A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BERDAMAI?



Frans memang marah waktu itu. Namun ia berhasil meredam amarahnya berhari-hari. Sementara kejadian itu, Frans terus mengunjungi kediaman Wiranta untuk mendapat ampun dari ayah mertuanya. Sayang Tuan Wiranta tidak pernah menghiraukannya. Untungnya Nyonya Wiranta tetap menyambutnya seperti biasa.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Frans mencoba melerai permasalahan diantara mereka. Ia mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Entah apa yang Onya katakan hingga Tuan Wiranta marah besar padanya. Namun saat Nyonya Wiranta menjelaskan cerita Onya, Frans terkejut bukan main.


Nyatanya bekas memar di pinggang Onya dikira mereka karena Frans memukulnya. Frans tidak tinggal diam mendengar tuduhan tak benar itu. Tanpa rasa malu, ia menjelaskan kejadian di pesta dan pagi pertama mereka. Tidak peduli apa yang akan Nyonya Wiranta lakukan pada Onya nantinya. Mungkin ini balasan yang setimpal atas perbuatan Onya yang berani membohongi Tuan dan Nyonya Wiranta.


Dirasanya cukup, Frans lantas berpamitan pulang. Dia tidak mau luluh nantinya saat melihat Nyonya Wiranta menghukumnya. Dan dia tidak mau memikirkannya. Biar jadi urusan kedua wanita itu saja.


Sepeninggalan Frans, Nyonya Wiranta langsung bergegas menghampiri suaminya untuk meluruskan permasalahan Frans dan Onya. Sayang, bukannya bicara baik-baik, Tuan dan Nyonya Wiranta kembali bertengkar.


Onya yang baru saja menuruni anak tangga kembali mendengar kedua orangtuanya ribut. Ini bukan kali pertama ia menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Semenjak ayahnya mendukung keputusannya untuk kuliah ke luar negeri, hampir setiap hari mereka bertengkar.


"Anak-mu itu sudah belajar berbohong pada kita. Frans sendiri bilang pada mama kalau dia tidak bertindak kasar seperti yang papa kira" ucap Nyonya Wiranta.


"Tidak bagaimana? Lalu mama sendiri yang lihat pinggang Onya. Itu jelas-jelas bekas pukulan makanya pinggangnya memerah sampai biru begitu" bantah Tuan Wiranta. Pria itu sudah tidak terlalu emosi seperti kejadian malam itu.


"Aku kan sudah bilang, itu bukan bekas pukulan. Itu karena mereka berhubungan istri" kali ini Nyonya Wiranta menurunkan volume suaranya.


Tuan Wiranta terkekeh mendengarnya. "Memangnya aku pernah membuat tubuh kamu membiru seperti itu?" balas Tuan Wiranta. "Tidak masuk akal, ma" sambungnya tak terima.


"Pokoknya mama tidak mendukung Onya melanjutkan S2 di luar negeri. Sudah tahu anak sendiri nakal, masih yakin membebaskan dia di sana sendirian? Yang benar saja!" cibir Nyonya Wiranta.


"Sudahlah, ma..." biar bagaimanapun, Tuan Wiranta pasti kalah menyaingi mulut lancang istrinya itu.


"Kau tahu, anak-mu sangat nakal. Frans bilang sendiri kalau anak-mu itu berpesta tanpa menggunakan pakaian. Apa menurut-mu itu bagus?" ucap Nyonya Wiranta setengah berteriak.


"Pelan-kan suara-mu" ucap Tuan Wiranta.


Onya tersenyum kecut mendengarnya. Ia kembali menaiki anak tangga sambil menundukkan wajahnya yang mulai membendung seperti awan tebal.


Wanita itu kembali ke kamarnya. Ia meraih selembar kertas diatas meja dan berjalan menuju kloset. Ia berdiri berhadapan dengan pakaian wisudanya sambil sesekali ia memandang lekat kertas itu.


"Ini kesekian kalinya aku lulus berkas tapi gagal seleksi wawancara" lirihnya sambil mendesah berat. Dia meremas kertas itu dan membuangnya dengan asal.


Jangan menilainya sebagai anak yang tak berperasaan. Selain pada Frans, ia juga merasa bersalah pada ayah dan ibunya. Ia sadar kalau ia memang melakukan kesalahan fatal karena berani berbohong pada kedua orangtuanya.


Onya mendesah tertahan. Merenung nasibnya sebagai wanita tertindas. Kebebasan yang masih belum terjamin membuat ia ingin bersikap egois. Jika saja Frans tidak mengekang kebebasannya, mungkin Onya akan membatalkan keinginannya untuk melanjutkan S2 ke luar negeri.


Onya ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Namun dilain sisi ia menyadari kalau sang ibu pasti sulit dilawan. Jangankan dia, ayahnya saja tidak bisa diandalkan. Buktinya tadi saat ia menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar, sang ayah langsung mengalah.


