
TAHAN EMOSI GUYS! π€ππ
Onya memandang langit-langit kamar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia meremas kainnya dengan sangat erat. Rasanya seperti mimpi dan memuakan saat mengingat kembali sekeping kejadian tadi pagi. Ia sangat membenci Frans, dia juga membenci dirinya sendiri.
Dilihatnya seorang pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wanita itu mulai bernafas tak beraturan, dadanya serasa terbakar panas. Ia sangat benci pada wajah itu, hingga sengaja ia menendang pria itu sampai jatuh dari atas tempat tidur.
"Ah..." Frans sedikit meringis karena punggungnya membentur lantai. Pria itu berusaha berdiri membuat sih pelaku sontak menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya yang masih polos. Wanita itu juga tak sengaja melihat kepemilikan pria itu, karena keduanya sama-sama polos tanpa satu helai benang pun saat ini.
"Kau sudah bangun?" Tanya Frans.
Tidak ada jawaban membuat Frans tersenyum miring. Pria itu kemudian masuk kedalam selimut dan kembali menerkam tubuh polos seorang wanita yang sedang bersembunyi didalam sana.
Saat Frans memeluk Onya, wanita itu kembali memberontak. "Lepas, sialan. Apa yang kau lakukan?" Onya berteriak sambil mencakar tubuhnya Frans. Dan sih korban pun segera melepasnya.
Frans terpaku melihat lengan dan perutnya yang memerah, ada bekas cakaran di sana. "Kenapa dengan-mu?" Tanya Frans, heran dengan sikap Onya saat ini. Dirasanya ia tidak melakukan kesalahan apapun. Dan dikiranya Onya juga menginginkan hal yang sama. Ya, Frans ingin kembali mencoba kejadian tadi pagi.
Onya muak mendengar pertanyaan itu. "Cih, sudah memperkosa-ku dan masih berani bertanya seperti itu?" Sarkas Onya.
"Memperkosa bagaimana? Kau juga menikmatinya, sayang" ucap Frans dengan percaya diri.
"Kau!" Geram Onya sambil menelunjuk ke arah pria itu. "Aku akan memberi perhitungan padamu" sambungnya seakan ingin mengancam pria itu.
"Hei, memangnya kenapa? Bukannya kita melakukannya dengan sukarela? Kau juga tidak menolak sentuhan-ku. Lagian apa masalahnya? Kau kan istri-ku sekarang" ucap Frans setenang mungkin. Ia berusaha mendekati Onya agar bisa menenangkannya, namun wanita itu malah menjauhinya.
"Istri sementara!" Ledek Onya. "Bukannya sudah kubilang, tunggu sampai aku siap baru kita bisa melakukannya! Apa kau tidak mengerti juga, hah?" Bentak Onya kemudian.
"Apa bedanya? Hei, tenangkan dirimu" ucap Frans sambil berusaha meraih tangan wanita itu, namun Onya malah memukul-mukul dadanya saat ia berusaha menenangkannya.
Flashback On
Udara dingin di pagi itu seakan tak terasa.
Awalnya Onya berontak saat disentuh oleh Frans, tapi akhirnya ia pasrah saat pria itu berhasil mencapai titik sensitifnya. Frans meremas pinggangnya hingga tubuh gadis itu menegang, darahnya mendesir panas meminta segera disegarkan.
"Aku akan membenci-mu kalau kau terus melanjutkannya" ucap Onya dengan lirih, sayangnya mulutnya tak sejalan dengan respon tubuhnya. Gadis itu mengancam sambil menikmati sentuhannya Frans, alhasil pria itu tetap melanjutkan aksinya.
"Ah..." suara ******* itu kembali terdengar dari mulut gadis itu saat Frans kembali meremas pinggangnya. Frans tersenyum sembari mencumbui gadis itu. Sepertinya ia sudah tahu kelemahan gadis itu.
Kali ini Onya tak bisa berpikir jernih. Saat Frans hendak menjauhi tubuhnya, Onya ikut meremas pinggang pria itu. Persetan dengan harga dirinya, sepertinya Onya sudah siap melakukannya. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Frans.
Kedua lutut Frans bertumpu diantara kedua kaki Onya. Ia menjauh dari tubuh polos itu dan hendak membuka handuknya, namun saat Onya meremas pinggangnya, pria itu melepasnya dengan kasar. Ia kemudian membuka handuknya hingga tersisa boxer hitam, kemudian ia kembali menindih tubuh mungil itu.
Sesekali ia meremas pinggangnya Onya, takut-takut gadis itu kembali memberontak. Tanpa Onya sadari, kini tubuh pria diatasnya itu sudah polos. Entah kapan pria itu melepas boxer-nya, padahal sedari tadi ia sibuk bermain dengan tubuh gadis itu.
