9 Lives

9 Lives
Ulang Tahun Zee



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Terima kasih Zack." ucap Zee ketika tiba di halaman rumahnya.


"Sama - sama, oh iya jangan lupa nanti malam ya, hubungi aku." Zack pamit pada Zee melambaikan tangannya sambil mengayuh sepedanya.


"Surprise...!!!" nenek Amelia, Blue dan Joseph menyambut Zee dengan tembakan confetti pada Zee.


"Astaga aku lupa ini ulang tahunku." ucap Zee.


"Selamat ulang tahun cucu nenek tersayang." nenek Amelia memeluk Zee. Joseph merentangkan kedua tangannya, Zee langsung menghamburkan tubuhnya ke dada Joseph. "Selamat ulang tahun Zee." ucap Joseph.


"Apa kau mau ku peluk Zee?" tanya Blue


"Tentu saja Blue, sini peluk aku." Zee meraih Blue memeluknya dan menerbangkan Blue berputar-putar. "Sudah Zee aku pusing." protes Blue dan menghamburkan bola bulu dari mulutnya.


"Jadi kue ini untukku ya?" tanya Zee


"Tentu saja, oh iya ini hadiah untukmu." nenek Amelia memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada Zee.


"Apa ini nek?"


"Bukalah."


Zee membuka kotak tersebut dan terkejut bercampur haru dan senang.


"Ini kan, kalung yang dipakai ibuku dulu nek." ucap Zee menahan tangisnya namun tak bisa, Zee amat merindukan kedua orang tuanya.


"Ibu mu bilang, setelah kau berusia tujuh belas tahun kau boleh memakainya." nenek Amelia mengalungkan kalung tersebut di leher Zee. Kalung perak dengan sebuah liontin bermata hijau melingkar di lehernya.


"Aku suka nek aku sangat menyukainya." ucap Zee.


"Ini kado untukmu." Joseph menyerahkan paper bag hitam ke tangan Zee.


"Waaaah ini jaket hodie terbaru kan paman, bagaimana kau mendapatkannya?"


"Itu mudah saja." ucap Joseph sombong.


"Terima kasih ya paman aku suka." mata Zee berbinar penuh kebahagiaan saat itu.


"Mana hadiah dari mu Blue?" tanya Zee.


"Ummm nanti malam aku akan memberi hadiahnya saat ritual naik level mu." ucap Blue.


"Hmmm aku hampir lupa upacara nanti malam, apa aku sanggup ya nek?" Zee menoleh pada nenek nya.


"Kau harus yakin, karena memang ini takdirmu, sudah saatnya Zee, lagi pula kau masih punya empat nyawa lagi kan?"


"Ah nenek tetap saja aku tak ingin menyia-nyiakan nya." sahut Zee.


"Baiklah, mari kita makan dulu." ajak nenek Amelia.


****


Ponsel Zee berbunyi malam itu Zack menghubungi nya. "Maafkan aku Zack aku tak bisa pergi malam ini." ucap Zee dari ponselnya.


"Yah baiklah kalau begitu masih ada hari lain, aku masih boleh kan mengajakmu menonton?" tanya Zack dari sebrang sana.


Zack menutup ponselnya, padahal dia sudah bersiap-siap dengan kemeja dan celana jeans serta menyisir rambutnya dengan tambahan gel agar rapih. Zack membaringkan tubuhnya kembali di ranjang empuknya.


Zee bersiap menuju bukit Halley tempat ritual yang akan nenek adakan untuk Zee, Joseph menemani Zee menuju bukit.


"Bagaimana jika aku mati paman?" tanya Zee.


"Kau kan masih bisa hidup, tenang saja."


"Itu berarti nyawaku berkurang lagi, aku kan bukan sepertimu yang berumur panjang." Zee menekuk wajahnya.


"Apa kau pernah dengar penyihir abadi?"


"Belum, apa maksudmu aku bisa menjadi penyihir abadi?" tanya Zee penuh antusias.


"Ya mungkin saja, tanya lah pada nenek mu." Joseph merangkul bahu Zee.


"Terima kasih paman, terima kasih untuk selalu berada di sampingku." ucap Zee.


Nenek Amelia dan Blue sudah menunggu di bukit Halley. Sebuah kuali perak sudah berada di atas perapian. Nenek memasukkan akar bunga liar, trillium dan Chewing John pada kuali perak itu. Blue membawa ular king kobra yang masih bayi dan memberikannya ke nenek.


"Zee kau mau kado dariku kan?"


"Apa itu?" tanya Zee penuh harap sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari kotak kadonya.


"Kado mu ada dalam diriku."


"Maksud mu Blue?" Zee tak mengerti apa yang Blue katakan.


"Ritual ini tak akan berhasil tanpa tulang kucing hitam Zee." sahut nenek Amelia.


"Maksud nenek, Blue akan memberikan tulangnya untukku?"


"Ini kado terbaik yang bisa ku berikan untukmu, lakukanlah Joseph." ucap Blue.


Joseph menghampiri Blue memberinya suntikan mati rasa pada tangan kanannya.


Krek... Joseph mematahkan tangan kanan Blue. Menyobek kulitnya dan mengambil satu tulang nya.


"Apa Blue akan baik-baik saja Paman?" tanya Zee cemas.


"Dia akan baik - baik saja, nenek mu membuatkan ramuan penyembuh untuk nya hanya saja dia akan berjalan pincang." sahut Joseph menjahit luka Blue setelah mengambil satu tulang dari Blue.


Joseph menyerahkan tulang itu pada nenek Amelia. Ritual di mulai kepulan asap hijau piket keluar dari kuali perak tersebut. Tepat pukul dua belas malam yang hening hanya terdengar suara burung hantu yang menyeramkan dengan gemericik dedaunan yang tertiup angin.


Tiba - tiba wajah Zee mulai membiru.


"Nek lihat Zee, racun laba-laba itu." ucap Joseph panik Zee sudah terbaring di tanah kala itu.


"Ah tidak, kenapa harus sekarang." nenek Amelia mulai panik.


Kepulan asap hijau pekat itu sudah masuk ke dalam tubuh Zee membuatnya kejang - kejang meronta. Mulutnya mengeluarkan busa biru yang terus mengalir, mata Zee melotot menahan sakit.


"A... a... aku... aku tak sanggup pa...man."


****


To be continued...


Happy Reading 😘


Jangan lupa di vote ya...