
Hari-hari Onya lewati dengan mengurung dirinya di rumah saja. Terakhir kali dia keluar bersama Frans ke pantai. Dan sekarang dia hanya menunggu pertunangan mereka agar bisa terbebas kembali. Sementara hubungannya dengan Alka semakin sulit dipahami. Pasalnya, akhir-akhir ini Alka sulit dihubungi, bahkan tidak pernah mengabarinya lagi.
Onya tidak menolak untuk bertunangan. Dia menerima tawaran Frans kemarin lalu tanpa merasa curiga sama sekali.
Saat ini Onya tengah membaringkan tubuhnya diatas kasur kamarnya. Gadis itu sudah bersih-bersih, dan rapi menggunakan pakaian rumahan.
Selang beberapa saat, terdengar suara ibunya dari luar sana. "Onya, Frans ada dibawah" mendengar hal itu membuat Onya jengkel. Ingin rasanya dia mau pura-pura tidur saja. Daripada berpergian dengan pria itu tetap saja Onya merasa tidak bebas.
Hari ini Frans dan Onya dijadwalkan untuk mengecek cincin pertunangan mereka. Layaknya beban berat yang tengah dipukul oleh pundak Onya, gadis itu berjalan menuju lemari pakaiannya dengan lunglai.
Usai menggunakan pakaian yang pantas untuk keluar rumah, Onya datang menghampiri Frans di ruang tamu.
"Ayo" seru Onya dengan datar. Dia berjalan mendahului Frans menuju mobil pria itu.
Seperti yang mereka rencanakan, Frans dan Onya menggunakan mobil untuk pergi kesebuah tokoh perhiasan. Tempat dimana keluarga Eisten memesan cincin pertunangan anak laki-laki mereka.
Sesampainya mereka ditempat itu, Frans bergegas keluar sembari mengikuti langkah kaki Onya. Tangan pria tidak tinggal diam, digenggamnya sela-sela jari Onya kemudian membawa gadis itu masuk kedalam sana.
Mereka yang bekerja ditempat itu mengenal Frans. Ketika melihat pria itu bersama gadisnya tentu mereka tahu tujuan kedatangan pria itu di sana.
"Selamat datang, Tuan Eisten. Silahkan ditunggu terlebih dahulu, kami akan menyiapkan cincin yang anda pesan" ucap seorang wanita sembari tersenyum ramah.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, wanita itu datang dengan sebuah kotak merah. Kotak yang disain begitu mewah. Jika melihat luarnya yang sangat memuaskan mata, sudah dipastikan jika didalamnya lebih jauh dari kata memuaskan.
Wanita itu mulai membuka kotak merah itu secara perlahan. Frans dan Onya tampak biasa-biasa saja. Ketika kotak itu terbuka sempurna, tampak sebuah cincin berlian yang sangat indah. Cincin itu sengaja dirancang khusus untuk perempuan. Sementara untuk cincin pria hanya tinggal dipilih ditempat itu.
"Seperti yang sudah dijanjikan, cincin ini menggunakan berlian biru. Jadi, nilainya mencapai seratus milyar lebih, Tuan" ucap seorang wanita yang tengah melayani mereka.
"Kenapa bisa semahal itu?" tanya Onya, gadis itu terkejut mengetahui harga cincin yang dipesan kepadanya.
"Ini keinginan mama dan papa-ku. Karena cincin turun tumurun yang diwarisi keluarga diberikan haknya bagi kak Franky, jadi mama memutuskan untuk membuat yang serupa untuk pasangan-ku" ungkap Frans.
"Kenapa kamu tidak menolak?" mendengar pertanyaan Onya membuat Frans menatap tajam kearahnya. Pria itu merasa jika pertanyaan itu tidak pantas didengar oleh orang lain. Karena saat ini, mereka tidak sendirian, melainkan bersama seorang wanita asing di dekat mereka.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku sedang bertanya padamu" dengan polosnya Onya kembali bicara.
"Sebaiknya kita tidak membahasnya di sini" ucap Frans. Pria itu kembali beralih pada pelayan tadi.
"Bagaimana, tuan? Apa cincinnya memuaskan anda dan Nona?" tanya wanita itu.
