
Franky menggandeng Onya, dan dengan bimbingan Alka, keduanya memasuki sebuah ruangan. Tidak lupa dengan Franky dan Lusi, bedanya, pasangan yang satu ini tidak terlihat akrab. Mereka malah berjalan terpisah.
Memasuki ruangan bernuansa putih itu, terdapat dua pasang pakaian pengantin yang mampu memanjakan mata. Satu pasang pakaian pengantin itu didominasi dengan warna putih, dan satunya lagi berwarna keemasan yang terlihat berkilauan.
Lusi lebih dulu mendekat kesebuah gaun berwarna putih. Ia tersenyum sambil menyentuh gaun cantik itu. Disusul oleh Onya, gadis itu mendekati gaun berwarna kuning keemasan itu.
"Apa aku boleh mencobanya sekarang?" tanya Lusi ketika berbalik ke arah Alka berada.
Alka menjawab pertanyaan Lusi dengan anggukan kepala. Pria itu lantas memberi perintah pada beberapa pelayannya untuk membantu kedua perempuan itu.
Sambil menunggu Onya dan Lusi, Alka menuntun Franky dan Frans duduk di sofa, dan sempat-sempatnya mengobrol dengan kakak beradik itu. "Apa kalian tidak mau mencobanya sekarang?" tanya Alka.
"Mungkin setelah Onya dan Lusi" jawab Franky. Dan direspon anggukan kepala oleh Alka.
"Kenapa kau mengubah konsep warna yang aku pilih? Bukankah aku sudah bilang, pakaian pengantin kami harus didominasi warna biru?" sedari tadi Frans menahan rasa kekesalannya, karena warna pakaian pengantinnya tidak sesuai permintaannya.
"Bukankah kau lihat kalau Onya menyukainya?" bukannya menjawab, tanpa rasa bersalah Alka malah memutar balikan percakapan mereka.
Frans mendengus kesal. "Ini pernikahanku, bukan pernikahanmu. Kami sudah membayar-mu sangat mahal, jadi kau seharusnya tahu diri untuk diatur, bukan mengatur. Kau tahu, aku bisa saja menuntut-mu, bahkan bisa menghancurkan butik-mu ini" sarkas Frans.
"Frans, tenanglah. Jangan mencari keributan di sini" ucap Franky, menengahi keduanya. "Kita selesaikan dengan Onya. Kalau dia tidak mau, baru kau bisa menuntutnya" sambung pria itu.
Beberapa lamanya menunggu, Lusi pun keluar dari ruang ganti. Wanita itu begitu cantik mengenakan gaun putih itu. Lekuk tubuhnya terlihat jelas membuat ia terlihat seksi.
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Alka pada wanita itu.
"Iya, sangat bagus, Alka. Tidak sia-sia aku memilih butik-mu. Perancangnya sangat tahu seleraku" ucap Lusi sambil berkaca didepan kaca besar. Ia terus berputar sambil mengaguminya kecantikannya.
"Dimana Onya?" seru Frans. Karena gadisnya itu tak kunjung keluar.
"Gaunnya bermasalah" jawab Lusi, tanpa berpaling dari kaca itu.
Mendengar ucapan Lusi membuat Frans dan Alka saling bertatapan. Jika Alka menatap pria itu dengan datar, sebaliknya dengan Frans yang memasang tatapan tajamnya.
Frans lantas bergegas dari tempat duduknya menuju ruang ganti. Di ruangan itu, ia langsung berpapasan dengan Onya yang sempat akan keluar dari sana.
"Ada apa?" tanya Frans melihat raut wajah cemberut gadis itu. Ia pun mengerti saat melihat kedua tangan gadis itu memegang bagian pinggang gaunnya.
"Ini longgar loh? Kamu bilang kalau kamu sudah tahu ukuran tubuhku. Bodoh kau Frans!" umpat Onya. Ia menyentak kakinya, dan keluar meninggalkan Frans di sana.
Saat keluar dari ruang ganti, Onya pun ikut berkaca bersama Lusi. Gaun itu sangat cantik, sayangnya bagian pinggangnya longgar di pinggang Onya.
"Apa kau tidak suka gaunnya Onya?" tanya Frans saat ikut mendekati Onya.
"Aku suka, dari gaya dan warnanya sudah sangat memuaskan. Tapi lihatlah, bagian pinggangnya terlihat longgar. Kalau begini, kau cari saja wanita lain untuk dinikahi dengan pinggang yang pas dengan gaun ini" ucap Onya dengan ketus.
