
NOTE: Sorry ya guys, beberapa bab ini menceritakan masalah Franky dan Lusi dulu. Karena masalah mereka bisa mempermudah jalan cerita Onya dan Frans.
"Apa yang kalian lakukan selama ini?" bentak Franky benar-benar geram dengan sebuah berita buruk yang ia dapat dari para anak buahnya.
"Maaf, Tuan. Ketika kami tiba di lokasi, mobil tersebut sudah membawa Nona Mona..." ucapannya terpotong kala tangan kekar milik Franky melayang keras mengenai pipinya.
"Kau tahu dia dalam bahaya atau tidak?" tanya Franky seraya mengeratkan rahangnya. Ia benar-benar di kalut emosi, hingga tak bisa berpikir jernih. "Cari tahu plat nomornya dan temukan mereka" ucap Franky. Walaupun ia berusaha tenang sambil meyakinkan dirinya bahwa wanitanya akan baik-baik saja, namun tidak bisa. Ia tidak bisa tenang jika tidak melihat wanita itu dalam keadaan baik.
Bagaimana ini? Sepertinya para anak buah Franky kembali terjebak dalam masalah berat. Sewaktu mobil mereka tiba di lokasi, memang mereka melihat mobil yang menculik Mona. Namun plat nomornya tidak terlihat jelas karena tertutup lumpur.
"Maaf, Tuan. Sepertinya penculikan itu sudah direncanakan secara matang. Jadi plat nomor mobilnya pun mereka samarkan" ucap anak buahnya.
"Hei, kau..." Franky meraih kerah pria itu, dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Seperti seekor anjing yang merasa tertantang, bibirnya tertarik kebelakang hingga menunjukan gigi depannya saja. "Kau mau mati? Itu akan terjadi jika wanitaku tidak segera ditemukan. Jadi aku harus mendengar kabar baik darimu" ucap Franky sambil melepas kerah pria itu kembali.
Jika diukur, postur tubuh mereka sama saja. Franky memiliki tubuh kekar dan besar, hingga menyamai para anak buahnya. Jadi bisa saja ia menghajar mereka karena amarahnya terus bergejolak.
Franky bergegas masuk kedalam mobilnya. Ia melaju ke mansion dengan perasaan gelisah. Franky masih tidak bisa tenang, jadi ia mengebut.
Tibalah ia di mansion. Franky bergegas masuk kedalam sana untuk bertemu ayahnya. "Papa... Pa!" suaranya menggema didalam mansion. Beberapa kali ia menyahut, hingga akhirnya Tuan Eisten datang.
"Ada apa, Franky? Kenapa suaramu sangat mengganggu?" ucap Tuan Eisten sambil menuruni anak tangga.
"Apa papa bisa bantu Franky?" tanya Franky, tanpa basa-basi ia meminta bantuan pada ayahnya. "Franky membutuhkan orang kepercayaan papa untuk menyelidiki masalah Franky, pa" sambungnya.
"Masalah apa? Apa perusahaan kita sedang dalam masalah?" tanya Tuan Eisten.
Franky menggeleng cepat. "Ini masalah Franky, pa. Nanti akan Franky ceritakan kalau penyelidikannya berhasil" ucapnya.
Tuan Eisten jelas berpikir bahwa masalah yang dimaksud oleh anaknya benar-benar mendesak. Dari ekspresi wajahnya sudah bisa dipastikan bahwa masalah yang sedang dihadapi Franky sangatlah serius. Tuan Eisten lantas mengajak Franky ke ruangannya. Kedua pria itu berdiskusi di sana. Tidak memerlukan penjelasan panjang lebar dari Franky, Tuan Eisten langsung mengarahkan orang-orang kepercayaannya untuk bekerjasama dengan Franky.
Setelah Franky berhasil meyakinkan ayahnya, dia langsung bergegas keluar. Namun di depan pintu, ia dihadang oleh Frans.
"Ada apa, Frans? Kenapa kau menghalangi jalanku?" tanya Franky dengan geram. Frans jelas mengernyit heran. Dia tahu kalau Franky sedang berhadapan dengan masalah serius sehingga ia berubah demikian.
"Apa ada masalah?" tebak Frans. Ia bersikap sewajarnya. Dengan kedua tangan yang berada disaku celana, pria itu menampilkan ekspresi datarnya.
Franky menyeret adiknya ke samping. Ketika ia hendak melangkah pergi, namun suara Frans kembali terdengar. "Aku tahu kau sedang bermasalah dengan Lusi. Tidakkah kau bertanggungjawab? Kenapa kau lari, seolah-olah menghindar darinya?" tanya Frans membuat langkah kaki Franky berhenti.
