A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
AMARAH FRANS



Dua pasangan (Frans-Onya dan Franky-Lusi) memutuskan untuk pulang kala selesai mengukur pakaian pengantin masing-masing. Dalam perjalanan pulang, Onya kembali mengingat ucapan Alka, jadi akan lebih baik jika ia tidak menginap di apartemen Frans.


"Kak Franky nanti antar Onya ke rumah ya?" ucap Onya pada Franky yang sedang menyetir.


"Kau tidur saja di apartemenku hari ini. Lagian mama dan papamu tidak ada di rumah" ucap Frans.


"Besok aku harus kuliah. Sementara mobilmu sedang di bengkel" ucap Onya, menggunakan alasan itu untuk menghindar.


"Kalau begitu, aku ikut menginap di rumahmu" ucap Frans. Pria itu menaruh curiga pada Onya semenjak pertemuan mereka dengan Alka.


"Ngapain? Kamu juga tidak punya pakaian ganti di sana" ucap Onya.


"Nanti kak Franky singgah dulu di apartemen aku, nanti aku ambil pakaian ganti buat menginap di rumah Onya" ucap Frans, tidak mau mengalah.


Seperti yang dikatakan oleh Frans, ia mengambil perlengkapannya untuk menginap di rumah Onya. Franky dan Lusi pun kembali mengantar mereka ke rumah gadis itu.


Onya tidak bisa berbuat apa-apa, karena Frans bersikeras untuk menginap di rumahnya. Sesampainya di rumah gadis itu, ia memerintah pria itu tidur di ruang tamu.


"Kau tidur di ruang tamu. Jangan ganggu aku di kamar, aku sibuk" ucap Onya pada Frans, dan berlalu begitu saja.


Frans pun mengiyakan.


Hingga hari menjelang malam. Selesai makan malam, Onya dan Frans kembali ke kamar masing-masing. Namun Frans tak kunjung tidur. Pria itu masih terjaga karena takut Onya berubah pikiran, kemudian melarikan diri sebelum hari pernikahan mereka tiba.


Sementara di kamarnya Onya, gadis itu sedang menyibukkan diri dengan membaca buku. Sesekali ia melirik ke arah jam dinding. Sampai jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh membuat Onya bergegas keluar, karena sedari tadi ia sudah bersiap-siap.


Onya mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Dia tidak ingin seisi rumah, termasuk para pelayan melihatnya. Jadi dia harus berhasil keluar tanpa ketahuan.


Dengan hati-hati Onya membuka pintu gerbang rumahnya dan melangkah keluar. Setelah berhasil keluar barulah ia merasa lega. Gadis itu kemudian mengarahkan pandangannya kemana-mana, hingga akhirnya ia menangkap sosok yang dicari-cari. Seorang pria bermotor sedang memperhatikan ponselnya.


"Alka?" sahut Onya, tapi terdengar seperti berbisik. Onya lantas mendekati pria itu, dan kembali menyahutinya.


"Onya!" kaget Alka. "Aku baru saja ingin menghubungi-mu" sambungnya.


"Mana hadiah terakhir yang kamu maksud?" tanya Onya sambil menjulurkan tangannya.


"Hadiah terkahir yang aku maksud itu kencan terakhir. Kamu mau kan?" tanya Alka. Buru-buru ia mengambil sebuah benda yang berada di ransel belakangnya, kemudian memperlihatkan benda itu pada Onya.


Onya pun paham dan setuju untuk ikut dengan Alka. Gadis itu lantas menaiki motor Alka. Dan keduanya pun menyusuri jalanan Kota. Hingga motor yang dikendarai oleh Alka memasuki sebuah gerbang, tampak sebuah gedung yang pernah dikunjungi oleh keduanya. Tempat yang menjadi saksi Onya menerima Alka sebagai kekasihnya.


"Apa harus kesini?" tanya Onya dengan ragu. Melihat sekelilingnya terasa sepi. Tidak ada satu orang pun di sana.


"Aku menyewanya untuk kita berdua" ucap Alka sambil menarik tangan Onya. Keduanya berlari masuk ke gedung itu menuju lift.


Dan disinilah mereka berada. Di atas atap gedung itu. Onya duduk diatas dasar sambil menikmati pemandangan malam itu. Sementara Alka sibuk dengan teropongnya. Pria itu sibuk mencari-cari sebuah bintang yang ingin dilihat oleh Onya.


"Aku dapat!" ucap Alka membuat Onya mendekatinya. Pria itu mempersilahkan gadis itu untuk mengintip bintang yang ia maksud.