Tanpa keduanya sadari, Alka ikut mendekati keduanya. Dan mendengar percakapan mereka. Ia hanya tersenyum tipis, begitu senang kalau gadis itu menyukai gaya dan warna gaun itu. Artinya, Frans tidak bisa menuntutnya.
"Kau menyukai warna gaunnya, Onya?" tanya Alka membuat Onya dan Frans menoleh ke arah pria itu.
"Iya" jawab Onya dengan datar sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku kira kau menyukai warna biru" ucap Alka, sengaja menyindir Frans. "Oh iya, gaunnya permanen jadi tidak bisa diperbaiki lagi. Untungnya aku sudah menyiapkan ikat pinggangnya" sambung Alka sambil memperlihatkan benda itu.
Alka kemudian mendekati Onya. "Angkat tanganmu" ucap Alka. Dari belakang gadis itu, ia membelit ikatan itu di pinggang Onya.
Posisi Onya dan Alka yang begitu dekat, layaknya sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra sedikit membuat Frans terbakar cemburu. Tapi ia tahan, dan memilih untuk bergabung bersama Franky di sofa.
"Aku sudah menerima undangan pernikahan-mu" ucap Alka, kala merasa aman saat Frans sudah menjauh dari mereka. Namun Alka masih berada di posisi yang sama.
Mendengar ucapan Alka membuat Onya sedikit terkejut. Namun begitu pintarnya ia mengendalikan keterkejutannya dengan ber-oh-ria. Seperti yang ia pikirkan, ternyata Frans tidak bisa dipercaya.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa hadir. Jadi sebaiknya aku mengucapkan selamat untukmu hari ini" sejenak Alka menjeda ucapannya. Pria itu menarik nafasnya sambil geleng-geleng kepala, kemudian mengeluarkannya dengan tegar. "Semoga dia bisa membahagiakan-mu" ucap Alka. Tanpa permisi, pria itu mengecup pipi gadis itu. Dan tentunya Onya terkejut. Untung saja tidak ada yang melihat mereka, begitu juga dengan Frans yang kini sibuk dengan ponselnya.
Belum sempat Alka menjauh darinya, Onya lebih dulu menggenggam tangan pria itu untuk kembali ke posisi yang sama. "Kumohon tetap seperti ini dulu" ucap Onya membuat Alka tersenyum.
Onya dan Alka saling bertatapan melalui kaca. Takut-takut Frans curiga, jadi Alka pura-pura memperbaiki ikat pinggang gadis itu. "Kau terlihat cantik mengenakan gaun ini" bisik Alka dekat telinga Onya, bahkan nafas pria itu dapat dirasakan. Sementara Onya hanya memejamkan matanya sambil menikmati deru nafas pria itu.
"Kenapa kau tidak mau hadir?" lirih Onya.
"Aku akan keluar negeri. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita" jawab Alka.
"Kapan kau akan pergi?" tanyanya sambil tersenyum lirih.
"Besok" jawab Alka seadanya.
Ingin sekali Onya melarangnya. Gadis itu ingin menyampaikan perihal pernikahan kontraknya dengan Frans. Namun rasanya percuma, karena ia juga terlanjur kecewa dengan Alka yang lebih dulu menyerah. Onya pun enggan memberitahunya.
"Tidakkah kita harus merayakan perpisahan kita?" tanya Onya menatap lekat iris mata Alka melalui. Detik berikutnya ia menundukkan kepalanya karena mungkin matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita sedang merayakannya. Kau tahu motif gaun ini?" tanya Alka.
Onya menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha mengendalikan dirinya. Gadis itu kembali mendongak dan menunjukkan senyumannya. Namun air matanya tumpah begitu saja.
"IO" jawab Onya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jangan menangis, sayang" ucap Alka, pria itu tetap tersenyum walau perasaannya ikut terganggu melihat gadis yang pernah mengisi hari-harinya itu menangis. "Ini hadiah pernikahan-mu dariku. Dan untuk hadiah terakhirnya, aku akan menjemputmu jam tujuh malam" sambung Alka, dan berlalu begitu saja. Karena Alka menyadari kedatangan Frans, jadi lebih baik dia menghindar.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Frans pada Onya.
Buru-buru Onya menghapus air matanya. "Tidak ada" jawab Onya dengan datar.