
Cahaya matahari menembus jendela mobil.
Terlihat dua insan yang saling berpelukan di kursi penumpang. Tubuh polos keduanya tertutup bungkus dengan selimut kecil. Frans yang menghimpit tubuh mungil Onya ke sandaran mobil dengan tangannya yang menggantikan bantal untuk Onya. Sementara wanita itu terlihat tenang memeluk Frans dengan posesif.
Onya tertidur pulas, bahkan sinar matahari pun tak mampu membangunkannya. Bagaimana tidak, semalam Frans menghajarnya habis-habisan. Kalau saja kalian mengikuti permainan mereka, kalian akan tahu betapa menyesalnya Onya menyambut ajakan Frans semalam.
Diantara penyesalannya, Onya juga menikmati permainan Frans. Ia merasa terpuaskan. Kedua kalinya pria itu mampu membuatnya mencapai batas *******. Ia terbuai dan kecanduan.
Frans yang dipeluknya perlahan sadar dari tidurnya. Pria itu bisa merasakan tubuh polos keduanya bersentuhan. Frans tersenyum sembari menikmati kulit dan bulu-bulu halus Onya yang bersentuhan dengan kulitnya.
Dilihatnya wajah mungil yang begitu tenang dalam tidurnya itu. Rambutnya yang berantakan, wajah khas tidurnya bahkan senyumannya membuat Frans tersenyum tipis melihatnya.
Frans mendekatkan wajahnya perlahan dan membenamkan bibirnya pada bibir wanita itu. Dielusnya pipi mungil itu dengan lembut.
"Bangun, kita akan bulan madu hari ini" bisik Frans.
Onya menggeliat. Wanita itu melepas pelukannya dari Frans, kemudian ia meregangkan otot-ototnya tanpa membuka mata sedikitpun.
Onya kembali tertidur membuat Frans gemas melihatnya. Pria itu tiba-tiba mendapatkan ide jahilnya. Ia mengangkat satu kaki Onya keatas kakinya, dan ia mencoba menerobos masuk wanita itu kembali.
Terkejut, Onya merasakan benda itu kembali memasukinya. Ia sontak melebarkan kedua matanya dan dengan cepat merapatkan kedua kakinya agar bisa melindungi kepemilikannya.
"Stop! Aku lelah" ucap Onya dengan memelas.
Namun bukannya berhenti, Frans yang sudah terpancing langsung menindih tubuh Onya. Wanita itu merengek dengan kesal saat Frans berusaha masuk diantara kedua kakinya.
Onya tidak bisa banyak melawan, karena tenaganya begitu terkuras semalaman. Alhasil, ia pun pasrah dibawah pria itu.
Onya memejamkan kedua matanya. Perlahan namun pasti pria itu mampu membuatnya terbuai. Onya kembali membuka kedua matanya saat Frans mulai menggerakkan tubuhnya. Keduanya saling bertatapan. Frans menatapnya dengan penuh damba sambil mengelus puncak kepalanya.
"em..." Onya mulai mengeluarkan ******* indahnya. Tidak dibuat-buat, ia memeluk Frans agar bisa menghindari tatapan pria itu.
Lagi dan lagi Frans berhasil membuat Onya mencapai batas kenikmatannya. Pria itu berhenti dari kegiatan mereka dan membiarkan wanita itu kembali tidur. Melihat hasil percintaan mereka, Frans bergerak mengambil tisu dan membersihkan cairan putih di area perut Onya. Setelah itu, ia membantu menyelimuti Onya dengan kain.
Frans turun dari mobil dengan hanya menggunakan celana panjangnya. Ia duduk diatas pasir sambil menikmati keindahan sunrise di pagi itu.
Didalam mobil, Onya terbangun mendengar panggilan telepon. Melihat layar ponsel, tertera nama sang mertua yang ternyata menghubungi Frans.
Onya segera turun dari mobilnya. Baru saja turun, dilihatnya Frans sedang duduk membelakanginya. Wanita itu bergegas menghampirinya.
