
Hari menjelang malam. Frans mulai khawatir karena sedari tadi Onya belum juga pulang. Frans hendak kembali ke kamarnya, namun saat kakinya mulai menaiki satu persatu anak tangga, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia berhenti sejenak dan menerima panggilan telpon itu.
"Halo, pa" ucap Frans. Nyatanya Tuan Wiranta yang menghubunginya.
"Frans Papa dengar kamu dan Onya sudah pulang dari bulan madu, apa terjadi sesuatu?" tanya pria itu di seberang sana.
"Onya waktu itu sakit, pa. Hanya mabuk laut, kata dokter. Jadi Frans terpaksa membatalkan bulan madu kami, pa" ucap Frans sembari melangkah perlahan.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya lagi.
"Sudah membaik, pa. Kemarin juga sudah keluar rumah sendiri" jelas Frans setibanya ia di depan pintu kamarnya. Ia membuka pintu itu, perasaan cemas yang sedari tadi menghantuinya berangsur membaik. Pasalnya wanita yang ia cemaskan kini sedang duduk di tempat tidur mereka.
Sementara Onya yang langsung berkontak mata dengan Franz sontak menatap tajam pria itu. Frans menyadarinya, namun ia lebih fokus dengan suara di seberang sana.
"Kalau begitu besok kamu bisa temui papa di kantor? Kamu masih ingat perjanjian keluarga kita, bukan?" ucap Tuan Wiranta.
"Tentu saja, pa. Baiklah, besok nanti Frans akan ke kantor papa" ucap Frans. Tanpa ia sadari, seseorang di ruangan itu menyinggungkan senyumannya saat mendengar ucapannya barusan.
Frans mengeluarkan nafasnya dengan berat saat panggilan telepon itu berakhir. Ia kemudian beralih pada seorang wanita yang sedang menatapnya penuh permusuhan. Dan pria itu memberanikan diri untuk menghampirinya.
Tepat di depan Onya, Frans terkejut saat wajahnya dilempari beberapa lembar kertas.
"Tanda tangan, sekarang!" ucap wanita itu dengan nafasnya yang memburu hebat karena amarahnya yang hampir meledak-ledak.
Frans berhasil menangkap satu lembar kertas itu. Dengan tenang ia mulai membacanya, namun melihat satu kata keramat di kertas itu, wajahnya yang tadinya setenang genangan air langsung menciut. Ia pun membalas tatapan tajam wanita di depannya itu.
"Surat cerai?" Frans terkekeh membacanya.
"Jangan mimpi, sayang. Pernikahan bukan permainan untukku" jawab Frans sambil menyunggingkan senyuman miringnya. Ia pun merobek kertas itu dan menghamburkannya dengan asal.
"Sialan kau, Frans!" ucap Onya, ia kemudian berdiri dari posisi duduknya. Wanita itu hendak keluar kamar, namun saat kakinya hendak melewati Frans, dengan sigap pria itu menariknya hingga keduanya berhadapan.
"Mau kemana, sayang?" panggilan sayang itu membuatnya bergidik ngeri. Apalagi tatapan mendamba yang Frans perlihatkan membuat Onya menyadari dirinya sedang dalam bahaya.
"Frans, kau memang sialan ya! Kau sendiri yang menawarkan aku kontak nikah dan dengan brengseknya membohongiku, hah!" ucap Onya seraya menutupi ketakutannya.
"Tapi aku berubah pikiran. Artinya aku tidak akan pernah menceraikan-mu" ucap Frans.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Onya.
"Onya, aku sudah cukup sabar. Jangan buat aku marah. Tarik kembali ucapan-mu barusan" ucap Frans. Jujur ia kewalahan dengan sikap egois Onya.
"Makanya jangan egois dong!" entah siapa yang egois. Onya berkata Frans yang egois, dan sebaliknya.
"Kalau gak mau cerai, silahkan. Tapi besok aku akan keluar negeri. Jangankan kamu, orangtuaku pun tidak akan bisa menghalangi aku. Ingat itu!" ucap Onya.
Sudah cukup kesabaran Frans. Dengan marah dia mengangkat tubuh mungil itu dan membantingnya keatas tempat tidur.
"Frans!" pekik Onya. Ia terkejut setengah mati. Untung tubuhnya jatuh keatas kasur empuk itu dan tidak membahayakan kehidupan lain yang sedang Onya jaga.
Lebih terkejutnya lagi saat Frans menindihnya dan menciumnya tanpa ampun.
"Frans, apa kau gila!" ucap Onya setengah berteriak. Ia kemudian memberontak, memukul dan mencakar wajah pria itu.
