
"Kau mau bawa aku kemana? Kalau begini antar aku ke rumah orangtuaku saja" ucap Onya yang masih tak lepas dari pelukan Frans.
Dalam perjalanan Frans tidak mengeluarkan satu kata pun. Onya yang sedari tadi memberontak dan mengumpatnya pun kehabisan tenaga. Wanita itu langsung tertidur pulas karena perjalanan yang begitu panjang.
"Apa kita perlu makan siang, Tuan?" tanya supir itu. Mengingat mereka belum makan siang, dan kini hari sudah menjelang sore.
"Tidak usah, pak. Terus jalan saja" ucap Frans dengan datar.
Frans memandang wajah Onya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian meletakan kepala wanita itu keatas pahanya. Dielusnya rambut wanita itu dengan lembut.
Namun mengingat rencana melarikan diri wanita itu membuatnya mengepal tangannya dengan kekuatan penuh.
Frans benar-benar marah. Bagaimana tidak, disaat hamil pun wanita itu masih kepikiran untuk melarikan diri. Dia cukup sabar dan batas kesabarannya pasti ada.
"Mungkin ini upaya terakhirku, kalau kau masih keras kepala aku akan membuang-mu" gumam Frans sambil menatap lekat wajah tenang wanita itu.
Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Frans rela tidak makan siang untuk membawa Onya ketempat persembunyiannya. Tanpa tahu supirnya menjadi korban kelaparan.
Sesampainya mereka disebuah vila yang ada diatas puncak, Frans membawa masuk wanita itu kedalam sana. Ia menggendongnya ala bridal. Mereka masuk kesebuah kamar yang begitu luas dan megah.
Diletakkannya wanita itu diatas tempat tidur dengan hati-hati. Kalau boleh jujur, sebenarnya hasrat lelaki itu sudah diujung tanduk saat mengetahui wanita keras kepala itu melarikan diri. Kalau saja ia tidak mengingat janin didalam sana, mungkin saat ini juga ia akan memaksa wanita itu melakukan hubungan suami-istri.
Frans membuka seluruh pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi. Ia keluar dengan hanya mengenakan handuk. Tidak berniat mengenakan pakaian, pria itu mengenakan boxer hitamnya dan duduk di samping Onya berbaring tidur.
Pria itu mengingat mereka belum makan siang. Dan anaknya juga belum makan apa-apa. Frans bergegas memesan makanan melalui ponselnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, datanglah makanan yang dipesannya. Frans membawa makanan itu kedalam kamar dan hendak membangunkan Onya.
Frans menyadari wanita itu sudah bangun. Namun sepertinya ia pura-pura tidur sekarang.
"Onya bangun. Makan dulu" ucap Frans menggoyahkan tubuh mungil itu untuk segera bangun.
"Onya, aku tahu kau pura-pura. Jangan seperti anak kecil kalau sudah mau punya anak kecil. Ingat anakku butuh makanan, kau boleh saja lapar tapi jangan biarkan dia kelaparan" ucap Frans dengan tak sabaran.
"Kyaaa..." Onya terkejut karena tubuhnya terasa melayang ke udara. Ternyata Frans mengangkat tubuhnya dan mendudukinya kembali keatas tempat tidur.
"Dasar gila!" umpat Onya.
"Aku tidak sedang bercanda denganmu sekarang. Cepat makan!" ucap Frans dengan tatapan tajamnya.
Onya memelas melihatnya. Ia makan tanpa menghiraukan keberadaan pria itu.
"Karena kau berani melarikan diri, sekarang aku akan mengurung-mu di sini sampai kau akan melahirkan baru kita kembali ke rumah besar" ucap Frans.
Onya tidak lagi terkejut. Ia sudah menduga sedari awal hukuman apa yang akan pria itu berikan padanya. Tak disangka apa yang ia bayangkan terjadi sudah.
Onya mendesah tertahan. Sepatutnya ia yang marah di sini. Namun ia juga sadar telah melakukan hal bodoh seperti tadi.
