9 Lives

9 Lives
Zee Pamit



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


Mark makin tertawa puas mencekik Zee dengan wajah geramnya yang mengerikan.


Zee berusaha sekuat tenaga melepas cekikan tangan Mark dari lehernya. Tenaga Mark terlalu kuat saat itu, membuat Zee tak bisa mengeluarkan mantranya karena tersudut oleh Mark.


Krek...Krek...


Paman Joseph datang menolong Zee. Dia meraih kepala Mark dan langsung mematahkan leher si pelaku pembunuhan di sekolah Briliant saat itu juga. Mark tewas seketika.


"Ahh... syukurlah kau datang, kalau tidak mungkin nenek akan memarahiku karena harus kehilangan nyawaku sekali lagi." ucap Zee lalu memeluk paman Joseph tersayangnya itu.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya paman Joseph sambil menyentuh lengan Theo dengan ujung kakinya.


"Entahlah, coba aku periksa." Zee menyentuh denyut nadi di leher Theo.


"Dia masih hidup paman, tolong bantu aku mengangkatnya." ucap Zee lalu berdua dengan pan Joseph memapah tubuh Theo menuju ke dalam mobilnya.


Alena sudah menghubungi pihak kepolisian agar datang dan memeriksa tempat kejadian mengenai potongan tubuh korban pembunuhan di sekolah yang dikumpulkan oleh Mark.


"Kira-kira kemana ya penjaga Carter, apa dia tak tahu kalau bekas rumahnya ini dipakai oleh Mark sebagai tempat koleksi jahatnya?" ucap Alena mencari keberadaan penjaga Carter.


seandainya saja kau tahu bahwa penjaga Carter sudah mati.


Zee hanya bisa menatap Alena.


Ariana datang dari dalam rumah penjaga Carter menghampiri Lia.


"Bukankah tadi aku melihatmu terluka Ariana, lalu kenapa kau jadi tak terluka sedikitpun?" ucap Alena yang mengamati Ariana dengan seksama.


"Mungkin kau salah lihat, tadi aku hanya tergores pisau sedikit tapi tak apa kok hanya merobek bajuku saja." sahut Ariana menunjukkan kausnya yang terdapat bekas robekan karena pisau sedangkan lukanya sudah membaik sendiri dan menghilang. Ariana merupakan seorang vampir yang bisa sembuh dengan cepat jika terluka, ia hanya bisa terluka dengan senjata yang terbuat dari perak sama seperti lycan.


Tak berapa lama beberapa polisi datang untuk memeriksa tempat kejadian dan memgevakuasi potongan tubuh korban serta jasad Mark dalam jantung mayat dan membawa semuanya untuk proses otopsi.


"Aku tahu Mark berubah, dia menjadi posesif dan sering menyakitiku, makanya akhir-akhir ini aku selalu menghindarinya Zee."


Lia menangis di pelukan Zee saat mengadu.


"Sudahlah semua sudah berakhir, kini kau sudah aman." Zee mengusap punggung Lia dan menenangkannya.


"Terima kasih Zee, terima kasih." ucap Lia.


Orang tua Lia langsung datang ke tempat kejadian untuk mencari anaknya yang selamat. Lia kini berada di pelukan mamanya, saat Zee melihatnya dari kejauhan bersama paman Joseph di sampingnya. Alena sudah membawa Theo menuju rumahnya segera, karena berada di hadapan khalayak ramai dengan beberapa media yang meliput, hanya akan menimbulkan keributan bagi Theo dan ayahnya nanti yang seorang pebisnis terkenal di kota Fisher.


"Zee ayo cepat pergi dari sini." ucap paman Joseph dengan wajah mulai cemas dan takut.


"Kenapa wajahmu seperti itu paman? apa yang terjadi?" tanya Zee.


"Masuklah ke mobil!" paman Joseph menyuruh Zee untuk segera masuk ke dalam mobil pick up milik nenek Amelia yang dibawanya.