Bukan hanya itu masalahnya! Beberapa universitas terbaik diluar negeri telah menolaknya. Padahal dia sudah berusaha maksimal melalui seleksi berkas dan wawancara. Tapi tetap saja gagal. Ia yakin ini pasti ulah ibunya atau mungkin ulahnya Frans.


"Mungkin perlu sekali lagi!" gumam Onya.


Hingga hari dimana Onya dan Frans wisuda, hubungan keduanya belum juga membaik. Frans sudah tidak pernah datang ke rumahnya. Sepertinya pria itu sudah menyerah untuk membujuknya.


Alih-alih mendengar pidato yang kini dibacakan oleh seorang rektor, Onya lebih mementingkan ponselnya. Tanpa wanita itu sadari, Frans terus memperhatikan gerak-gerik nya dari jauh. Pria itu sekilas menyunggingkan senyuman miringnya saat melihat wajah Onya yang berubah bias.


Onya terlihat lemas dan putus asa saat menerima sebuah email.


Beberapa saat kemudian, saat Onya masih sibuk dengan pikiran nya. Tiba-tiba ia terkejut melihat teman-temannya berbondong-bondong meninggalkan tempat itu menuju lapangan.


Onya lantas ikut melangkah menuju lapangan bebas itu sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang berfoto dengan orangtua, pacar, dan kerabat mereka. Ia tersenyum kecut melihat mereka.


Andai saja hubungannya dengan Frans tidak renggang seperti sekarang, pasti ada yang menemaninya.


Onya semakin terpojok, menyadari orang-orang disekitarnya memperhatikan ia seorang diri. Ia segera menunduk dan mempercepat langkah kakinya. Namun ia sontak berhenti saat ada seseorang menghalangi jalannya.


Dilihatnya sepasang sepatu berada didepannya. Onya hendak berbelok arah, enggan mengangkat wajahnya untuk melihat orang itu. Namun tiba-tiba orang itu memeluknya. Onya tidak menolak, ia justru mematung sembari menikmati pelukan itu.


"Lepas, jangan ditahan!" ucap orang itu, sontak Onya menangis dengan keras.


"Maaf!" ucap Onya disela tangisnya. Tanpa melihat orang itu, Onya tahu itu adalah Frans.


"Mama dan papa tidak bisa hadir. Padahal saat tahu aku kembali ke rumah tanpamu, mereka langsung meninggalkan tugas mereka. Lalu kenapa sekarang tidak bisa hadir?" ucap Onya sembari memukul-mukul dada bidang itu dengan satu tangannya yang bergerak bebas.


"Papa juga! Dia sama dengan mama, tidak bisa diandalkan!"


"Mama dan papa-ku datang, dan mereka ingin berfoto dengan kita" ucap Frans.


"Ya karena mama dan papa-mu tidak sibuk" Onya mulai ngelantur. Mungkin karena efek cemburu, perkataannya barusan terdengar seperti ingin membela diri sendiri.


Dirasanya Onya mulai tenang, Frans segera melonggarkan pelukannya. Ia tertawa kecil, sengaja mengejek wanita cengengnya itu.


Sebenarnya Frans ingin sekali menghakimi Onya dengan berbagai pertanyaan. Namun ia memilih melupakan masalah mereka.


Saat ini Frans berniat membujuk wanita itu lagi. Kalau masih keras kepala, maka Frans akan menculiknya secara paksa. Apalagi mereka sudah lulus kuliah, pastinya Frans bebas membawa wanita itu kemana saja. Tempat dimana hanya ada mereka berdua. Dan dia sudah merencanakan semua itu dengan matang.


Dan sepertinya Frans amat merindukan wanitanya itu.


Kini Frans dan Onya menghampiri Tuan dan Nyonya Eisten yang sedang berbincang dengan seorang dosen. Dosen itu lantas berpamitan karena tidak ingin mengganggu keluarga itu.


"Kita foto dulu" ajak Nyonya Eisten.


Kedua pasangan itu beberapa kali mengabadikan momen itu dengan foto bersama. Entah kenapa Nyonya Eisten tidak bosan-bosannya selfie bersama Onya. Tanpa wanita itu sadari, Frans sudah menghilang dari sana.


"Tidak biasanya mama suka selfie" ucap Onya tiba-tiba.


"Eh... Ya karena ini momen penting" tutur Nyonya Eisten.


Onya hanya mengangguk-angguk kepalanya. Wanita itu kemudian hendak mengarahkan pandangannya disekelilingnya. Namun saat ia menoleh ke arah samping, ia melihat Frans sedang melenggang santai ke arahnya.


Tepat didepan Onya, Frans tersenyum tipis padanya. Pria itu menyodorkan serangkaian bunga sambil mengecup sekilas pipinya.


"Ayo kita pulang, pa! Jangan ganggu anak-anak muda, yuk!" ajak Nyonya Eisten.


SORRY BOS-BOS BESAR, AUTHOR SIBUK BANGET AKHIR-AKHIR KEMARIN. ANGGAP SAJA SATU EPISODE INI SEBAGAI GANTI EPISODE HARI SABTU YANG TA BELUM UPLOAD.