Kalau boleh jujur, sebenarnya keinginan dia keluar negeri bukan hanya karena kemarahannya pada Frans. Namun sepertinya ada faktor lain, seperti ngidam mungkin.
"Kau ingin membunuhku" Onya terkekeh mengatakannya.
Melihat pria didepannya itu tak beraksi apa-apa membuat Onya muak.
"Kau tidak dengar? Apa kau ingin membunuhku? Aku sedang hamil dan kau ingin mengurungku? Kau ingin membuatku stres dan membunuh anak ini?" tanya Onya dengan sarkas.
"Kau sudah terbiasa, bukan? Kalau sampai kau keguguran, kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Dan aku yang akan membuatmu terkurung selamanya di sini hanya untuk melayaniku" ucap Frans.
Bagi Frans, keguguran karena dikurung hanya akal-akalan wanita itu. Baginya, wanita itu bisa mengontrol stres dengan mengelilingi area puncak di sana.
"Kau bisa keluar rumah. Di sini pemandangannya bagus dan kau bisa mengontrol stres" ucap Frans.
"Aku butuh interaksi dengan orang lain, Frans" ucap Onya dengan memelas sekaligus marah.
"Ada aku jadi tidak usah beralasan" ucap Frans.
Hening sejenak...
Onya pun diam, tak tahu harus memberi alasan apa lagi.
"Karena ulamu yang melarikan diri, mama dan papaku sangat marah. Aku membawamu ke sini agar bisa menenangkan mereka dulu. Dan kamu juga bisa berpikir matang-matang untuk berpisah. Kalau nanti menjelang kamu akan melahirkan dan kamu berniat lepas dari aku, aku siap bercerai darimu. Sudah cukup aku bersabar dengan keras kepalamu, Onya" sambung Frans kemudian.
Onya jelas terpukul mendengar penuturan pria itu. Ia benar-benar malu dan takut pada Tuan dan Nyonya Eisten. Apalagi pada kedua orangtuanya, entah apa yang akan mereka lakukan padanya.
Namun ada yang menjanggal dengan perasaan Onya. Bukankah selama ini ia menginginkan perpisahan, bukan? Kenapa saat mendengar pria itu mengatakan akan siap untuk bercerai, tiba-tiba ia merasa murung dan putus asa?
"Maaf" ucap Onya dengan lirih.
Frans terkekeh mendengar kata maaf dari mulut wanita itu. Entah kata maaf untuk kedua orangtuanya atau karena menyadari kesalahannya yang telah menyakiti pria itu.
"Terlambat, Onya. Kalau kau ingin minta maaf pada mama dan papaku, tunggu menjelang kau akan melahirkan baru aku akan membawamu kembali. Dan soal perceraian, tenang saja. Aku akan mengurusnya nanti. Maksud ku aku akan menyiapkan surat cerai baru" ucap Frans lagi. Tidak sesuai rencana awal. Entah kenapa kalimat terakhir itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
...*...
Sepanjang malam Onya ditinggal sendirian di kamar. Wanita itu tidur sendiri. Padahal ia sangat membutuhkan kehangatan pria itu.
"Kau yang merindukannya, bukan aku" ucap Onya sambil mengelus perutnya.
Onya mendesah tertahan. Jika boleh memutar waktu kembali, ia tidak akan mau melarikan diri.
Sementara Frans saat ini sedang berada ditepi kolam renang. Pandangan pria itu mengarah ke sebuah balkon kamar yang sedang ditempati Onya.
Perasaannya kosong. Hampa, seperti tidak ada rasa cinta lagi pada wanita itu. Mungkin karena sikap wanita itu sudah melewati batas kesabarannya.
"Aku harap ini hanya untuk sementara waktu" ucap Frans dengan bimbang.
Tiba-tiba Frans teringat sesuatu. Pria itu buru-buru keluar rumah. Dan betapa terkejutnya melihat mobil yang mengantarnya dengan Onya masih berada dihalaman vila itu.