A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
AKHIRNYA



Dari semalam Onya belum sadar dari komanya.


Semua orang merasa putus asa. Seakan tidak ada lagi harapan hidup dari wanita itu.


Semalaman itu juga Frans tidak bisa tidur. Pakaiannya acak-acakan. Tidak ada waktu untuk memperbaiki tampilannya saat ini.


Nyonya Eisten datang menghampiri anaknya yang masih setiap duduk menemani sang istri.


"Frans jangan lupa mandi. Setelah itu ke kantor" titah Nyonya Eisten.


"Frans izin tidak masuk, ma" ucap Frans seadanya.


"Sudah minta izin ke Tuan Wiranta?"


Frans menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menjawab pertanyaan ibunya itu. "Belum, ma. Tapi kan Onya lagi sakit, jadi papanya pasti memahami kondisi sekarang".


"Tadi Tuan Wiranta sempat beri pesan ke mama. Katanya dia menunggu kamu dikantor. Ada hal penting yang harus dibahas" ucap Nyonya Eisten.


Bukannya tidak peduli dengan kondisi sang anak. Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Tuan Wiranta tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Frans diam membisu. Jujur ia tidak ingin diganggu. Kalau saja ia kehilangan akal sehatnya, bisa saja ia membentak ibunya sekarang.


"Ada mama yang nanti jagain Onya" ucap Nyonya Eisten lagi, seakan paham dengan apa yang dipikirkan anaknya itu.


"Selesaikan urusanmu dahulu. Kalau kamu sudah bisa menggantikan Tuan Wiranta, semuanya pasti akan mudah dari sekarang ini" tambah Nyonya Eisten.


"Tidak bisa nanti? Setelah Onya sembuh?" Tanya Frans dengan asal. Dia terlalu mengabaikan akal sehatnya.


Nyonya Eisten hanya tersenyum sedih. Ia mengusap rambut putranya sembari memberi pengertian lagi.


"Kita tidak tahu kapan Onya bisa sembuh, sayang. Yang penting kamu bisa menyelesaikan tuntutan pekerjaan kamu dulu. Setelah itu kamu bisa melakukan apapun sebebas kamu. Kamu bisa menemani istrinya pagi hingga malam, tanpa ke kantor pun itu hak kamu setelah berhasil menggantikan papa mertuamu itu" jelas Nyonya Eisten.


Dengan berat hati Frans berdiri dari kursinya. Pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah pucat sang istri.


"Ayo bangun, sayang. Kami membutuhkanmu. Kalau kamu bangun, aku janji, apapun yang kamu minta, aku kasih. Apapun itu. Yang penting jangan lebih dari ini. Aku dan anak kita membutuhkan mu, sayang" bisik Frans penuh harap.


Frans merasakan sebuah tangan memegang pundaknya. Niatnya untuk menguatkan sang anak. Namun justru rangkulan itu terasa membebani anaknya itu.


Meninggalkan istrinya walau hanya sebentar terasa membebani Frans. Entah kenapa hal itu terjadi.


Frans berharap, semua dugaannya dan dugaan keluarganya tidak akan terjadi. Namun harapannya itulah yang terjadi.


Bukan hanya Tuan dan Nyonya Eisten yang merasa mustahil dengan kondisi anak mantu mereka itu. Sejauh apapun Frans membuang pikiran negatif nya terkait kondisi sang istri, setiap kali ia memikirkannya pasti otaknya tidak akan menyangkal kalau harapannya agar sang istri berhasil mengalahkan komanya hanyalah sebuah harapan semu.


Kini Frans berada di kantor bersama Tuan Wiranta.


Diantara sibuknya memikirkan sang istri, Frans tetap mampu mengerjakan urusan kantoran.


Frans memang sangat cerdas. Ia punya pengalaman organisasi, magang hingga kerja membuatnya mampu seperti sekarang.


Tuan Wiranta pun takjub. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan, apakah anak mantunya itu pantas untuk menggantikannya atau tidak?


Tentunya pantas. "Selamat, Frans. Papa yakin kamu bisa menggantikan papa" ucap Tuan Wiranta.


"Terimakasih, pa. Terimakasih juga atas kepercayaan papa pada Frans untuk mengurus perusahaannya papa" ucap Frans.


Tuan Wiranta mengangguk seraya tersenyum tipis. Namun senyumannya kembali memudar seiring bibirnya hendak melontarkan pertanyaan pada anak mantunya itu.