"Ada apa sih mau terlihat aneh sekali?" ucap Zee yang ikut cemas saat itu.


"Kau lihat dua orang di bukit sana?" ucap Joseph menunjuk ke arah bukit sambil menyetir mobilnya pelan-pelan melewati kerumunan para awak media dan polisi.


"Ya, aku melihat dua orang laki-laki itu, memangnya kenapa?" tanya Zee.


"Mereka lycan, dan aku dapat mencium bau mereka." ucap Joseph.


"Apa? mereka lycan? lalu kenapa kita pergi harusnya kita tangkap mereka untuk kita cari tahu kelemahannya." ucap Zee penuh semangat.


"Mereka bukan hanya dua, pasti masih ada yang lainnya di kaki bukit sana, jika kau menantang mereka kau sama saja menyerahkan nyawamu. Lagipula kurasa mereka mengetahui keberadaan kita." paman Joseph bergegas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lebih agar cepat sampai ke rumah nenek Amelia.


"Ada apa? apa yang terjadi? apa Zee... ah kukira dia kehilangan nyawanya." ucap nenek Amelia saat melihat Joseph masuk lalu disusul Zee.


"Kita harus pindah sekarang!" sahut Joseph.


"Sekarang? memangnya ada apa?" tanya nenek Amelia tak mengerti.


Para lycan itu sudah berada di bukit tadi mengamati Zee dan aku." sahut Joseph.


"Astaga, aku, Anna, dan Adam belum siap untuk melawan mereka." ucap nenek Amelia penuh kecemasan lalu bergegas untuk merapikan barang-barang nya dan pindah dari sana untuk sementara waktu.


"Tapi, aku kan belum pamit pada kawan-kawan ku?" ucap Zee sedih.


"Ini demi keselamatan mu dan nenekmu, lagipula suatu saat kau bisa kembali kesini." sahut Joseph yang ikut merapikan barang-barang milik Zee dan neneknya itu.


"Aku akan kembali, aku tak akan lama."


Zee berlari segera keluar dari rumah.


"Ah anak itu, bagaimana jika dia bertemu lycan di jalan nanti?" ucap nenek Amelia.


"Mereka hanya akan berburu di malam hari, tadi saja hanya dua yang keluar dari persembunyiannya, mungkin bukan keturunan asli jadi lebih kuat dengan sinar matahari sepertiku, oleh sebab itu kita harus bergegas pindah agar tak terlacak." sahut Joseph.


***


Zee sudah berada di depan rumah Theo dengan perasaan bingung. Bagaimana bisa ia melangkahkan kakinya ke rumah besar ini saat ini. Zee sempat ingin berbalik pulang, namun Alena keburu melihat dan memanggilnya.


"Kau pasti mencemaskan Theosaurus mu itu kan?" tanya Alena menggoda Zee.


"Aku... aku mau pamit Alena." ucap Zee lirih.


"Apa? pamit? secepat ini? mengapa sangat mendadak, kau bercanda kan Zee?" tanya Alena bertubi-tubi namun Zee tetap menggeleng.


"Aku tak bercanda, aku serius makanya aku kesini mau pamit." Zee menundukkan kepalanya.


"Zee dua hari lagi kan pesta perpisahan dan wisuda angkatan kita, kenapa kau harus pergi sekarang sih?" tanya Alena sambil memeluk Zee.


"Maafkan aku ya Alena, sekarang ijinkan aku bertemu Theo." pinta Zee melepas pelukan Alena darinya.


Alena membiarkan Zee masuk sambil menahan tangisnya.


Zee mengetuk pintu kamar Theo.


"Masuk." sahut Theo dari dalam.


"Hai... apa kau sudah membaik?" tanya Zee dengan nada suara dan gerakan perlahan masuk ke dalam kamar Theo.


"Kemarilah." Theo menepuk sisi kasur di sampingnya berharap Zee akan duduk disana meski rasanya tak mungkin menurut Theo.


*****


To be continued...


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player