A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BERTEMU LAGI



Mengetahui Onya telah bersedia untuk menikah dengan Frans membuat Tuan dan Nyonya Wiranta merasa senang. Ternyata Frans dapat diandalkan. Dia berhasil merayu Onya.


Hari demi hari berjalan seperti biasanya. Namun ketika Onya mendengar kalau undangan pernikahan mereka akan segera disebarkan membuat ia kembali bimbang. Ia banyak berpikir mengenai dampak dari pernikahan mudahnya ini. Apalagi ia dan Frans masih berstatus mahasiswa. Bisa saja teman kuliah mereka akan berpikir negatif tentang mereka.


Mengingat kedua orang tua Onya tidak ada di rumah semalaman, jadi Onya memutuskan untuk bertemu dengan Frans. Pagi-pagi sekali ia sudah siap untuk keluar dari rumah, mengingat hari ini undangan pernikahan mereka akan disebarkan.


Beberapa kali Onya menghubungi Frans agar bisa menjemputnya, namun pria itu tak kunjung mengangkat panggilannya. Gadis itu lantas meminta supir di rumahnya untuk mengantarnya.


Sesampainya di apartemen Frans, Onya langsung masuk kedalam sana. Ia mengelilingi apartemen itu sambil meneriaki nama pria itu.


"Frans!"


Sampai ia masuk ke kamar pria itu, dilihatnya pria itu masih tertidur pulas. Kain tebal hanya menutupi kaki hingga pinggang pria itu, dan tubuh bagian atasnya yang kekar dan putih mulus tepampang jelas.


"Frans!" panggil Onya lagi. Karena pria hanya berdehem tanpa berniat bangun, dengan terpaksa gadis itu mendekat dan memukul pinggang mulus pria itu hingga membuatnya terlihat memerah.


Frans yang merasa diganggu langsung terbangun. "Ada apa?" tanyanya dengan suara khas bangun tidurnya.


"Bukannya hari ini undangan pernikahan kita disebarkan?" tanya Onya tanpa basa-basi.


"hm" sekali lagi, pria itu hanya menjawab dengan deheman. Dengan malas, Frans bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Tentunya diikuti oleh Onya.


"Tugas siapa bagian itu?" tanya Onya.


"Tidak tahu, semuanya di atur sama papa. Mungkin orang suruhannya" jawab Frans dengan jutek.


"Aku ragu deh!" ucap Onya membuat Frans yang mau mulai sikat gigi langsung mengurung niatnya tersebut.


"Apa maksudmu? Jangan main-main Onya, kita sudah sepakat" ucap Frans sambil mengernyit tajam. Setelah mengatakan itu, ia langsung menyikat giginya.


Mendengar ucapan Frans membuat Onya memelas. "Aku hanya tidak ingin teman-teman sekampus tahu kalau kita akan menikah. Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini, tapi dengan syarat, jangan ada teman-teman sekampus kita yang hadir. Termasuk Alka" ucap Onya.


Mendengar nama 'Alka' membuat Frans sedikit kesal. Pria itu terkekeh untuk menutup kekesalannya. Dan mengangguk setuju.


"Frans, bagaimana?" tanya Onya, karena tidak mengerti dengan anggukan kepala Frans.


"Tenang saja, memangnya dia siapanya kita kalau bisa datang ke pernikahan kita?" tanya Frans dengan santai.


"Ingat, ini bukan hanya pernikahan kita. Tapi kak Franky dan Lusi. Mungkin saja Lusi mengundang kedua sahabat kupu-kupunya itu. Dan mungkin saja kalau Alka diundang juga" ucap Onta.


"hm" jawab Frans seadanya. Selesai sikat gigi, pria itu membalikan tubuhnya dan bersandar pada wastafel. Pria itu menatap Onya dengan datar sambil melipat kedua tangannya di dada. "Mau temani aku mandi?" tanya Frans, tiba-tiba berubah mesum.


Onya terkejut. "Bilang dong kalau mau mandi" ucap gadis itu dengan sinis.


Belum sempat membalikkan tubuhnya, ia lebih dulu membaca gerakan Frans. Pria itu melangkah dan hendak mengangkat Onya, namun gadis itu lebih dulu memberontak dan berhasil lepas dari pria itu.