Keduanya sama-sama menoleh kebelakang. Salah satu alis Franky terangkat keatas. Apakah dia tidak terkejut? Tentu saja ia terkejut.
Darimana Frans mengetahuinya? batin Franky. Namun begitu, ia tetap bersikap tenang didepan Frans.
Sepertinya kedatangan Frans mengubah semuanya. Tadinya Franky melupakan Lusi karena kasus penculikan Mona. Namun pertanyaan Frans membuat pikirannya teralih pada Lusi. Yeah Tuhan, Franky benar-benar lupa dengan janjinya. Apa yang harus ia lakukan? Jangan pertanyaan itu, karena ia tidak merasa bersalah.
"Apa aku terlihat terkejut? Tentu tidak. Ayo kita bicara dihalaman belakang" ucap Franky. Ia melenggang pergi ketempat yang ia maksud. Dan di belakangnya diikuti oleh Frans.
Sesampainya mereka di sana, Franky membuka suara. "Darimana kau mengenal Lusi, Frans? Dan darimana..." ucapan Franky tertahan.
"... aku tahu masalah kalian?" sambung Frans. "Dia mantan kekasihku. Dan dia sendiri yang memberitahuku tentang kehamilannya" ucapan Frans mengundang keterkejutan dari Franky. Pikir Franky, Frans hanya menebak. Mungkin ia memiliki hubungan dengan Lusi, namun jika Frans mengetahui masalah mereka, itu sudah diluar dugaannya.
"Dia memberitahu-mu begitu?" tanya Franky. Dan dijawab oleh Frans dengan anggukan kepalanya.
"Sebaiknya kau temui dia, kak. Kalian harus segera menyelesaikan masalah ini" ucap Frans.
"Jangan mengaturku, Frans. Aku lebih tahu mana yang harus kulakukan" ucap Franky.
"Apa yang dia katakan itu benar? Bahwa anak yang dikandungnya adalah anakmu?" tanya Frans.
"Memangnya kenapa? Apa kau masih mengharapkannya?" tanya Franky sambil terkekeh mendengar pertanyaan adiknya.
Hening sesaat. Tidak ada balasan dari Frans. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan Franky, karena baginya, pertanyaan Franky bisa terjawab benar oleh perkiraan pria itu sendiri.
"Aku belum bisa memastikan kalau anak yang dia kandung adalah anakku" terang Franky, memecah keheningan diantara mereka.
"Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Frans. Entah kenapa dia sangat penasaran dengan urusan kakak laki-lakinya itu.
"Tentu saja melakukan tes DNA" jawab Franky dengan santainya.
"Lakukan itu secepatnya. Dan jika hasilnya mengatakan kalau anak itu benar-benar darah daging-mu, maka nikahilah dia" ucap Frans.
"Kau sepertinya sangat peduli padanya. Lalu bagaimana dengan Onya? Sepertinya kau..." ucapan Franky dicela oleh Frans.
"Tentu saja aku peduli. Apa kau tidak peduli pada anakmu, dan membiarkan darah daging-mu itu terlahir tanpa seorang ayah? Apa kau ingin menjadi pria brengsek, kak?" ucap Frans dengan sinis.
"Aku bukan pria brengsek, Frans. Tentu saja aku akan bertanggungjawab jika itu adalah anakku. Tapi..." ucapan Franky menggantung. Dia mendesah pelan, barulah ia melanjutkan ucapannya. "Bagaimana dengan Mona? Aku baru saja menemukannya. Dan masalah ini muncul dengan cepat".
"Kau menemukannya?" tanya Frans.
"Yeah, dan entahlah... hubungan kami akan berakhir karena kesalahan yang aku lakukan dengan Lusi" ucap Franky. Ia mendesah kasar sambil mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Kau terdengar seperti orang bodoh, kak. Kau menganggap masa lalu dan masa depan sebagai sebuah kesalahan?" Frans terkekeh. "Aku sangat beruntung karena mau menerima perjodohan dengan Onya. Jika saja aku membiarkan kakak bersama Onya, mungkin kau akan menyakitinya seperti sekarang. Kau mungkin akan berpaling dari Onya, dan lebih memilih Mona. Entah sihir apa yang wanita itu berikan padamu, sehingga kau menjadi pria tak berprinsip" ucap Frans panjang lebar. Tanpa sadar, ia mendapatkan tatapan tajam dari Franky.
"Aku tidak segila itu untuk menyakiti Onya"