"Terserah saja" ketus Onya. Cara menjawabnya terdengar tidak sopan ditelinga Frans. Namun pria itu memilih diam, tak berniat membalas. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia membalas cara bicara gadis itu.
"Di coba dulu, Nona" ucap wanita itu, kemudian membantu Onya untuk mencoba cincin tersebut.
Melihat cincin itu cocok pada hari mungilnya Onya, Frans pun berucap "Baiklah, karena dia (sambil menunjuk Onya dengan jari telunjuknya) tidak mempermasalahkan cincinnya, jadi saya setuju untuk membelinya" pada akhirnya Frans memutuskan untuk membayar cincin itu, kemudian memesan salah satu cincin lain di sana untuknya.
Selepas itu, mereka bergegas keluar dari sana.
"Dua hari lagi kita akan tunangan" ucap Frans, seolah-olah lupa dengan segala kekesalannya karena Onya.
"Ingat, hanya pertunangan. Setelah itu, kamu harus membujuk orangtua kita agar perjodohan ini tidak dilanjutkan" ucap Onya, namun tidak diacuhkan oleh Frans.
Ketika langkah kaki keduanya akan melewati pintu keluar toko perhiasan itu, mereka berpapasan dengan seorang pria. Seseorang yang beberapa hari belakangan ini tidak dijumpai oleh Onya. Bagaimana bisa berjumpa, jika Onya tidak diijinkan bebas berkeliaran diluar rumah?
"Alka? Hei!" Onya menahan lengan kekar pria itu. Dia mencoba mencegahnya agar tidak lekas pergi dari sana. "Kamu mau kemana, Alka?" tanya Onya. Gadis itu merasa curiga dengan gerak-gerik pria itu. Pria itu terlihat seperti ingin menghindarinya.
"Aku ada urusan penting" ucap pria itu sembari menarik tangannya untuk lepas dari pegangan Onya, kemudian bergegas masuk kedalam sana.
Onya mengerutkan keningnya ketika melihat pria itu masuk kedalam sana. Toko perhiasan? Untuk apa dia datang ke sana? Pikirannya tidak fokus dari yang lain, bahkan tidak mengetahui seorang wanita yang ikut masuk kedalam sana. Hanya saja, wanita itu menatap Onya dengan datar. Bahkan tatapannya sangat sulit untuk dijelaskan.
Melihat Onya yang ingin kembali masuk kedalam dan membuat Frans menahannya. "Mau kemana?" tanya pria itu.
"Mau ikut Alka" celetuk Onya, dan dengan kasar gadis itu menghempaskan tangan Frans darinya. Walau berhasil lepas, namun Frans kembali mencegahnya. "Apa lagi?" tanya Onya dengan begitu ketusnya.
"Kamu tidak dengar yang dia bilang barusan? Dia lagi ada urusan. Tadi saja dia tidak mempedulikan kamu, apalagi kamu ikut dia kedalam sana?" ucap Frans mencoba menahan gadis itu. Tidak ada yang salah dengan ucapan pria itu hingga membuat Onya diam membisu.
"Ayo, kita kembali. Aku juga masih punya urusan lain untuk persiapan pertunangan kita" ucap Frans kemudian menarik Onya untuk kembali masuk kedalam mobilnya.
Dalam perjalanan, bayangan Alka di tempat tadi masih terbayang dalam benaknya Onya. Apa yang dia lakukan di sana? batin gadis itu. Dia merasa tidak tenang jika hubungan mereka semakin tidak jelas.
Segera Onya meraih handphonenya. Gadis itu kembali membuka pesan-pesannya dengan Alka. Semuanya telah terbaca, namun tidak ada satupun pesan yang dibalas oleh pria itu.
Mau kemana-kan hubungan kita, Frans? tulis Onya dan langsung mengirimnya pada Alka. Ketika pesan itu terkirim, Onya bisa melihat tanda centang dua berwarna biru. Itu artinya, Alka telah membaca pesannya.
Bukankah kau akan bertunangan? Aku menghargainya dengan melepaskan-mu sebuah pesan yang masuk dari Alka membuat mulut Onya terbuka lebar.