
Franky membawa Lusi kesebuah danau. Malam hari tidak membuat sekitaran hutan menjadi gelap, karena danau itu menyimpan sebuah misteri alam, dimana cahaya-cahaya benderang terpantul dari danau itu hingga menyinari sekitaran hutan.
Franky yang hendak turun dari mobil ditahan oleh Lusi.
"Ada apa?" tanya Franky.
"Apa tidak berbahaya, malam-malam kita kehutan? Apa tidak ada hewan buas di sini?" tanya Lusi begitu cemas dan enggan untuk keluar dari sana. Walaupun rasa penasarannya begitu menggunung untuk menelusuri sesuatu yang membuat hutan itu terlihat bersinar, namun tubuhnya bertahan untuk keselamatan.
"Tidak ada, aku sering ke sini, jadi aku pastikan tempat ini sangat aman" tutur Franky, namun masih tidak meyakinkan bagi Lusi. Wanita itu tetap diam pada tempatnya. Sementara Franky sudah keluar dan langsung melangkahkan kakinya kearah sebuah jembatan kecil.
Lusi takut berada didalam mobil sendirian. Karena itulah, dia turun dari mobil dan mengikuti arah Franky berjalan.
Mata Lusi berbinar melihat keindahan danau di malam itu. Saking kagumnya dia sampai lupa dengan rasa takutnya.
Saat ini, posisi Lusi berada di samping Franky. Keduanya duduk disebuah jembatan kecil sambil memainkan kaki didalam air.
"Apa kamu pernah membawa orang lain ke sini?" tanya Lusi, sementara yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. "Darimana kamu menemukannya?" tanyanya lagi.
"Artikel" jawab Franky dengan singkat.
"Aku ingin membangun rumah disekitaran sini. Dan akan menempatinya bersama istri dan anak-anakku" ucap Franky membuat Lusi menatapnya dengan lekat. Wanita itu ikut tersenyum tak kala melihat pria di sampingnya itu tersenyum.
"Sudah ada rencana ni?" bukan pertanyaan yang Lusi layangkan, namun hanyalah pernyataan. Dia menggoda Franky dengan berucap demikian.
"Ya" jawab Franky.
"Dengan aku?" tanya Lusi begitu percaya diri, hingga Franky yang mendengarnya langsung tertawa kecil. Tidak disangka oleh Lusi, pria yang selama ini dia kenal sangat cuek dan dingin ternyata bisa tertawa. Bukan hanya itu, Franky juga mengusap kepalanya, hingga beberapa rambutnya berantakan.
"Kalau bukan dengan aku, siapa?" tanya Lusi lagi. Walaupun Lusi yakin, jika istri yang dimaksud oleh Franky adalah dirinya, namun Lusi ingin memastikannya lagi.
"Aku tidak tahu" jawaban Franky membuat Lusi mengernyit.
"Jika kau ingin menikah, maka aku siap menjadi mempelai-mu" ucap Lusi membuat Franky beralih menatapnya. "Karena aku sudah selesai dengan pendidikan S2 dan ingin segera menikah" tambahnya.
Franky yang kebingungan untuk menjawab hanya bisa berdiam diri. Alih-alih menatap Lusi, pria itu malah menatap kearah depannya. Tiba-tiba sesuatu benda yang kenyal menyentuh pipinya. Franky merasakan kalau wanita itu menciumnya langsung terkejut.
Hanya kecupan singkat yang Lusi berikan pada pipi lelaki itu. Namun tidak sampai disitu, Lusi berulah. Dia membalikkan rahang pria itu agar menatapnya. Lebih terkejut bagi Franky ketika wanita itu mencium bibirnya. Pria itu ikut terbuai langsung membalas ciuman itu dengan sangat menuntut. Giliran Lusi yang terkejut, karena pria yang dikenalnya kaku ternyata lebih pandai berciuman darinya.
Franky mengakhiri ciuman panas mereka dengan menarik bibir bagian bawahnya Lusi. Sudah bertahun-tahun pria itu menahan hasrat kelaki-lakiannya demi satu wanita. Dia juga lelaki normal yang tak kuat menahan tegakan tongkat bunga. Pria itu mengangkat tubuh Lusi dengan gaya bridal. Dia membawa wanita itu kedalam mobilnya, dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.
