
BASA-BASI DULU YA, GUYS. HADEH, LIONA LAGI LIONA LAGI. 🙄
“Pa, kata nenek adiknya Io udah mau lahir sekarang ya?” tanya Liona. Anak kecil itu sedang duduk diatas tempat tidur sambil memperhatikan ayahnya yang sibuk memasukan beberapa pakaian kedalam koper.
Hari ini Onya sudah dibawa ke rumah sakit. Wanita itu akan melahirkan hari ini atau mungkin besok malam.
“Iya, sayang. Jadi malam ini Liona tidur sendiri dulu ya?” ucap Frans. Pria itu kemudian berdiri dan menghampiri anak perempuannya itu.
“Gak mau, Io mau tidur sama mama” ucap Liona sambil menggeleng kepalanya.
“Io mau tidur di rumah sakit?” tanya Frans.
“Io mau tidur sama mama” ucap gadis kecil itu kembali.
“Mama mau tidur di rumah sakit dulu sampai adiknya Io lahir” ucap Frans sambil menyodorkan tangannya untuk menggandeng tangan anaknya.
“Ayo kita ke rumah sakit. Io mau ketemu mama, kan?” ucap Frans.
“Mau” ucap Liona sambil mengangguk senang. Gadis kecil itu turun dari atas tempat tidur dan menggandeng tangan ayahnya.
Frans lantas menuntun anak perempuannya itu keluar kamar menuju depan rumah.
Saat ini hanya ada Frans dan Liona di rumah besar itu. Tuan dan Nyonya Eisten sudah berada di rumah sakit sedari tadi.
Tadi setelah mengantar Onya ke rumah sakit, Frans kembali ke rumah untuk mengambil pakaiannya dengan pakaian istrinya. Hanya dia yang tahu pakaian apa yang akan ia pakai, dan yang Onya sukai.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Liona ikut berbaring bersama ibunya diatas tempat tidur.
Terkadang Frans tidak suka anaknya berdempetan dengan istrinya. Apalagi disaat ia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri, anaknya itu selalu menggangu.
Namun ia lebih bahagia melihat kedekatan dua orang yang dicintainya itu. Dulunya Onya dan Liona sangatlah tidak akur. Kadang Frans harus menengahi keduanya saat bertengkar.
Tapi lihatlah sekarang. Kehadiran anak keduanya semakin menambah kebahagiaan keluarga kecil itu. Istri dan anaknya malah semakin akur.
Hari semakin larut. Kata dokter, Onya tidak bissa operasi sekarang kalau mau melahirkan normal.
Kali ini Onya berinisiatif melahirkan normal. Berbagai usaha ia lakukan semenjak mengandung selama sembilan bulan itu. Ia banyak berolahraga, khususnya jalan pagi.
Kini Frans dan Liona sedang menemani Onya disebuah kamar inap. Diluar sana ada Tuan dan Nyonya Eisten, juga Tuan dan Nyonya Wiranta.
Di kamar inap itu, Frans terus memperhatikan Liona yang sepertinya tidak nyenyak tidur bersama Onya. Frans yang tadinya duduk disofa kemudian menghampiri anaknya itu.
"Liona tidur sama papa saja di sofa, atau mau pulang sama nenek?" Tanya Frans setengah berbisik karena takut mengganggu tidur istrinya.
"Io gak bisa tidur" ucap Liona seraya bangun dari tidurnya. Bukannya turun dari tempat tidur itu, dia malah berbaring dibawah perut Onya dan memeluk perut besar itu.
"Io ingin main sama adik. Kenapa malam ini adik gak mau main?" Tanyanya.
Ternyata ini yang membuatnya tidak tidur. Sudah jadi kebiasaan Liona saat akan tidur. Pasti setiap malamnya bayi dalam perut Onya akan menendang. Itulah yang dimaksud Liona kalau dia ingin main dengan adiknya.
Liona kembali bangun dan meletakan kepalanya diatas perut Onya membuat wanita itu terusik.
"Frans!" Ucap Onya samar-samar melihat pria itu. "Aku capek, jangan ganggu dulu" sambungnya.
Frans mengangguk paham.
"Liona, adiknya gak bisa main sekarang. Jangan ganggu mama tidur dulu ya, sayang. Nanti besok saja mainnya, kan besok Liona sudah bisa lihat adiknya" ucap Frans seraya mengangkat anak perempuannya dari sana.
"Io mau tidur sama mama" rengek anak gadis itu.
Saat berhasil menjauhkan anak itu dari ibunya sontak suara tangis Liona pecah.
Suara tangis Liona terdengar sampai diluar sana. Pasalnya pintu ruangan itu sedang terbuka lebar.
Tuan dan Nyonya Eisten maupun orangtuanya Onya langsung masuk ke ruangan itu.