Tidak mau berlama-lama, Frans segera mengambil posisinya. Ia sudah tidak tahan untuk memasuki gadis itu. Tanpa melepas pelukan dan ciumannya dari gadis itu, Frans berusaha memasukan miliknya pada milik gadisnya itu. Awalnya susah, apalagi Onya yang sedari tadi menikmati ciumannya tiba-tiba kembali memberontak.
Frans tidak menyerah. Seakan tuli atas ucapan Onya barusan, pria itu kembali mendorong miliknya.
"Ah... Itu sakit!" Ucap Onya sambil memukul-mukul lengan pria itu. "Lepas! Frans gila, lepas!" Onya kembali memberontak, sayangnya Frans sudah berhasil mencetak gol didalam sana. Sebenarnya gadis itu hanya merasakan sakit saat kepunyaan pria itu berusaha memasukinya, dan sekarang rasa sakitnya sudah hilang saat milik pria itu sudah terbenam didalam sana. Hanya saja, gadis itu merasa aneh dengan bagian bawah perutnya itu.
"Sayang kalau ditanggung" ucap Frans dengan parau. Pria itu lantas kembali meremas pinggangnya Onya, alhasil Onya kembali berhenti berontak.
Flashback off
Kini Onya sudah tidak perawan. Sekarang dia bukan lagi seorang gadis, melainkan wanita bekas suaminya sendiri.
Selama kegiatan panas itu, Onya maupun Frans sama-sama menikmatinya. Itu artinya mereka melakukan dengan sukarela, tanpa paksaan. Ini bukan tindakan pemerkosaan, bukan? Seperti kebanyakan kasus dimana seorang suami memperkosa istrinya dengan cara paksa dan kasar?
Sayangnya Onya malah menganggap kegiatan panas mereka di pagi itu sebagai tindakan pemerkosaan. Ia merasa Frans merendahkannya dengan memaksanya melakukan hubungan suami-istri. Kalau diingat-ingat, awalnya Onya memberontak dan Frans begitu kasar mencumbuinya. Dan saat mereka akan melakukan penyatuan, seiingat Onya, dia kembali memberontak, namun Frans tetap memaksakan kehendaknya.
...*...
Sementara ini Frans masih berusaha menenangkan Onya. Namun dia juga punya batas kesabaran. Saat Onya terus mencibirnya dengan kata-kata pedas, dan bahkan memberontak saat Frans ingin memeluk dan menenangkannya, Frans ikut meradang dibuatnya.
"Onya!" geram Frans meraih kedua tangan Onya dan menggenggamnya erat diatas kepala wanita itu.
"Lepas, sialan!" umpat Onya. Wanita itu berniat melontarkan kata-kata kotor lainnya, namun belum sempat ia bicara, Frans sudah membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.
Mendapat serangan lagi dan lagi membuat Onya berusaha memberontak. Dia tidak mau kembali terlena. Namun saat Frans kembali meremas pinggangnya membuat tubuh wanita itu kembali menegang, namun tidak, sekuat mungkin ia menipu tubuhnya sendiri.
Onya menggeleng-geleng kepalanya agar bisa menghindari ciuman Frans. "Setelah ini jangan harap kau bisa melihatku" ucap Onya.
Frans sontak menghentikan aksinya. Nafasnya bergemuruh hebat apalagi keduanya sama-sama polos saat ini. "Tapi sumpah, aku menginginkannya sekarang" ucap Frans dengan parau.
"Itu urusan-mu, brengsek" ucap Onya. Dadanya bergemuruh hebat, bagaimana tidak, ia sangat tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Kulit polos mereka saling bersentuhan, bahkan kepemilikan pria itu sangat terasa diarea pahanya.
Frans merasa sakit hati dengan umpatan wanita itu, segera ia menempelkan jari telunjuknya pada bibir wanita itu.
"Katakan masalah-mu sekarang. Dan kenapa kau malah menikmati sentuhan-ku pagi tadi?" tanya Frans sambil mengelus bibir mungil dan lancang itu.
"Ya, aku memang menikmatinya, puas?" ucap Onya dengan lantang. "Tapi aku tidak mau hamil sekarang. Kita belum lulus, Frans!" Onya berteriak didepan wajah pria itu.
"Kita akan mendaftar wisuda segera. Pikir Onya, jika kegiatan kita tadi membuatmu hamil, maka perutmu masih aman di hari wisuda nanti. Jadi tenanglah!" ucap Frans.
π€£ Aku gak nyangka kalau kalian bisa sampe kesel banget sama sifatnya Onya. Tapi ya mau gimana, aku udah terlanjut buat sifatnya kaya gitu π€ͺ... Tapi tenang bos-bosku, ada saatnya Onya menjadi wanita penurut π. Jadi panas-panas dulu aja ya!!!
SUMPAH, AKU JUGA EMOSI SAMA ONYA. π