...*...
"Kenapa kamu minta putus, Alka?" tanya Onya penuh tekanan, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Onya, kamu sudah bertunangan dengan pria lain. Apalagi kalian akan menikah, jadi jangan memberiku harapan palsu" Alka membalasnya dengan penuh kelembutan. Sejauh ini barulah Alka sadar, jika mantan kekasihnya itu sangatlah keras kepala.
"Aku sudah bilang, kalau aku akan membatalkan perjodohan itu. Kamu tenang saja, Alka, karena aku..." sesaat Onya menggantung ucapannya. "Aku hanya mencintaimu" tiga kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Aku juga mencintaimu, Onya. Ingin sekali Alka mengatakan itu pada Onya. Namun apa daya, jika dia hanya mampu berucap tiga kata itu dari dalam hati saja?
"Kalau kamu cinta sama aku, maka terimalah keputusanku" Alka masih berusaha untuk membujuk Onya.
Sejauh ini, Onya tidak ingin mengakhiri hubungannya tanpa alasan yang jelas. "Katakan alasan yang tepat agar aku bisa menerimanya" ucapnya dengan wajah menunduk.
"Karena tidak mau merusak wajah dan tubuhku" jawaban yang seharusnya membuat Onya mengerti, malah membuatnya semakin bingung. "Sahabatmu itu, maksudku, tunangan-mu itu, dia mengancam semua pria yang dekat dengan kamu agar menjauh. Dan aku salah satu korban kecemburuannya" jelas Alka membuat Onya melongo.
"Tidak mungkin dia seperti itu" elak Onya, seakan membela sahabat sekaligus tunangannya itu.
"Lihat, bahkan kamu lebih percaya padanya" ucap Alka membuat Onya semakin bingung untuk meresponnya.
"Kau tahu, dia membuatku malu disekitar teman-temanku. Bahkan hampir membunuhku karena tidak ingin memutuskan hubungan kita" tambahnya.
"Kalau itu benar, aku bisa bicara dengannya nanti. Jadi, kamu gak perlu memutuskan hubungan kita, Alka" ucap Onya.
"Tidak, Onya. Kamu hanya dekat dengan dia, tapi kamu tidak mengenal Frans dengan sepenuhnya" walaupun menolak melalui kata-katanya, tapi dalam benak Alka, dia masih memikirkan tentang cara untuk tetap berhubungan dengan Onya.
Mereka bisa berhubungan secara diam-diam, agar Frans tidak mengetahuinya. Namun Alka lebih memilih putus dari hubungan yang tidak jelas itu. Dia bukanlah tipe yang suka menunggu. Pria itu menginginkan kejelasan dalam hubungannya.
Mendengar ucapan Alka membuat pikiran dan perasaan Onya berapi-api. Dalam hati dia meneriaki nama Frans. Sumpah serapah dia layangkan dalam hatinya pada pria itu. Seisi kebun binatang yang tidak bersalah turut menjadi korban kemarahannya.
"Onya" suara Alka kembali menyadarkan dia dari lamunannya. Gadis itu sudah pasrah dengan keputusan Alka.
"Sebaiknya kita pulang, ini sudah sangat larut" ucap Alka. Mengingat posisi mereka saat ini berada disebuah caffe.
Tadi Onya mengajak pria itu untuk berkencan. Namun pria itu malah menolak, dan mengajaknya untuk mengobrol didekat kampus.
Merasa kecewa dengan keputusan Alka membuat Onya putus asa. Dia pun menerima ajakan pria itu untuk kembali ke rumah.
Alka mengantar Onya menggunakan motornya. Mungkin akan menjadi kali terakhir dia menaiki motor itu, jadi Onya menggunakan kesempatan itu untuk memeluk pria itu dengan sangat erat. Sementara Alka yang dipeluk menjadi tidak tega untuk melepas pegangan Onya pada perutnya. Ada rasa takut kalau Frans melihat mereka. Namun dia menepis jauh-jauh rasa itu, karena tidak ingin membuat Onya kecewa.