"Setelah ini kamu mau ke rumah sakit, Frans?" Tanya Tuan Wiranta.


"Iya, pa. Papa tidak ke rumah sakit?" Tanya Frans.


"Setelah ini papa akan ke rumah sakit. Mama mertuamu pasti akan marah kalau papa lama-lama di sini" jelas pria itu.


...*...


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Frans menerima panggilan telpon dari ibunya.


Saat menerima panggilan telpon itu, dada Frans langsung bergetar hebat. Ia tampak ketakutan dan cemas mendengar suara sesegukan ibunya.


"Frans kamu dimana se-sekarang?" tanya Nyonya Wiranta.


"Frans lagi diperjalanan ke rumah sakit, ma. Ada apa? Kenapa suara mama seperti itu?" tanya Frans dengan cemas.


"Iya mama baru abis nangis. Maaf ya, sayang. Onya, istrimu sudah..." mengetahui ibunya baru menangis membuat Frans berpikir yang tidak-tidak. Belum sempat sang ibu menyelesaikan ucapannya, pria itu malah mengakhiri panggilan telpon itu.


Jelas ia tidak jatuh terpukul sekarang. Lebih baik melihat sendiri daripada mendengar. Dia takut setengah mati.


Pria itu menambah laju mobilnya ke rumah sakit. Sampai di sana, ia berlari seperti orang yang sedang dikejar.


Tepat didepan pintu kamar inap Onya. Dengan perasaan campur aduk, Frans membuka pintu itu perlahan.


Dilihatnya dua orang wanita sedang membelakanginya. Mereka menghalangi pandangannya dari sang istri yang mungkin sedang berbaring lemah.


"Ma?" panggil Frans dengan lirih.


Nyonya Eisten dan Nyonya Wiranta menoleh bersamaan. Barulah pria itu bisa melihat tubuh sang istri yang terlihat pucat parah.


"Frans, kenapa kamu mengakhiri panggilan mama tadi?" ucap Nyonya Eisten.


Frans seakan tuli. Ia mengabaikan ucapan sang ibu dan menghampiri istrinya.


"Hei!" sapa Frans. Nada suaranya terdengar bergetar. Siapapun yang melihatnya yakin kalau pria itu sedang menahan tangisnya.


Frans memeluk Onya dan menghujani ciuman yang bertubi-tubi pada wajah wanita itu.


"Aku susah bernafas" ucap Onya sambil menahan nafas karena hidungnya ikut menjadi sasaran pria itu.


"Kau membuatku takut" ucap Frans dengan lirih kembali memeluk tubuh pucat itu.


"Frans, jangan terlalu kasar. Onya butuh istirahat banyak, dan gak boleh capek" ucap Nyonya Eisten.


"Frans tidak kasar, ma. Frans hanya mencium istrinya Frans" ucap Frans tanpa mengakhiri pandangan memujanya dari wajah istrinya itu.


Nyonya Eisten beserta Nyonya Wiranta tersenyum penuh haru. Mereka sangat bersyukur Onya bisa bangun dari komanya semalaman.


"Anakku mana?" tanya Onya kemudian. Karena sedari Onya bangun, ia diperiksa dokter. Dan baru sempat ia menanyakan kabar anaknya yang dia kandung selama 9 bulan lamanya itu.


"Anak kita" ucap Frans memperjelas.


Onya menganggukkan kepalanya. "Ia, dia dimana?" tanya Onya lagi.


"Dia lagi tidur di ruangan sebelah" ucap Nyonya Wiranta.


"Onya mau lihat" ucap Onya.


Dengan semangat Frans membawa anaknya agar bisa dilihat Onya.


Melihat wajah anaknya membuat Onya teringat ucapan Nyonya Eisten kalau bayi yang baru lahir akan lebih baik mendapatkan ASI. Dan semalaman ia tak sadarkan diri dari komanya. Siapakah yang memberi susu pertama bagi anaknya itu?


"Ma, bayinya minum susu siapa semalam?" tanya Onya.


"Untung rumah sakit siapkan ASI. Karena kamu koma semalaman dan ASI mu tidak keluar, jadi kita ambil dari rumah sakit. Tidak tahu punya siapa, yang penting anakmu bisa minum ASI, sayang" ucap Nyonya Wiranta.


EPISODE SELANJUTNYA DI UPLOAD JAM 16:00 WIB πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