
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
"Lalu peran yang cocok untukku apa?" tanya Alena.
"Ikutlah audisi siapa tau kau yang cocok menjadi putri tidur." ucap Rose.
"Lalu siapa pangerannya apa kau V?" tanya Theo pada V yang sedari tadi diam saja.
"Tidak aku sutradara nya, aku yang akan memimpin jalannya drama itu." sahut V yang menatap Theo.
"Oh... baguslah aku akan ikut audisi kalau begitu." sahut Theo yang membalas tatapan V.
"Baiklah audisi sepulang sekolah kalian semua datang ya." ucap Rose menarik tangan V lalu pergi kembali ke kelasnya.
"Kau tau Zee, mereka sudah jadian lho." ucap Lia.
"Maksudmu V dan Rose?" tanya Zee.
"Iya, aku mendengarnya dari Zack."
"Oh pantas saja, syukurlah kalau begitu aku jadi lega hehehe bagaimana kau dan Mark?" tanya Zee menggoda Lia.
"Umm entahlah aku merasa belum cocok dengan Mark tapi dia baik sekali padaku."
"Nah kalau kau dan Theo bagaimana?" Alena menggoda Zee yang langsung menyemburkan air yang baru dia teguk ke wajah Theo.
"Maaf aku tak sengaja." ucap Zee menahan tawanya sambil memberikan Theo tissue.
"Kami sudah jadian." sahut Theo membuat mata Zee melotot kearahnya.
"Kalau bicara jangan asal yak." ucap Zee geram.
"Wah iyakah, kapan kalian bersama?" tanya Alena penuh antusias begitu juga dengan Lia.
"Saat Zee menciumku."
Theo menunjuk Zee membuat Zee langsung menggebrak meja.
"Kau..." Zee melotot pada Theo.
"Aku tak berbohong kan?" Theo makin menggoda Zee.
"Terserah kau...!" Zee pergi meninggalkan Theo ke kelas.
"Benarkah itu Theo? Zee mencium mu?" tanya Lia penuh ingin tahu sementara Alena sudah menutup mulutnya penuh takjub memandang Theo.
"Kenapa kau tak pernah cerita padaku?" Alena menepuk dada Theo.
"Sudahlah bel sudah berbunyi ayo ke kelas." ucap Theo pergi meninggalkan Alena dan Lia sambil tersenyum.
Theo masuk ke dalam kelas melihat Zee yang berpura-pura sibuk dengan buku bacaanya.
Theo menyentuh rambut Zee saat akan duduk di belakang Zee.
"Puas kau menggodaku?" bisik Zee dengan nada kesal.
"Belum, aku ingin kau bilang aku ini pacarmu atau ku ceritakan semua kejadian di toilet waktu itu." Theo mengancam Zee sambil tertawa puas.
Zee menoleh kebelakang memandang Theo dengan kesal.
"Kau ini..."
Zee menimpuk Theo dengan pulpennya tapi Theo berhasil menangkapnya. Lia datang memandang keduanya penuh takjub dan tak menyangka.
***
Audisi pun dimulai seharian penuh. Keesokan harinya pengumuman audisi drama pun di tempel di papan pengumuman sekolah.
Zee mendapatkan peran sebagai putri tidur, dengan Theo sebagai si pemburu. Mark akan menjadi pangeran nya dengan Rose sebagai penyihir jahatnya. Alena akhirnya menerima peran penting menurutnya menjadi pemimpin kurcaci bersama Lia dan murid lain yang menjadi kurcaci.
"Apa aku mampu bermain drama?" tanya Zee pada lainnya.
"Sudahlah kita nikmati saja peran kita masing-masing, jadi kapan kita mulai latihannya?" tanya Alena pada Rose.
"Mulai hari ini sepulang sekolah kita akan latihan setiap hari sepulang sekolah ya." jawab Rose
"Kita latihan dimana?" tanya Lia dengan semangat.
"Di ruang paduan suara." jawab V
"Tidakkah itu menyeramkan, hanya saja aku teringat Tamara yang menggantung." ucap Lia bergidik ngeri.
"Tenanglah kan ada aku." ucap Mark merangkul Lia.
"Tetap saja kau pasti takut bertemu hantu Tamara iya kan?" tanya Lia.
"Apa kau percaya hantu? cuma orang bodoh yang percaya keberadaan hantu cih." ucap Theo.
"Betul, aku juga tak percaya hantu." sahut V.
"Oke kita ketemu nanti pulang sekolah di ruang paduan suara yak, dah semua." Rose menarik V membawanya menuju kelas.
***
V membagikan naskah drama pada semua pemain.
"Aku harap kalian mulai menghapal naskahnya ya, aku ingin pentas seni ini berakhir sukses sebagai pertunjukan perpisahan angkatan kita nanti." ucap V.
"Apa hanya pentas drama?" tanya Alena.
"Masih ada prom night malam esoknya, namun pentas seni ini diharapkan sebagai pertunjukan yang paling ditunggu dari angkatan kita tahun ini." sahut Rose.
"Baiklah aku akan menunjukkan kemampuan terbaikku." ucap Alena penuh percaya diri.
"Tunggu, kenapa di naskah ini aku harus bernyanyi?" tanya Zee mencoba protes pada V dan Rose.
"Cuma satu lagu Zee, sebagai pemanis saja, nanti Theo akan berpura-pura memainkan pianonya." ucap V.
"Aku bisa main pianonya tak perlu berpura-pura, hanya saja suara Zee itu bagus atau tidak." Theo mencoba meledek Zee.
"Suara Zee bagus kok, saat di sekolah menengah pertama Zee pernah bernyanyi dan bermain gitar, ya kan Zee?" ucap Lia membela Zee.
"Itukan dulu, suaraku jelek kok, sebaiknya aku jadi kurcaci saja bertukar peran dengan Alena." pinta Zee.
"Tidak, tidak, tidak aku jadi kurcaci saja daripada harus bernyanyi." Alena berusaha menghindar karena dia ingin melihat adegan Theo mencium Zee saat dia membaca naskah drama tadi.
"Ah Alena ayolah kau kan lebih cantik pantas nya kau yang jadi Puteri." pinta Zee meyakinkan Alena lagi.
"Tidak mau kau saja yang jadi Puteri, karena menurutku menjadi kurcaci butuh riasan ektra yang menantang daripada menjadi seorang Puteri aku sudah terbiasa terlihat seperti Puteri iya kan?" ucap Alena sambil tertawa penuh kesombongan meski hanya bercanda.
Rose menertawakan Alena, begitu juga dengan yang lainnya hanya Zee yang masih cemberut menekuk wajahnya. Theo memperhatikan wajah Zee dengan gemas.
****
To be continued...
Happy Reading
Happy Fasting 😘😘