9 Lives

9 Lives
Mengunjungi Ariana



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it πŸ’πŸ˜˜πŸ˜Š


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


"Kau tak apa Zee?" tanya Theo namun sebelum Zee membalas, kepala Theo sudah terkena hantaman botol soda dari tangan Daren. Zee secara sembunyi mengeluarkan kekuatan sihir nya untuk mendorong Daren dan kedua rekannya jatuh. Si pemilik kedai datang dengan dua orang pelayannya menghentikan perkelahian tersebut.


Alena berhasil menghubungi polisi dan mendatangkan nya, dua orang polisi itu akhirnya mengamankan Daren dan kedua rekannya.


"Theo apa kau tak apa-apa?" tanya Alena cemas.


"Dia kan terluka seperti ini kau masih tanya apa tak apa-apa, ayo kita ke rumah sakit." sahut Lia.


"Memang kita akan ke rumah sakit kan tapi siapa yang akan menyetir jika Theo terluka seperti ini?" tanya Alena.


"Aku yang akan menyetir kau tekan saja luka di kepalanya agar darahnya tidak banyak keluar." sahut Zee lalu masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya ke rumah sakit.


Theo langsung di rujuk ke ruang instalasi gawat darurat di rumah sakit Fisher dan ia menarik lengan Zee ikut serta.


"Periksa keadaanya dulu dokter." perintah Theo pada seorang dokter jaga disana.


"Kau ini kenapa jadi aku sih, aku kan hanya terbentur." sahut Zee dengan raut wajah mengkhawatirkan Theo.


"Tapi kondisi anda lebih perlu pertolongan terlebih dahulu di banding nona ini." sahut dokter.


Theo menepis tangan dokter itu dan masih menunjuk Zee.


"Baiklah aku akan memeriksa nona muda ini terlebih dahulu." ucap doker


"Lakukan saja dokter dia itu keras kepala tak ada yang bisa membantah perintahnya." sahut Alena.


"Maaf nona - nona, bagi yang tidak berkepentingan silahkan di luar dulu ya." ujar seorang suster pada Alena dan Lia.


"Okay, baiklah ayo kita menunggu di luar Lia." sahut Alena menuruti perintah suster itu.


Setelah pemeriksaan pada Zee di lakukan, dokter itu mengobati luka di kepala Theo dan menjahit lukanya lalu memberi ikatan perban untuk menutupi lukanya lalu pamit pergi.


"Kau itu berlagak sekali sih, kenapa harus memulai perkelahian dengan para brengsek tadi?" Zee menghampiri Theo.


"Dasar bodoh!" Theo mencoba berdiri namun ia merasa pusing dan hampir jatuh. Zee langsunh sigap dan langsung memegangi tubuh Theo yang tegap itu.


"Kau duduk dulu jangan langsung berdiri nanti kau pingsan lalu siapa yang akan menggotong tubuh besar mu ini." ucap Zee mencoba melepas tangannya dari pinggang Theo namun Theo malah menahannya sambil menyentuh wajah Zee.


Theo menatap Zee lalu menarik ikat rambut Zee dan melepaskannya. Theo mengurai rambut Zee dan merapihkan nya, dia lebih suka melihat rambut itu tergerai dan tak terikat.


"Begini lebih baik." gumamnya.


"Aku tak mau ada yang melukaimu, siapapun tak boleh melukaimu, kalau perlu aku ingin membuat Daren dan kawan-kawannya tak bernafas lagi esok." ucap Theo masih mengusap rambut Zee dengan kedua tangannya.


Dia kenapa sih, tadi dia marah padaku, sekarang dia perhatian seperti ini, dasar pria aneh, dan ini kenapa detak jantungku tak bisa terkendali seperti ini sih.


batin Zee.


Zee menatap Theo dan memperhatikannya dengan seksama kali ini.


Kenapa dia terlihat tampan dan menggemaskan begini ya, wah otak ku mulai tak waras ini.


Zee mengibaskan rambutnya berusaha melepas nya dari sentuhan kedua tangan Theo.


"Apa sudah selesai? upsss maaf sepertinya aku mengganggu kalian." Alena tiba-tiba masuk ke dalam ruangan bersama Lia.


"Kami sudah selesai kok." sahut Zee.


"Selesai melakukan apa?" tanya Lia dengan polosnya.


