9 Lives

9 Lives
Memilih



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it πŸ’πŸ˜˜πŸ˜Š


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Ayo kita pamit, kita biarkan Ariana istirahat." ucap Alena lalu menggandeng Lia pergi dari kamar perawatan Ariana.


"Istirahat ya." ujar Theo.


"Kak Theo, boleh aku memelukmu?" pinta Ariana membuat Zee terkejut mendengar ucapannya.


"Baiklah." sahut Theo lalu memeluk Ariana.


Perasaan apa ini, masa aku tak suka melihatnya memeluk Ariana.


"Terima kasih ya kak karena menolong ku." ucap Ariana saat memeluk Theo.


"Iya baiklah, kau istirahat ya." Theo melepaskan pelukannya dari Ariana.


Zee menjabat tangan Ariana saat hendak pamit hawa dingin menusuk dan terasa kala telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan Ariana. Zee dan Theo pergi dari ruangan Ariana menyusul Alena dan Lia.


Ponsel Zee berbunyi kala itu dan Theo melihat sekilas nama penelepon nya yaitu Zack.


"Ya, kenapa Zack?" tanya Zee.


"Jam berapa kau ku jemput?" tanya Zack dari seberang sana.


"Ummm aku sedang di rumah sakit."


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Zack penuh kecemasan.


"Aku baik-baik saja, aku sedang mengunjungi kawanku yang sakit." sahut Zee.


"Aduh kepalaku." Theo memegang kepalanya hampir tak sadarkan diri namun Alena buru-buru memegang lengan Theo dan menahannya.


"Aku akan menjemputmu ya, dimana rumah sakitnya?" tanya Zack dari ponsel Zee.


Zee menoleh dan melihat kondisi Theo.


"Maaf Zack tak usah menjemput ku, nanti aku pulang bersama Lia." sahut Zee lalu menutup hubungan teleponnya dengan Zack dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.


Theo menahan senyumnya sekilas saat mendengar ucapan Zee pada Zack.


"Apa kau mau menyetir lagi Zee?" tanya Alena.


"Baiklah berikan kunci mobil nya." pinta Zee.


"Eh tolong pegang Theo dong Zee aku mau ke toilet ayo Lia temani aku ke toilet." pinta Alena lalu menarik lengan Lia menuju toilet.


Theo menyerahkan kunci mobil pada Zee saat duduk di kursi pengunjung di koridor rumah sakit.


"Apa masih sakit? apa terasa pusing?" Zee berlutut di hadapan Theo saat bertanya dan Theo hanya mengangguk. Theo menyentuh pelipis Zee yang sudah di obati tadi.


"Apa ini sakit?" tanya Theo.


"Tidak sudah tak terasa sakit lagi." sahut Zee.


Tangan Theo kali ini menyentuh pipi Zee. Agak risih dengan keadaan itu Zee bangkit dan duduk di sebelah Theo. Alena datang bersama Lia dari toilet.


"Ayo kita pulang!" ajak Alena pergi begitu saja menggandeng Lia.


"Lho lalu... ini Theo bagai..." Zee memutuskan menopang Theo saat berjalan memeluk pinggang Theo. Alena dan Lia menoleh pada Zee dan Theo sekilas sambil menahan senyumnya.


Di parkiran rumah sakit Alena sempat melihat mobil ayah Theo di sana dan menoleh pada Theo.


"Apa yang paman lakukan disini ya?" gumam Alena. Mereka semua masuk ke dalam mobil Theo untuk pulang.


Zee mengemudikan mobil Theo menuju rumah besar milik keluarga Sebastian.


"Nanti turunkan aku di depan rumahku ya!" pinta Lia.


Dan akhirnya Zee menurunkan Lia di depan gerbang rumahnya.


"Dah semua terima kasih ya." Lia melambai pada semuanya lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Tadi terjadi..."


"Hanya luka ringan tak usah di pikirkan." Theo memotong ucapan Alena.


"Aku akan memanggil beberapa pelayan untuk menolong mu." ucap pak Albert.


