A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
JANJI FRANS



"Memangnya kenapa? Apa masalahnya denganmu?" tanya Onya dengan sinis, menutup ketakutannya.


Tanpa peduli dengan perasaan Frans, gadis itu menoleh ke arah Alka yang sudah kembali berdiri. Melihat wajahnya yang lecet membuat Onya merasa bersalah. Gadis itu mendekatinya, dan berniat meraih pergelangan tangan Alka, namun ditepis oleh pria itu.


"Pergilah dari sini!" usir Alka.


"Aku akan mengobati lukamu" ucap Onya berusaha tenang dengan sikap tidak mengenakan yang ditunjukkan Alka.


"Pergilah, aku tidak apa-apa. Kau tidak tahu dampaknya nanti padaku" ucap Alka dengan lembut, dan terdengar pelan hingga hanya mampu didengar oleh Onya. "Aku harap ini pertemuan terakhir kali kita" ucap Alka dengan lantang agar bisa didengar oleh Frans.


Frans yang merasa kesal langsung menarik Onya agar bisa ikut pulang dengannya. "Ayo kita pulang!" ucap Frans.


"Kau pulanglah sendiri. Aku ada urusan dengan Alka. Kita tidak berencana melarikan diri, tapi hanya merayakan perpisahan kami, bodoh!" umpat Onya. Gadis itu sempat-sempatnya memberontak saat dipaksa pulang oleh Frans.


Dengan terpaksa, Frans langsung membopong tubuh mungil itu ke atas bahunya. Layaknya karung beras membuat Onya kesusahan melepas diri. Gadis itu hanya bisa memukul-mukul punggung Frans sambil berteriak.


"Frans, turunkan aku!" teriak Onya.


Sampai didalam lift, Frans menurunkan Onya. Tapi pria itu terus memeluk Onya dengan erat, enggan untuk melepaskannya. Takut-takut gadis itu melarikan diri darinya.


"Apa yang kau lakukan? Aku dan Alka hanya merayakan perpisahan kami" ucap Onya dengan ketus. Melihat wajah datar Frans membuat Onya semakin kesal. "Lepas!" ucap Onya dengan nada membentak.


"Diam Onya, jangan sampai kau menyesal" ucap Frans. Suaranya juga tatapannya begitu tajam. Namun Onya yang keras kepala malah menghiraukan ucapannya.


Dengan sekali gerakan, Onya menginjak kaki Frans membuat pria itu meringis kesakitan. Bersamaan dengan terbukanya pintu lift memberi peluang bagi Onya untuk melarikan diri. Gadis itu keluar, dan hendak menaiki tangga darurat.


Rasa sakit Frans yang sudah hilang, lantas dengan cepat mengikuti Onya. Sayang gadis itu terlalu lambat, hingga Frans dengan mudah menangkapnya. Frans kemudian kembali menggendong gadis itu layaknya karung beras.


"Frans! Turun aku, aku harus ke atas. Alka butuh bantuan-ku" ucap Onya sambil meronta-ronta. Mendengar Onya menyebut nama pria itu lagi membuat Frans semakin kesal.


Sesampainya mereka di parkiran, Frans memasukan Onya ke bagasi mobil kemudian menutupi pintunya dengan cepat. Setelah itu, ia menduduki kursi kemudi untuk menyalakan mesin mobil. Ya, mobil yang dikendarai oleh pria itu adalah milik keluarga Wiranta.


Dalam perjalanan, Onya beberapa kali memanggil nama Frans, dan memohon untuk diturunkan. Pasalnya, gadis itu tidak bisa bergerak, karena dihimpit tempat duduk dan pintu mobil.


"Frans, biarkan aku duduk di depan!" teriak Onya. Namun pria itu seakan tuli, tidak mempedulikan teriakan Onya. Saking takutnya gadis itu melarikan diri lagi, jadi Frans membiarkan ia berada di tempat itu.


Ternyata Frans membawa Onya ke apartemennya. Sesampainya mereka di sana, Frans kembali membopong tubuh mungil itu menunju kamarnya.


Onya yang terus meronta-ronta akhirnya pasrah. Percuma ia melawan, toh tenaga Frans lebih kuat darinya.


Sesampainya di kamar, Frans mengunci pintu. Beberapa langkah ia berjalan, kemudian ia membanting tubuh mungil itu ke atas ranjang.


Pemilik tubuh yang dibanting hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar pusing karena dibopong layaknya karung beras. Dan saat ia kembali membuka kedua matanya, ia melihat Frans yang mulai membuka baju kaosnya membuat Onya sedikit was-was.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Onya sembari bergegas turun dari tempat tidur itu, dan berdiri jauh dari pria itu berdiri.


