
"Jadi kau tidak marah lagi?" tanya Frans.
Kini Frans dan Onya berada didalam mobil. Tadi setelah Tuan dan Nyonya Eisten pulang, Frans langsung menawari Onya tumpangan.
"Tadi aku udah bilang 'maaf', jadi jangan dibahas lagi" ucap Onya dengan jengkel.
Kalau diingat-ingat lagi, dia sangat marah dan menyesal. Marah karena diperdaya oleh pria itu di pagi pertama mereka, tapi juga menyesal karena sudah berani membohongi ayahnya. Itu bukan pertama kali ia berbohong, namun kebohongan itu dipikirnya telah melewati batas.
"Dan tidak jadi ke luar negeri?" tanya Frans lagi.
Onya memelas mendengar pertanyaan kali ini. Wanita itu tak menjawab, ia memilih mengabaikannya.
"Onya? Aku sedang bertanya!" ucap Frans.
"Tentu saja!" jawab Onya dengan ketus sembari melotot tak suka ke arah Frans.
Baru saja baikan, wanita itu kembali memanas-manasi situasi. Frans yang sedang menyetir pun ikut jengkel dibuatnya. Pria itu lantas menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Kenapa berhenti?" tanya Onya.
Frans membenarkan posisi duduknya agar bisa leluasa menatap Onya.
"Pikirkan sekali lagi. Sebaiknya kamu tidak pergi" ucap Frans setenang mungkin. Ia mencoba bernegosiasi dengan damai dulu. Kalau wanita itu masih keras kepala, baru ia akan bertindak keras.
"Kenapa masih membujukku? Bukannya rencana kamu sudah berhasil? Karena-mu, aku tidak diterima di universitas manapun!" tuduh Onya.
Mungkin tepat sasaran, karena Frans tidak menyangkal, justru ia tersenyum mendengar tuduhan itu.
Sialnya Onya menyadari senyuman pria itu. "Jangan senang dulu. Itu karena aku belum minta bantuan papa. Aku yakin papa punya banyak kenalan diluar negeri, jadi aku masih punya kesempatan" ucap Onya.
"Kenapa tidak dari kemarin kamu meminta bantuan papa? Apa kau yakin papa bisa diandalkan? Sepertinya kamu lupa dengan keberadaan mama" ucap Frans sembari tersenyum tipis.
"Brengsek kau, Frans!" umpat Onya.
Frans yang gemas hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia menerkam wanita itu sekarang juga. Namun ia tahu diri. Ia tidak mau membuat wanita itu semakin keras kepala.
"Kenapa sih kamu selalu membatasi kebebasan nya aku? Sementara aku tidak pernah membatasi kamu. Apa kau lupa perjanjian pernikahan kita?" tanya Onya dengan kesal.
"Jadi sebenarnya apa masalah-mu? Kenapa kamu kekeh untuk kuliah diluar negeri?" bukannya menjawab, Frans malah balik bertanya. Pria itu ingin mencari tahu alasan wanita itu ingin kuliah di luar negeri. Karena sejauh ia mendengar jawaban Onya, ia menyadari bahwa pagi pertama mereka waktu itu bukanlah masalah utama. Pasti ada yang lain, bukan?
"Karena kamu membatasi kebebasan-ku. Aku ingin ke sana agar bisa bebas dari-mu" jawab Onya dengan tak sabaran.
"Kalau begitu jangan pergi. Aku janji akan menepati perjanjian kita" ucap Frans tanpa ekspresi.
Onya terkekeh mendengarnya. Ia tidak mau percaya buta lagi pada pria itu. Sudah berkali-kali ia minta dibebaskan. Namun Frans hanya membebaskannya sementara, dan lebih mengekang kebebasannya.
"Ucapan-mu tak bisa dipercaya. Kau memang berjanji tapi kau tidak pernah menepati" ucap Onya dengan sinis-nya.
"Bagaimana?" tanya Frans.
"Aku akan memberimu waktu sampai jam 6. Kalau kau mau pergi denganku ke pesta, artinya rencana-mu itu batal. Jadi pikirkan baik-baik, Onya. Kali ini aku benar-benar menawari-mu kebebasan. Dan lagi, pikirkan baik-baik kalau usaha-mu ke luar negeri tidak punya kepastian. Dan pikirkan konsekuensinya, ingat papa dan mama-mu yang pro dan kontra dengan keputusan-mu itu" ucap Frans panjang lebar sembari memandang lekat wajah mungil itu. Onya hanya diam mendengarnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Onya berusaha mencerna ucapan Frans barusan. Sepertinya wanita itu semakin bimbang dengan keputusannya.
Tiba dikediaman Wiranta, Onya yang hendak turun dari dalam mobil malah ditahan Frans.
"Pikirkan baik-baik. Aku menunggumu malam ini" setelah Frans berpesan, tanpa permisi ia langsung mengecup pipi wanita itu dengan lembut.
Entah kenapa Onya tak menolak. Wanita itu justru memejamkan kedua matanya sampai Frans kembali menyadarkannya.
"Jangan lupa bunganya" ucap Frans sambil meletakan benda cantik itu keatas pangkuan Onya.
......*......
Malam harinya Onya selesai makan, ia bergegas kembali ke kamar.
Di kamarnya, Onya memperhatikan meja kerja dan pintu menuju kloset secara bergantian. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berusaha memilih, antara pintu itu atau meja kerjanya.
Onya mengeluarkan nafasnya dengan berat. Nyatanya malam ini dia harus membuat keputusan yang tepat. Wanita itu segera mendekati meja kerjanya, tempat dimana laptop terbaiknya masih menyala terang. Dilihatnya beberapa persyaratan untuk tembus kuliah ke salah satu universitas diluar negeri.
Dengan berat hati ia menutup laptop itu dan meraih ponselnya diatas meja. Wanita itu mengutak-atik ponselnya, setalah itu ia segera bersih-bersih diri di kamar mandi.
Onya berendam hampir setengah jam di bathtub dan membilas tubuhnya setengah jam lamanya. Bisa dihitung melewati satu jam ia berada di kamar mandi.
Hanya dengan menggunakan handuk wanita itu keluar dari kamar mandi. Onya terkejut saat pintu kamar mandinya terbuka lebar. Dilihatnya Frans sedang bersantai diatas tempat tidurnya.
"Kau! Bagaimana bisa secepat itu kau ke sini?" Onya bertanya sambil berjalan menuju kloset. Bertanya tanpa berniat mendengar jawaban dari pria itu.
"Tentu saja cepat. Kamu-nya yang kelamaan mandi" jawab Frans.
Tanpa Onya sadari, pria itu malah mengikutinya ke kloset. Saat Onya sedang mencari pakaian yang cocok di lemarinya, Frans pun bersandar di lemari, tepat di samping Onya.
"Keluar, Frans!" ucap Onya tanpa menatap pria itu. Ia masih sibuk mencari pakaiannya.
"Jangan pakai pakaian yang seperti waktu itu. Pakai yang sedikit tertutup, karena pesta kali ini akan ada banyak pria daripada wanita" ucap Frans.
Onya berhenti sejenak dan memperhatikan wajah tak bersalah pria itu. "Katanya mau memberiku kebebasan. Kenapa masih mau mengatur-ku?" tanya Onya.
"Kebebasan pasti ada batasannya, Onya. Aku memang membiarkan-mu bebas kali ini, tapi tidak membiarkan-mu telanjang lagi" ucap Frans dan berlalu begitu saja.
"Pria gila!" umpat Onya sambil meraih satu pakaian dengan asal dan segera memakainya.