"Sebaiknya tidak, Onya. Nama itu bisa berdampak pada kepribadian anakmu. Mungkin saja dia akan tumbuh menjadi anak yang tampan, tapi tidak dengan wataknya jika didekati nantinya" gurau Alka.


"Apa aku harus menamainya Alka?" tanya Onya dengan sinis. Sontak Alka terdiam dari tawanya.


"Cukup sampai di sini, Onya. Kau harus melupakanku, dan harus menerima Frans sebagai suamimu nantinya" ucap Alka dengan tampang serius.


Sontak Onya tertawa membuat Alka mengernyit. "Aku hanya bercanda" ucap Onya sambil tersenyum singkat. Walau sebenarnya ia merasa tersinggung dengan ucapan Alka itu.


"Aku mencintai-mu, Onya. Tapi akan lebih baik kita melupakan rasa itu, karena kau akan segera menikah" ucap Alka membuat Onya tertegun. Ucapan Alka malah menimbulkan secercah harapan.


"Aku akan berpisah dengan Frans nantinya" ucap Onya dengan spontan.


"Apa maksudmu?" tanya Alka.


Onya hendak menjelaskan perihal pernikahan kontraknya dengan Frans, namun Alka lebih dulu memotongnya. Pria itu tidak mau berhubungan dengan Onya lagi setelah gadis itu menikah nanti.


"Jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Onya. Pernikahan bukanlah permainan, tapi janji suci antara kamu, dia, dan Tuhan" ucap Alka dengan tegas.


Melihat tatapan kesal Onya, Alka memalingkan wajahnya. Saat itu juga, Onya hendak mencium pipi pria itu, namun tidak sengaja Alka kembali menolehkan ke arah Onya, sehingga bibir keduanya saling bersentuhan.


Tidak jauh dari keberadaan keduanya, seorang pria baru saja sampai diatas atap. Dan ia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri, calon istrinya berciuman dengan pria lain. Api cemburu benar-benar membakar Frans. Dengan langkah cepat, pria itu mendekati kedua insan dan menarik kerah kemeja yang dikenakan Alka. Tanpa aba-aba pria itu melayangkan bogem mentahnya.


"Sialan, brengsek!" umpat Frans sambil meninju pria itu dengan membabi-buta.


Onya yang menyaksikan perkelahian itu menjadi marah besar. Namun ia hanyalah seorang gadis tak berdaya diantara kedua pria itu. Yang ia bisa ia lakukan hanyalah menarik baju Frans dari belakang sambil berteriak agar pria itu berhenti memukul Alka.


"Frans! Stop! Cukup, Frans! Apa yang kau lakukan?" teriak Onya.


"Kau melanggar janjimu, brengsek? Kau pikir aku main-main dengan ucapan-ku? Beraninya kau menciumnya di saat ia sudah memiliki calon suami" ucap Frans sambil beberapa kali menendang Alka yang sudah terkapar didasar.


"Frans, hei brengsek, stop!" sekali lagi Onya berteriak, bibir cantiknya dengan berani memaki Frans membuat pria itu berhenti.


Frans benar-benar menunjukkan taringnya pada Onya. Pria itu berbalik menatap Onya membuat Onya syok dan sedikit ketakutan. Tidak seperti biasanya Frans menatapnya seperti itu. Mata pria itu terlihat memerah dan begitu tajam menatapnya.


"Kau ingin lari? Kau pikir pernikahan ini akan batal dengan melarikan diri?" tanya Frans sambil melangkah mendekati Onya. Gadis itu semakin ketakutan, dan ikut memundurkan langkahnya.


"Apa maksudmu, Frans?" tanya Onya dengan datar. Berusaha tetap tenang, walau detak jantungnya semakin tidak beraturan.


"Heh, kau masih saja mengelak. Kau pikir aku bodoh? Selama kalian bertemu di butik, kau pikir aku tidak memahami gerak-gerik kalian berdua?" tanya Frans dengan sinis.


Ya, pria itu tidaklah bodoh. Namun ada beberapa kebodohan yang belum ia sadari. Ia pikir Onya berencana melarikan diri dengan Alka. Dan Frans begitu takut Onya melakukan tindakan bodoh itu, hingga membuat akal sehatnya hilang, dan berani menunjukkan taringnya di depan Onya.


Dan bagaimana bisa ia tahu keberadaan Alka dan Onya? Ternyata pria itu berjaga melalui jendela, makanya ia tahu saat Onya keluar rumah. Ia sempat mengikuti Onya dan Alka tanpa keduanya sadari.