9 Lives

9 Lives
Perang Di Mulai



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


Panas bola api menerjang, langsung membakar tenda yang di gunakan Kakek Adam. Membuat kepanikan dan keributan yang tercipta di dalam hutan terlarang, tempat persembunyian yang digunakan.


Ratu Obbysia menyerang tanpa henti, tertawanya makin menyeramkan dengan tatapan yang haus akan kemenangan.


Kakek Adam langsung terjun berperang melawan Lycan yang menyerang. Theodore juga bergabung dengan Sammy demi mempertahankan dirinya dari serangan Lycan.


"SIA HENTIKAN...!!!" Teriakan Nenek Anna hanya makin membuatnya bertambah buas.


"HENTIKAN...!!! kau hanya di bodohi nak!" Pekik nenek Amelia sambil terus menyerang para Lycan dengan seluruh kekuatannya.


"Ya aku memang bodoh, aku terlalu bodoh untuk mempercayai semua kata-kata para penyihir termasuk kata-kata mu!" Ratu Obbysia mencekik leher nenek Amelia.


Blue menyerang Ratu Obbysia dan terlempar membentur pepohonan besar. Blue tersungkur tak berdaya. Dia berusaha bangkit untuk kembali menolong nenek Amelia. Namun, satu Lycan berhasil menggigitnya dan mengoyak Blue. Hari itu Blue mengorbankan nyawanya untuk menolong Nenek Amelia.


Nenek Amelia menangis sangat sedih karena tak dapat menolong Blue.


"Hentikan Sia ku mohon, para Lycan itu hanya menjebakmu, mereka membuatmu percaya dengan jebakan mereka, mereka memperalatmu untuk membunuh para kaum lainnya." nenek Amelia makin tersudut, kesulitan untuk bernafas.


"Sia hentikan ku mohon sayang, dengar kan Amelia, bukankah dulu kau sangat menyayanginya dan mengagumi dia." ucapan Nenek Anna juga tak mampu melepaskan tangan Sia dari leher nenek Amelia.


BOOM....


Sia menyerang nenek Anna dengan tembakan api biru dari telapak tangannya. Nenek Anna membentur ke sebuah pohon besar tak sadarkan diri kemudian.


"NENEK...!!!"


Zack berteriak sekuat tenaga lalu ingin menghampiri sang nenek. Namun, pemuda itu terhalang oleh gigitan Lycan.


BUG...


Zack mendorong Lycan itu dengan kekuatannya lalu ia keluarkan pedang perak itu dari lengannya. Zack menghunus dan menebas para Lycan lalu pergi menuju nenek Anna.


"Waaahhh... aku menemukan pangeran penyihir." ucap Ratu Obbysia memandangi Zack yang kini memangku kepala nenek Anna.


"Sia dia adalah... Dia..."


"HENTIKAN OCEHANMU...!!!"


Ratu Obbysia makin mencekik nenek Amelia.


Zack menebas tangan Ratu Obbysia dengan pedangnya, namun tak berhasil. Zack hanya menebas bayangan sang Ratu yang sudah berpindah tempat melepaskan cengkeramannya dari sang Ratu.


DUAR...!!


serangan api biru dari sang Ratu menghujani Zack bertubi-tubi tanpa ampun.


"Berikan aku pedang itu...!!"


Ratu Obbysia mengejar Zack dengan terus memberinya serangan.


***


"Sebaiknya kita bergegas atau kita akan terlambat, aku tak yakin mereka akan siap menghadapi para Lycan." ucap Joseph yang mengumpulkan senjata para Lycan dan memberikannya kepada Zee, Ariana dan V.


"Apa kau bisa menggunakan senapan ini?" tanya Joseph pada Theo.


"Tentu saja aku bisa."


Dooorr... Theo tak sengaja menghentakkan senapan di tangannya itu. Tubuh terlempar mundur beberapa langkah dan pelurunya hampir saja mengenai V.


"Apa kau memang berniat membunuh ku?" ucap V sambil mengacungkan pistol di tangannya ke arah Theo.


"Hei tenang lah! sudah hentikan, kalian hanya akan membuang peluru perak yang terbatas ini, ingat kita bisa gunakan ini untuk membunuh para Lycan." ujar Zee.


"Zee benar, kemarikan pistol itu Theo!" pinta Joseph.


"Jangan sampai kau menembak kaki mu sendiri." ucap V mencibir Theo.


"V...hentikan!" Ariana menenangkan V yang dari tadi suka mengganggu Theo.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan!" ajak Zee.


"Hei nak, dari mana kau dapatkan naga air itu?" tanya Joseph saat memandang Natti dan anak-anaknya yang masih mengikuti mereka di danau yang terlihat di samping bukit tempat mereka sedang berpijak.


Natti mengikuti arus air laut yang mengalir ke danau agar bisa melindungi Theo.


"Natti yang menemukanku saat tenggelam di danau, ayah memutuskan untuk memeliharanya di danau dalam hutan di Fisher." Jawab Theo.


"Dari mana dia datang kau juga tak tahu?" tanya Joseph.


Theo menggelengkan kepalanya.


"Ini pertama kalinya Natti keluar dari danau di Fisher."


ucap Theo


"Karena dia ingin menolongmu." sahut Ariana.


"Oh iya ada yang belum kuceritakan, aku menemukan sosok misterius yang membawa mayat manusia dan membawanya ke dalam rumah tua dalam hutan." ucap Ariana.


"Bukankah itu rumah milik Ayah Alena?" Zee menoleh ke arah Theo yang menjawabnya dengan anggukan .


"Lalu apa kau menangkap sosok itu?" tanya Zee penasaran.


"Aku di pukul hehehe, saat aku terbangun aku ada di dekat danau lalu aku bertemu naga air itu. Apa kalian tau dia mengajakku untuk naik kepunggungnya, ya sudah aku ajak saja V. Ternyata dia membawaku ke laut luas itu untuk menolong Theo." Ariana menjelaskan.


"Benarkah? good girl, dia memang penjagaku." Theo memandangi Natti dari atas bukit.


"Aku pernah mendengar cerita jaman dulu tentang naga air itu, tapi... Ah sudahlah..." ucap Joseph.


"Cerita apa sih paman? Ayo Lah ceritakan..." Zee menarik lengan Joseph membuat mata Theo tak suka melihatnya.


"Sudahlah ayo kita bergegas!" ujar paman Joseph.


"Apa kau mencium salah satu dari mereka paman?" tanya Zee.


Joseph menggeleng.


"Apa kau masih bisa memikirkan tujuan kita ke tempat hutan terlarang tadi?" tanya Zee lagi.


"Akan ku coba."


"Baiklah, Theo ajak Natti dan anaknya naik ke permukaan, aku akan membawanya ikut serta, sepertinya disana ada sungai agar mereka tetap bisa merasakan air." ucap Zee.


Theo segera memanggil Natti dan anak-anaknya naik ke permukaan.


"Ayo kalian mendekat padaku, kita saling berpegangan." Ucap Zee, lalu ia menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi seperti yang di ajarkan neneknya beberapa hari lalu.


Rombongan Zee seketika itu menghilang.


***


Bersambung guys...


To be continued...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