"Tak usah, Zee bawa aku ke kamarku." pinta Theo dan Zee terpaksa menuruti nya.


"Apa bibi ada di rumah pak Albert?" tanya Alena.


"Nyonya besar baru saja keluar menuju rumah ibunya, ku dengar ibunya sakit." sahut Pak Albert.


"Nenek sakit?" Theo menoleh pada pak Albert.


"Iya tuan muda, sepertinya itu yang ku dengar tadi saat nyonya pamit." sahut pak Albert.


Alena dan Zee mengantar Theo menuju kamarnya sementara pak Albert kembali ke tempat kerjanya.


"Zee teruskan bawa Theo ke kamarnya ya, aku mau minta di buatkan jus apel sama pelayan, oh iya kau mau minum apa biar sekalian dibuatkan?" tanya Alena.


"Tak usah, terima kasih." sahut Zee masih memeluk pinggang Theo untuk menopangnya.


"Oke kalau begitu." Alena pergi menuju dapur rumah Theo.


Zee lalu berjalan melangkah menuju kamar Theo dan membaringkannya ke atas ranjang kamar Theo.


"Kau berat juga ya, bahu ku sampai sakit menahan mu." ucap Zee memutar bahunya yang terasa sakit seketika.


"Salah sendiri badan mu kurus dan kecil seperti itu, mungkin kau kurang gizi atau makan dengan tidak baik bahkan tidak sehat." ucap Theo menghina Zee.


"Kau ini ya sudah ku tolong malah menghina." Zee memegang miniatur mobil kayu di atas meja samping ranjang Theo hendak melempar Theo dengan mainan tersebut tapi tak jadi.


"Aku pernah melihat mainan seperti ini tapi dimana ya?" gumam Zee.


"Mainan ku itu tidak di jual di pasaran itu khusus di buatkan oleh paman ku, sini kembalikan!" Theo mengulurkan lengannya meminta mainannya kembali.


"Kenapa pintu mobilnya hilang ya?" tanya Zee.


"Tak tahu, seseorang merusaknya." ucap Theo.


Zee teringat dengan patahan mobil yang pernah ia simpan semasa kecil dulu sewaktu menabrak seorang anak laki-laki menyebalkan. Zee tersenyum kala mengingatnya.


"Jadi si anak menyebalkan itu masih sama menyebalkan nya rupanya." Zee tersenyum kala melihat Theo sangat menyukai mainan mobil kayunya itu dan asik memandanginya.


"Aku pulang ya hari sudah sangat sore nih." ucap Zee.


"Ku antar kau pulang." sahut Theo.


"Dasar bodoh, kau kan ku antar pulang kesini karena kurang sehat masa sekarang kau mengantarku pulang nanti saat kau kembali dari mengantar ku kau celaka bagaimana?" Zee menatap Theo dengan kesal.


"Kau mengkhawatirkan ku ya?" Theo tersenyum manja pada Zee.


Senyum macam apa itu? dasar bodoh, kenapa sih dia menggemaskan begitu?


"Zee... jawab aku! apa kau mengkhawatirkan ku?" tanya Theo lagi.


"Tidak, aku hanya tak ingin di repotkan terus oleh mu!" sahut Zee.


Theo berdiri dari ranjangnya mendekatkan tubuhnya pada Zee.


"Supirku akan mengantarmu pulang ya." Theo menyentuh ke dua bahu Zee.


"Ummm baiklah kalau begitu aku pulang ya, istirahat lah." Zee menepis tangan Theo dari bahunya.


"Zee, kenapa kau memilihku?" tanya Theo menahan lengan Zee.


"Memilih bagaimana ya kok aku tak mengerti?" tanya Zee.


Theo menarik tubuh Zee mendekat padanya lalu Theo mencium bibir Zee saat itu juga dan entah kenapa kali ini Zee tak bisa melepas Theo darinya dan membiarkan Theo melakukannya.


****


To be continued...


Salam dari Pocong Tampan mohon dukungannya ya buat vote karena vote kalian sangat berarti lho buat Vie, Komen juga ya ditunggu kritik sarannya😊😁