"Io kenapa lagi, Frans?" Tanya Nyonya Eisten menghampiri anak dan cucunya itu.
"Io mau tidur sama mama. Papa larang" ucap Liona mengadu.
"Io jangan ganggu mama dulu sampai besok. Mama kan lagi sakit, jadi hari ini Io tidur dengan nenek dulu ya?" Ucap Nyonya Eisten sambil merentangkan tangannya ingin mengambil alih gendongan Frans.
"Io mau tidur dengan mama" ucap gadis kecil itu lagi.
Onya yang sedari tadi sudah bangun karena anaknya menangis hanya bisa menghela nafasnya. Wanita itu sedang tidak enak badan karena obat yang dikasih dokter. Jadi kebisikan seperti semakin menyiksaknya.
"Kalau gitu Liona tidur dengan papa di disebelah mama. Jangan ganggu mama tidur dulu malam ini" ucap Frans sambil menunjuk tempat tidur yang ada disebelah Onya.
Melihat Liona terus menggeleng kepalanya membuat Frans pusing. Dia hanya tidak mau mengganggu istrinya istirahat.
"Sudah besar masih saja nangis" ucap Onya yang ikut kesal dengan sikap keras kepala anaknya itu.
Frans membawa Liona keluar kamar itu diikuti oleh Nyonya Wiranta.
"Kalau Liona tidak nurut, nanti Liona pulang dan tidur dengan nenek" ucap Frans sesampainya mereka diluar sana.
"Io mau Oma gendong?" Tanya Nyonya Wiranta.
Melihat penolakan cucuknya membuat Frans dan Nyonya Wiranta menghela nafas.
"Frans, bawa saja dia tidur dengan mamanya. Nanti kalau sudah tidur, kamu bisa angkat ke tempat tidur sebelah"
Mau tidak mau, Frans harus menuruti saran dari ibu mertuanya itu. Liona masih kecil pasti sulit dikasih pengertian.
"Liona, jangan nangis lagi. Nanti tidur dengan mama. Asal jangan ganggu mama" ucap Frans.
Namun anaknya itu masih sesegukan.
"Kalau Liona masih nangis, Liona tidak boleh tidur sama mama" ucap Frans lagi.
"Io tidak nangis lagi" bantah Liona sambil geleng-geleng kepala.
Semua orang meninggalkan mereka di ruangan itu bersamaan dengan Liona yang sudah berhenti menangis. Barulah Frans membawa masuk anaknya itu kedalam sana.
"Lihat, mama sudah tidur" ucap Frans sambil menunjuk wanita itu dengan dagunya.
"Liona yakin mau ganggu mama tidur?" Tanya Frans lagi.
"Io janji gak ganggu. Papa taruh Io di samping mama saja" ucap anak itu.
Frans meletakan anaknya di samping istrinya berbaring. Perlahan agar tidak mengganggu istrinya tidur.
Namun saat Liona memeluk ibunya membuat wanita itu membuka matanya yang sayu. Frans sontak menepuk jidatnya dengan lambat agar tidak bersuara.
Namun melihat respon Onya membuat Frans bernafas lega. Wanita itu kembali memejamkan matanya sambil menepuk-nepuk anaknya seperti yang biasanya Frans lakukan.
Beberapa saat kemudian. Frans yang tidak tidur dari tadi berinisiatif untuk melihat anak dan istrinya.
Ternyata Liona sudah tidur. Sementara tangan istrinya masih sibuk menepuk-nepuk anaknya, tanda kalau wanita itu belum tidur.
"Sayang, tidur disebalah saja" Frans mendekati istrinya dan berbisik membangunkan wanita itu.
"Aku kesusahan berdiri. Nanti Io bangun. Kamu gendong ya?" Ucap Onya membuat Frans terkekeh.
"Dengan senang hati, sayang"
Saat Frans hendak menggendong istrinya, Liona terbangun. Namun sepertinya anak itu hanya mengingau.
Frans dan Onya bernafas lega saat keduanya sudah berbaring ditempat tidur sebelah. Ya saat Frans hendak berpindah ke tempat sebelah, Onya menahannya dan meminta pria itu tidur bersamanya.
Keduanya tidur saling berhadapan dan berpelukan. "Frans, aku hanya ingin punya dua anak. Ini yang terakhir ya?" ucap Onya.
"Kenapa?" tanya Frans sambil mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak kuat. Rasanya sakit dan tidak enak" ucap Onya.
Frans pun mengerti. Dia tidak mau memaksakan kehendak istrinya. Walau sebenarnya dia ingin punya banyak anak, namun dia tidak boleh egois, karena yang melahirkan dan merasakan prosesnya adalah istrinya.
"Baiklah" ucap pria itu sembari mencium hidup dan dahi istrinya.