Onya ikut duduk di samping Frans sambil menyerahkan ponselnya pada pria itu.
"Mama telpon" ucapnya.
"Nanti siang kalian ke rumah mama. Hari ini kalian tidak boleh tunda untuk bulan madu lagi" ucap Nyonya Eisten, sengaja Frans membesarkan volume suara agar bisa didengar oleh Onya juga.
Sebenarnya jadwal awal bulan madu Frans dan Onya itu dihari wisuda. Malamnya itu mereka sudah harus naik kapal pesiar, namun terhambat karena pesta wisuda semalam.
Hari ini, Nyonya Eisten kembali mengingatkan mereka. Setelah panggilan telpon itu berakhir, Frans lantas bertanya pada Onya dengan isyarat tatapannya.
Onya hanya mengedikkan bahunya sambil menguap. Mulutnya terbuka lebar dengan mata sedikit berair membuat Frans tertawa kecil melihatnya.
Frans mendadak tertegun saat menyadari tampilan Onya saat ini. Ia menyibak sebagian kain yang menutupi bagian dadanya. Pria itu mengeluarkan nafasnya dengan berat saat menyadari wanita itu belum menggunakan bajunya.
"Sudah pakai celana" ucap Onya menyadari tatapan Frans yang terarah kebagian dadanya.
"Pakai pakaian-mu nanti masuk angin" ucap Frans membuat Onya terkekeh.
"Kamu juga belum pakai baju, sok perhatian banget" ucap Onya sembari tersenyum mengejek.
"Jadi bagaimana?" tanya Frans kemudian.
"Apanya?" Onya balik bertanya karena bingung dengan pertanyaan pria itu.
"Semalam dan tadi pagi kau tidak menolak ku" ucap Frans sambil tersenyum tipis.
Onya langsung menatapnya dengan sinis. Ia enggan menjawab pertanyaan pria itu. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Apa aku harus minum pil KB?" tanya Onya dengan tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Frans. Pudar sudah senyuman pria itu. "Apa kamu belum siap hamil?" tanyanya lagi. Tatapannya kali ini terlihat begitu serius menanggapi pertanyaan Onya barusan.
"Kita masih muda" ucap Onya dengan bimbang juga khawatir mengingat semalam dan tadi pagi mereka melakukannya tanpa menggunakan pengaman.
"Apa masalahnya? Bukannya bagus kita punya anak di masa muda?" ucap Frans. "Kamu jangan terlalu terpengaruh sama dunia luar yang katanya menikah muda dan punya anak di masa muda itu ketinggalan zaman. Itu persoalan ekonomi. Beda dengan kita, ekonomi kita sudah terjamin jadi tidak usah menunda untuk punya anak. Bukannya itu seru? Pikirkan saja, anak kita cepat tumbuh dewasa dan bisa mengurangi beban kerja kita di masa tua" jelas Frans panjang lebar.
Onya tertegun, sejenak ia mencerna ucapan Frans barusan. Tidak lama ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar juga ya..." ucapnya dengan ragu. "Oh ya, memang benar sih. Dengan begitu, kontrak pernikahan kita bisa cepat selesai. Lagian masalah kamu dan Lusi sudah selesai, tinggal masalah kita berdua saja" ucapan Onya kali ini membuat Frans tertegun. Ia pikir wanita ini sudah melupakan kontrak pernikahan mereka, nyatanya ia masih berharap untuk berpisah.
"Tapi jangan lupa, aku punya tanggungjawab mengurus perusahaan papamu" ucap Frans dengan datar. Dalam lubuk hatinya ia merasa kesal, sayang dia tidak menunjuk kekesalannya secara langsung. Onya bahkan tidak peka hingga tak menyadarinya.
Tanpa berniat melanjutkan percakapan mereka yang sudah berantakan itu, Frans bergegas meninggalkan wanita itu duduk sendirian.
Onya menatap kepergian Frans hingga pria itu masuk kedalam mobil. Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lautan. Namun mendengar Frans memanggilnya membuatnya bergegas ikut masuk kedalam mobil.