A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
LUSI EMOSI



Setelah mengantar Onya ke kampus, Frans kembali pulang. Ia memarkirkan mobilnya di rumah besar keluarga Eisten lalu masuk kedalam sana. Dilihatnya sang ibu dan Lusi sedang mengobrol sambil memakan cemilan di ruang tamu.


Frans hendak menaiki tangga, namun suara ibunya membuat langkah kakinya terhenti.


"Frans!" panggil Nyonya Eisten.


"Ada apa, ma?" tanya Frans.


"Ayo ke sini, ada yang ingin mama bicarakan" ucap Nyonya Eisten.


Frans lantas menghampiri wanita itu dengan memelas. "Ada apa, ma?" sekali lagi ia bertanya saat menduduki sofa di samping Lusi.


"Kamu tahu dimana kakakmu? Dari semalam sampai saat ini belum pulang" ucap Nyonya Eisten.


"Tidak tahu, ma" jawab Frans, acuh tak acuh. Walau begitu, terselip dipikirkannya bahwa sang kakak sedang bersama Mona. Wanita yang mampu membuat sang kakak tak terkontrol kini telah kembali.


"Coba kamu hubungi dia. Mama dan Lusi sudah menghubungi dia berulang kali, tapi nomornya selalu sibuk" ucap Nyonya Eisten.


Awalnya Frans malas menuruti ibunya, toh sang kakak pasti tidak mengangkat panggilannya juga. Frans sangat kenal kakaknya, kalau menyangkut Mona, sang pujaan hati kakaknya itu, pastinya ia akan sangat susah dihubungi. Namun lebih baik mencoba, karena ia lebih malas mendengar desakan dari sang ibu.


Beberapa kali Frans menghubungi Franky. Seperti dugaannya barusan, pria itu pasti akan menolak panggilannya.


"Dia pasti sedang sibuk, ma" ucap Frans.


"Coba sekali lagi" pinta sang ibu.


Dengan malas Frans mencoba lagi. Namun kali ini nomor Franky bukannya sibuk tapi tidak aktif. "Sudah tidak aktif, ma" ucap Frans.


"Anak itu benar-benar. Kemana dia seharian ini?" Nyonya Eisten mulai emosi, namun tangan lembut Lusi mencoba mengelus pelan tangannya, berusaha menenangkannya.


"Mungkin Franky memang sedang sibuk, ma. Kalau begitu, biar Lusi berangkat sendiri saja" ucap Lusi.


"Jangan, sayang. Jangan sendiri. Biar Frans saja yang temani kamu" ucap Nyonya Eisten begitu membuat Frans kebingungan. "Frans, kamu temani kakak ipar-mu pergi cek kehamilan" sambung sang ibu menatap penuh harap pada anak laki-laki keduanya itu.


"Kenapa harus Frans, ma?" tanya Frans, ia juga ingin protes tapi melihat tatapan ibunya membuat suara pria itu tercekat tertahan. "Kenapa tidak besok saja?" tanya Frans lagi.


Nyonya Eisten dan Lusi saling bertatapan. Frans melihat sang ibu yang tersenyum malu-malu membuat ia mengernyit bingung.


"Mama ingin liat janinnya lewat hasil USG. Mungkin mama ngidam...?" ucap Lusi ragu-ragu. Karena dia juga heran, kenapa mertuanya ini yang ngidam? Padahal, dia dan Franky yang seharusnya ngidam. Entah permintaan ibunya ini bagian dari ngidam atau tidak, dia juga ragu.


Frans terkekeh mendengar penjelasan mantan pacar yang sekarang berstatus kakak iparnya itu. "Kalau begitu mama saja yang temani kamu. Katanya mau lihat bayinya, kan?" tanya Frans.


"Mama juga mau temani Lusi tapi hari ini mama ada urusan. Mama dan papa mau bertemu orangtuanya Onya" timpal Nyonya Eisten dengan gemas. "Nanti Lusi video call mama sesampainya kalian di sana" sambungnya.


Mau tidak mau, Frans harus menemani Lusi ke rumah sakit. Sungguh, Frans benar-benar kesal dengan Franky, karena kakaknya itu memang tidak tahu diri. Alhasil dari ketidakpedulian Franky membuat sang adik harus menggantikan posisinya saat ini.


Kini Frans dan Lusi telah sampai di rumah sakit. Frans melenggang masuk diikuti Lusi. Pria itu acuh tak acuh pada Lusi membuat wanita itu mendesah panjang.


Frans berhenti. Dia membalikan tubuhnya dengan santai sambil memasukan kedua tangannya disaku celananya. "Aku brengsek? Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?" tanya Frans dengan datar.