"Sudah aku bilang, kita hanya merayakan perpisahan kami" ucap Onya dengan nafas memburu. "Kau itu memang perusak. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau perpisahan kami sangat menyedihkan seperti ini?" sambungnya.


Frans mendesah pelan. Entah siapa yang harus ia percaya. Dirinya sendiri yang menduga kalau Onya berniat melarikan diri dengan Alka keluar negeri, atau ucapan Onya bahwa pertemuan mereka sekedar untuk merayakan perpisahan. Karena sebenarnya, keputusan Alka pergi keluar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi adalah permintaan Frans. Tentunya dengan berbagai ancaman sehingga Alka menyetujui permintaannya itu. Dan apa alasan Frans melakukan itu? Ternyata ia telah menyadari perubahan Onya yang bersikap berbeda pada Alka.


"Makanya kalau mau keluar, bilang dulu padaku. Mungkin kita bisa merayakannya bersama" ucap Frans mulai tenang.


Onya hanya tertawa sumbang mendengarnya. Semakin lama ia semakin muak dengan sikap mengatur Frans. Gadis itu mulai malas berdebat.


Keduanya masih berdiri di posisi yang sama. Sama-sama mematung dan diam dengan pikiran masing-masing. Sampai Onya yang sedari tadi menatap Frans, kini menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa kacau karena perpisahannya dengan Alka sangat buruk.


"Kau tahu, kenapa aku tidak ingin memberitahu-mu dan ikut menemaniku untuk merayakan perpisahan kami? Karena kalau kamu ada di sana, aku tidak akan merasa nyaman. Jujur, aku lebih nyaman dengannya daripada denganmu" ucap Onya dengan lirih.


Bagai pukulan keras bagi Frans. Perasaannya perih mendengar pengakuan gadis didepannya itu.


"Kau mengacaukan semuanya. Mungkin akan sulit melupakannya" ucap Onya mendongak agar Frans bisa melihat wajahnya yang pilu. Biarlah pria itu menganggapnya cengeng.


"Maaf" Onya menggeleng-geleng kepalanya kala Frans meminta maaf padanya. "Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis hanya karena seorang pria" sambung Frans sambil tersenyum miris.


Hei, ini bukan yang pertama kalinya. Walau sebenarnya pada pria yang sama. Ya, Frans tidak tahu banyak tentang gadis itu. Onya sudah lama tertutup pada Frans selama berhubungan dengan Alka.


Sebenarnya alasan Onya menangis bukan hanya karena perpisahannya dengan Alka yang kacau balau. Tapi karena sikap Frans yang sangat menjengkelkan. Onya benar-benar kesal akhirnya menangis. Dengan harapan diberi belas kasihan oleh Frans.


"Aku dengar dia akan pergi keluar negeri. Kapan?" tanya Frans.


Onya menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Besok".


"Tidurlah. Besok aku akan mengantarmu ke bandara. Kalian bisa berpisah baik-baik di sana" ucap Frans membuat Onya terkejut. Entah apa yang harus dia ekspresikan, namun ia hanya bisa menatap datar pada pria.


Padahal kenyataannya ia sedang bersorak-sorai dibelakang Frans.


"Benarkah?" tanya Onya memastikan kembali.


Frans menganggukkan kepalanya membuat Onya sedikit tersenyum. Dengan gontai ia mendekati tempat tidur, dan membaringkan tubuhnya di sana. "Ingat Frans, kau sudah janji. Jangan buat aku semakin kecewa padamu" ucap Onya memperingatkan.


Frans menatap kosong saat kedua mata Onya mulai terpejam. Ia mendesah pelan, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Berdiri sambil menopang kedua tangannya di westafel. Pria itu tersenyum miris didepan kaca.


Beberapa saat kemudian, Frans keluar kamar mandi. Ia melihat Onya yang sudah terlalap, dan ikut berbaring di samping Onya. Keduanya berhadapan membuat Frans leluasa memandang wajah cantik itu.


"Segitunya kau mencintainya? Apa kau akan mencintaiku suatu hari nanti?" tanya Frans dengan lirih. Tangannya menyentuh pipi mulus Onya, dan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Dan dikecupnya kening Onya, penuh kelembutan dan kasih sayang.


PERPISAHAN DULU GUYS DENGAN ALKA. DUA EPISODE LAGI UDAH NIKAH SOALNYA