"Selesai mendapat perawatan." Zee mengetuk - ngetuk kepala Lia dengan gemas.


"Kau sudah urus administrasi nya Alena?" tanya Theo.


"Sudah dong, dan suster bilang kau juga membayar biaya perawatan Ariana ya?" tanya Alena membuat Zee menoleh pada Theo yang mengangguk.


Mereka berpapasan dengan ibu Ariana yang hendak pergi ke kantin rumah sakit.


"Apa kalian kawan-kawan sekolah Ariana?" tanya wanita itu.


"Iya benar Bu, bagaimana kondisi Ariana?" tanya Alena.


"Dia baik-baik saja luka di tangan nya berangsur membaik. Oh iya ku dengar seorang pemuda bernama Theo Sebastian membawanya kemari, apa kalian mengenalnya?" tanya ibu Ariana.


"Ini Theo." Alena menunjuk ke arah Theo.


"Oh jadi kau yang bernama Theo, terima kasih ya kau telah menyelamatkan Ari, lalu apa yang terjadi padamu?" ibunya Ariana mengamati kepala Theo yang dililit perban.


"Hanya kecelakaan ringan Bu, tak apa." sahut Theo.


"Baiklah silahkan ke kamar Ari, aku akan membeli makanan dulu ke kantin, oh iya jangan buka tirai jendela ya, tadi Ari merasa panas katanya." ucap ibunya Ariana sambil tersenyum lalu pergi.


Alena mengetuk pintu kamar perawatan Ariana. Ariana langsung terbangun saat melihat kakak-kakak kelasnya datang berkunjung.


"Wah suatu kehormatan mendapat kunjungan dari kalian, loh apa yang terjadi pada kak Theo?" tanya Ariana.


"Aku tak apa hanya tadi ada kecelakaan sedikit." sahut Theo.


Ariana mengamati kepala Theo yang terasa harum dan membuat dia lebih bersemangat namun Ariana mencoba menahan hasratnya.


"Apa kau sudah baikan?" tanya Lia pada Ariana yang langsung terkejut.


"Hah kau mengejutkan ku, aku sudah baikkan berkat kak Theo yang langsung membawaku kesini." Ariana tersenyum menatap Theo.


"Oh iya ini untuk mu." Alena menyerahkan bucket bunga pada Ariana.


"Terima kasih kak." sahut Ariana menerima bunga itu.


"Apa yang terjadi padamu Ariana?" tanya Alena ingin tahu.


"Ummm sepeda motorku tiba-tiba mati lalu aku berhenti di tepi jalan eh malah bertemu binatang buas yang mengigit tangan ku." Ariana menunjukkan tangan nya yang di gips.


"Apa separah itu? binatang seperti apa yang menggigit mu?" tanya Lia.


"Aku tak ingat entah beruang apa anji*g hutan." jawabnya.


"Tapi kau terlihat pucat ya?" tanya Lia.


"Orang yang sedang sakit kan selalu terlihat pucat Lia." sahut Alena.


Theo mengintip jendela kamar Ariana dan membukanya sekilas karena ia melihat mobil ayahnya terparkir di halaman rumah sakit yang berarti ayahnya sedang berada di rumah sakit itu.


Apa yang ayah lakukan disini ya?


batin Theo.


"Maaf kak Theo bisa kau tutup tirainya, mataku sensitif sekali dengan cahaya." pinta Ariana.


"Oh maafkan aku, akan aku tutup kembali." sahut Theo.


Zee melihat Iris mata Ariana mengalami perubahan warna sekilas saat terkena pantulan cahaya matahari dari jendela tadi.


Apa aku salah lihat ya? tapi aku yakin bola matanya berubah warna.


"Zee apa kau melamun?" Lia menepuk bahu Zee.


"Oh tidak hanya saja aku sedang ummm sedang berpikir mengenai dialog pementasan." sahut Zee mencari alasan.


"Oh iya bagaimana latihannya kok kalian bisa kesini, bukannya jam segini kalian harus latihan?" tanya Ariana.


"Hari ini latihannya libur kok, oleh karena itu kami bisa mengunjungimu kesini." sahut Alena dengan senyum manisnya.


****


To be continued...


Salam dari Pocong Tampan mohon dukungannya ya buat vote karena vote kalian sangat berarti lho buat Vie, Komen juga ya ditunggu kritik sarannya😊😁