"Ya, kamu dan kakakmu itu benar-benar brengsek. Kau pikir selama kita pacaran..."


"Ayolah, Lusi, hubungan kita sudah berakhir" timpal Frans namun tak berhasil menghentikan wanita hamil itu.


"... aku tidak tahu kalau kau hanya menyukai Onya? Sedangkan aku hanya dijadikan pelampiasan olehmu. Apa yang aku ucapkan tidak benar, hah?" bentak Lusi dengan penuh emosi.


Keduanya langsung terdiam dengan posisi saling berhadapan. Lusi bahkan tidak tahu kenapa dia bisa berkata seperti itu. Selama ini dia memendam kesedihan dan kemarahannya, namun saat ini entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Aku pikir kita tidak punya masalah lagi, Lusi. Karena kita sudah mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik" ucap Frans, tetap datar. Namun dia tidak menyangka jika wanita itu bisa berpikir demikian.


"Maaf, aku hanya emosi karena kakakmu terus mengacuhkan aku" ucap Lusi lalu kembali melangkahkan kakinya melewati Frans.


"Tapi aku rasa kamu yang salah, bukan aku. Kamu sendiri mengencani kakakku saat kamu masih berstatus pacarku. Tapi itu sudah berlalu dan aku sudah melupakannya, karena kita sudah punya pasangan masing-masing" ucap Frans menghentikan langkah kaki Lusi. Sebenarnya Frans sangat malas membahas masa lalu mereka. Namun dia tidak mau masalah ini terus berlanjut. Lebih baik ia menyelesaikan masalah mereka sekarang.


"D-arimana kamu tahu?" tanya Lusi dengan gagap.


Frans tidak segera menjawabnya. Pria itu menarik tangan wanita itu menuju taman disekitar rumah sakit itu. Mengingat wanita itu sedang hamil, perlahan ia menyeimbangi langkah kaki mereka.


"Frans, kenapa kita ke sini?" Lusi protes mengingat jadwal pemeriksaannya sebentar lagi.


"Kita selesaikan masalah kita dulu" tegas Frans membimbing wanita hamil itu duduk di kursi taman.


"Kau sudah dengar apa yang aku ucapkan barusan. Jadi jangan pura-pura bodoh, dan jangan harap bisa membohongiku. Waktu itu aku melihatmu dengan kak Franky berkencan di bar, dan itu salah satu alasan aku memutuskan hubungan kita. Walaupun kamu memang benar, alasan utama aku memutuskan hubungan kita karena aku suka sama Onya" jelas Frans membuat Lusi terkekeh penuh arti.


"Sudahlah, Frans. Aku juga sudah melupakanmu. Soal ucapan-ku tadi, anggap saja karena hormon kehamilan makanya aku emosi seperti itu" balas Lusi.


Singkat sekali menyelesaikan masalah mereka. Mungkin memang benar kalau wanita itu sudah melupakan Frans, dan luapan emosinya tadi hanya ketidaksengajaan karena hormon kehamilannya.


Sementara Frans yang kini menemani Lusi mengecek kehamilannya, tanpa sadar pria itu melupakan Onya. Gadis itu sudah menyelesaikan urusannya di kampus. Kini ia hendak pulang, namun beberapa kali menghubungi Frans, panggilannya tak kunjung dijawab.


Onya lantas mengalihkan panggilannya pada ibu mertuanya. Pikirnya, mereka semua sedang berada di rumah saat ini. Dengan begitu ia bisa menyampaikan pesan pada Nyonya Eisten agar wanita itu bisa memerintah Frans untuk segera menjemputnya.


Sayangnya, Nyonya Eisten justru berada diluar rumah. Apalagi mendengar ucapan ibu mertuanya itu bahwa Frans sedang menemani Lusi ke rumah sakit membuat Onya sebal sendiri.


Eits, jangan salah dengan respon Onya itu. Ia memang sebal, namun bukan karena cemburu. Gadis itu hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Frans. Tindakan pria itu justru tidak masuk akal dengan tujuan mereka menikah. Bukannya membuat wanita itu menyesal karena telah mengkhianati Frans, justru membuat wanita itu merasakan kepeduliannya.


Sungguh gadis yang tak berperasaan! Masa ia membenarkan upaya Frans itu, apalagi pada wanita hamil. Sungguh, Onya benar-benar dibodohi oleh Frans.


Tadi saja Nyonya Eisten memutuskan panggilan Onya. Kini ponsel Onya kembali berdering. Dilihatnya Nyonya Eisten kembali menghubunginya.


"Halo, ma. Ada apa?" tanya Onya.


"Sayang, nanti Franky yang akan datang menjemput-mu. Tunggu beberapa menit lagi, ya...?" pinta Nyonya Eisten.