"Cepat mandinya" ucap Onya sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


Sementara Frans hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Pria itu membiarkan Onya lepas untuk kali ini.


Dia pun bergegas menuju shower untuk bersih-bersih diri.


"Hari ini kita ke butik sama kak Franky dan Lusi" ucap Frans.


"Untuk apa? Bukannya kamu sudah tahu ukuran tubuhku?" tanya Onya dengan sinis.


Pasalnya, saat mereka dijadwalkan untuk mempersiapkan baju pengantin, Frans malah membatalkan jadwal itu dengan alasan kalau ia tahu semua tentang Onya, termasuk ukuran tubuh gadis itu. Jadi dia yang bersedia untuk mengurus semuanya seorang diri, tanpa melibatkan Onya. Entah apa yang sedang pria itu sembunyikan.


"Hari ini kamu harus mengukur gaunnya. Takutnya tidak pas" ucap Frans membuat Onya berdecak kesal.


"Makanya kalau belum yakin, jangan sok tahu. Kalau ukurannya tidak pas, kamu sendiri yang tanggung jawab" ucap Onya.


...*...


Seperti yang dikatakan oleh Frans, kini ia, Onya, Franky, dan Lusi bersama-sama pergi ke butik yang dimaksud. Onya dan Frans terpaksa menumpang dengan Franky, karena mobil Frans itu ternyata sedang di bengkel. Pantas saja ia bermalas-malasan di apartemen.


Sesampainya mereka di sana, Onya malah terpaku didalam mobil. Sementara Frans, Franky, dan Lusi lebih dulu turun.


"Onya, apa yang kau lakukan? Ayo turun!" seru Franky pada gadis itu.


Onya benar-benar ingat tempat itu. Ia lantas mengerucutkan bibirnya kala mengingat tempat yang sempat ia kunjungi bersama Alka.


"Onya?" panggil Franky lagi.


"Eh, iya kak" ucap Onya.


Bersama-sama kedua pasangan itu masuk kedalam butik. Namun sedari tadi Lusi terlihat ingin mendekati Onya. Namun gadis itu malah terus menghindar.


"Onya!" panggil Lusi saat mereka disambut hormat oleh pelayan butik.


"Ada apa?" tanya Onya dengan datar.


"Kau tahu? Ini butiknya Alka" ucap Lusi membuat Onya terkejut setengah mati. Entahlah, kenapa ia malah takut bertemu dengan pria itu? Sepertinya ia masih menyimpan rasa pada Alka.


"Dia tidak pernah bilang padaku" lirih Onya. Namun masih didengar oleh Lusi. Gadis itu malah menundukkan kepalanya, sambil berjalan mengikuti Frans dan Franky didepannya.


Onya berhenti melangkah kala Frans dan Franky berhenti didepannya. Dan gadis itu bisa melihat ada satu sepatu pria yang sedang berdiri di depan Frans dan Franky.


"Selamat datang, Tuan-tuan dan Nona-nona, khususnya Nona Lusi" ucap pria itu disambut senyuman oleh Lusi.


Dan dengan terpaksa, Onya mendongak kepalanya. Tatapan gadis itu langsung bertemu dengan iris mata pria itu.


Alka? gumam Onya dalam hati. Gadis itu berusaha menampilkan ekspresi datar untuk menutupi kegugupannya.


"Oh iya, sesuai janjimu kemarin kalau gaun calon istriku sudah siap. Hari ini dia ingin mencobanya" ucap Frans dengan santai. "Sayang, ayo aku akan temani kamu" pria itu malah beralih pada Onya. Tanpa peduli dengan perasaan Onya maupun Alka sendiri, Frans malah ingin menunjukkan kemesraannya dengan Onya.


Saat Frans hendak memeluk pinggang gadisnya, Onya malah menatapnya dengan tajam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat Frans mencium pipinya dengan mesra membuat wajah gadis itu memerah. Yang pastinya ia merasa kesal dan marah akan sikap pria itu.


Franky yang ikut menyaksikan hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu kalau pria didepannya itu adalah mantan kekasih Onya. Untungnya mereka sudah akrab ketika Lusi mengusulkan butik milik Alka untuk merancang gaun pernikahan mereka. Dan ia sudah banyak berbincang dengan pria itu. Begitu juga dengan Frans.