"Kau bodoh! Kau pikir bisa menahan-ku dengan cara ini? Dasar otak ************!" maki Onya. Sungguh mulut yang sangat lancang melebihi batas.
"Oh, otak apa kau bilang?" Frans tertawa licik mendengarnya. "Kau pikir aku tidak bisa menahan-mu dengan cara seperti ini? Baiklah, kau lihat apakah aku mampu membuatmu tak bisa berjalan atau tidak" ucap Frans dengan licik.
Dengan kasar Frans merobek pakaian wanita itu. Ia benar-benar kehilangan akal sehatnya. Jiwa iblisnya meronta-ronta. Ia bisa mendengar jelas wanita itu menangis histeris, namun mata hatinya seakan menggelap.
"Sakit? Aku lebih sakit dari ini, sayang" ucap Frans sambil menggigit leher wanita itu dengan gemas.
"Frans, cukup! Frans...? Frans, aku hamil"
Tubuh Frans langsung lemas dan ambruk diatas wanita itu.
"Jangan menipuku" lirih Frans. Mengingat masalah itu datang karena kebohongannya. Ia takut wanita itu ingin membalasnya dengan kebohongan juga.
"Kau menyakitinya, brengsek. Kemarin aku ke rumah sakit. Kata dokter usianya satu bulan" terang Onya. Ia tidak mau menutupi hal sebesar itu. Apalagi Frans hampir membahayakan mereka tadi, mau tidak mau Onya harus segera jujur.
Frans mendongak. Ia meraup pipi mungil sambil berucap penuh haru.
"Kau tidak bisa lari dariku lagi"
Namun Onya seakan muak langsung melempar tatapannya kearah lain. Ia masih marah. Marah karena dibuat bodoh oleh pria itu. Dan marah karena pria itu berlaku kasar padanya. Seumur hidupnya, itu perilaku melecehkan yang pernah ia dapat.
"Aku tidak menjamin itu. Karena aku sudah hamil, seharusnya kita bisa cerai sekarang" ucap Onya dengan lirih.
Semuanya mengubah rencananya. Sedari awal dia tidak ingin bercerai secepat itu pasca kehamilan maupun melahirkan nanti. Namun sepertinya dia masih labil sehingga mudah mengubah dan mengambil keputusan sebesar itu.
"Onya!" Frans tidak suka mendengar kata cerai lagi. Ia kembali mencium bibir mungil itu dengan kasar. Dan Onya hanya diam tak berdaya. Ia masih syok dengan perilaku pria itu tadi.
Frans menjaga Onya sampai wanita itu benar-benar tertidur. Masalah tadi masih menggangu pikiran Frans. Pria itu tidak mampu untuk menyusul wanitanya ke alam mimpi.
Frans menyambar kunci mobilnya dan hendak keluar rumah. Namun ia berpapasan dengan Lusi saat akan menuruni anak tangga. Sempat-sempatnya mereka bertatapan. Frans bisa melihat wajah pilu wanita itu. Namun ia tidak mau ambil pusing dan segera memutuskan kontak mata mereka.
"Frans!" panggil Lusi saat pria itu hendak meninggalkannya. "Apa aku bisa ikut denganmu?" tanyanya sesenggukan.
...*...
Di bar, Frans ditemani oleh Lusi. Tanpa ditanya, Lusi menceritakan persoalan rumah tangganya. Frans yang mendengarnya pun tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kakaknya.
"Dan apa masalah kalian?" tanya Lusi kemudian.
Frans menggelengkan kepalanya. Seburuk apapun rumah tangganya sekarang, dia tidak akan membiarkan satu orang pun mengetahuinya, apalagi wanita lain seperti Lusi.
"Aku pikir kau dengan Onya sedang dalam masalah. Kalau benar, kita bisa bekerjasama untuk membuat kedua pasangan kita cemburu" tawar Lusi.
Frans bisa saja menerima tawaran wanita itu. Namun dia tidak mau ada wanita lain yang ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Apalagi persoalan orang ketiga. Walaupun sandiwara, tetap itu bukan solusi terbaik. Justru itu akan membahayakan rumah tangganya dengan Onya.
Bagi Frans, selagi ia memiliki kekuatan untuk menjaga dan menahan Onya, ia akan mempergunakannya. Ia yakin tenaganya yang perkasa lebih mampu daripada campur tangan orang ketiga.
"Hah, aku ingin minum" desah Lusi. Namun dia tidak leluasa berbuat seenaknya. Dia sedang hamil dan Frans pasti tidak akan membiarkannya minum.