu bahkan lupa keberadaan Liana di museum. Entah dengan siapa dia akan pulang nantinya.


Sesampainya mereka di sana, Frans langsung memberitahu kabar bahagia itu pada ayah dan ibunya. Tidak lupa dengan Liona, anak kecil itu sedang bermain bersama neneknya di kolam renang.


"Papa, ayo berenang bareng Io" ucap Liona sambil menepuk-nepuk air. Saat ini gadis kecil itu sedang duduk diatas bantal renang berbentuk bebek.