9 Lives

9 Lives
Si Pelaku (Part 1)



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


Aku tahu siapa pembunuh Rose." ucap nenek Amelia membuat Zee dan Ariana terkejut.


"Apa? apa kau yakin nek dengan ucapan mu sahut Zee menoleh ke arah Ariana yang juga menoleh ke arahnya bersamaan.


"Ya aku yakin. Dia seorang pria yang menggunakan sedan berwarna abu-abu pergi ke arah sana membawa potongan tubuh temanmu itu." ucap nenek Amelia memberi penjelasan.


"Sedan berwarna abu-abu, kok aku seperti tau ya pemilik sedan tersebut." ucap Zee.


"Siapa yang kamu maksud Zee si pemilik sedan abu-abu itu?" tanya Ariana


"Ayo ikut aku!" Zee menarik tangan Ariana mengikuti nenek Amelia mencari si pembunuh.


"Kendaraan siapa ini yang mau kita pinjam nek?" tanya Zee pada nenek Amelia.


"Ajak Theo cepat suruh ia kemari!" nenek Amelia memberi perintah pada Zee yang langsung mencari Theo menariknya segera.


"Kau ini keadaan lagi genting di dalam sana malah mengajakku berkencan." ucap Theo asal.


Zee memukul dada Theo dengan kesal.


"Siapa yang mau mengajakmu berkencan, tuh nenek Amelia memanggil ayo antar kamu dengan mobil mu!" perintah Zee.


"Antar kemana?" tanya Theo bingung


"Ah cerewet sudah ikuti perintah nenek." sahut Zee.


Theo hanya diam sambil menuruti perintah Zee lalu melajukan mobilnya sesuai dengan arahan sang nenek.


Sepuluh menit mereka mencari jejak sedan abu-abu yang di lihat nenek tiba-tiba Zee teringat sesuatu.


"Mobil penjaga Carter ya sedan itu milik penjaga Carter." ucap Zee.


"Tapi Zee penjaga Carter kan sudah mati." sahut Ariana.


"APA? penjaga Carter mati? lho ku pikir dialah dalang pembunuhan di sekolah, bagaimana kalian bisa tau kalau penjaga Carter sudah mati?" tanya Theo.


"Ah berisik nanti saja ku jelaskan, sekarang bawa kami ke alamat rumah penjaga Carter."


ucap Zee.


"Apa kau yakin Zee, Carter saja tak ingin kembali kerumahnya." ucap nenek lirih agar Theo tak mendengarnya.


"Aku yakin nek, lagi pula siang hari begini sungguh bodoh jika para lycan keluar." sauht Zee lirih.


Theo mengamati pembicaraan nenek dan Zee namun tak bisa menangkap suara pembicaraan mereka. Akhirnya Theo menghentikan laju mobilnya.


"Yang ku tahu si penjaga Carter rumahnya disana, masuk ke dalam area yang tertutup semak belukar sana, Alena pernah mencari si penjaga untuk meminta bantuan waktu itu jadi aku yang mengantarnya." ucap Theo.


"Sebaiknya kau disini saja." ucap Zee pada Theo.


"Lho kalian para perempuan yang kesana untuk menyelidiki kenapa harus aku yang pria menjaga disini?" tanya Theo dengan dahi mengernyit.


"Baiklah, biar nenek yang berjaga disini, ini Theo kau pakai kalung nenek." ucap nenek Amelia menyerahkan kalung jimat gigi hiu putihnya pada Theo.


"Ini untuk apa nek?" tanya Theo.


"Para orang tua jaman dulu percaya jika kalung ini bisa melindungi mu." sahut nenek.


"Apa kau berasal dari suku Indian?" tanya Theo lagi tapi nenek Amelia hanya tersenyum dan menepuk kedua bahu Theo.


"Sejak kapan kau sudah kesana kenapa aku tak menyadarinya?" tanya Zee.


"Hehehe maaf habisnya aku terlalu ingin tahu sih, ayo lewat sini kita mengendap-endap." ajak Ariana.


"Zee kemari, kita berkomunikasi lewat telepati ya tolong fokus lah." nenek berbisik pada Zee yang kemudian mengangguk.


Zee dan Theo mengikuti Ariana yang mengendap-endap memasuki area rumah penjaga Carter. Sebenarnya jika tak ada Theo Zee ingin sekali melakukan perubahan wujud menjadi hewan yang lebih kecil agar mudah untuk mengintai, tapi nenek malah mengajak Theo.


"Lihat itu dia bergerak, dia menuju mobilnya, Zee beritahu nenek dia mau keluar." ucap Ariana memperingatkan Zee.


"Aku akan kembali menolong nenek." sahut Theo tapi Zee menahannya.


"Nenek tahu harus bagaimana, percayalah." ucap Zee yakin karena sudah berkomunikasi dengan nenek agar segera bersembunyi dan menghilangkan mobil Theo juga dari pandangan manusia yang melintas dengan kekuatan sihir yang dimiliki nenek.


"Bagaimana apa sudah aman?" tanya Ariana.


"Nenek bilang aman si pria berjaket hitam dengan tudung dan topi itu pergi." sahut Zee.


"Aku tak melihat mu memakai ponsel, bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan nenekmu?" tanya Theo heran.


"Aku kan cucu tersayangnya kami bisa menggunakan telepati, apa kau percaya itu karena ikatan batin kami kuat." sahut Zee.


"Kau bercanda kan?" tanya Theo.


"Sudahlah, ayo kita masuk kita selidiki di dalam rumah." ajak Ariana menghentikan perdebatan Zee dan Theo.


Mereka bertiga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah penjaga Carter lewat jendela yang dibuka paksa menggunakan kekuatan Ariana.


"Jendelanya tak terkunci, lewat sini saja." ucap Ariana mencoba berbohong agar Theo tak curiga.


"Ummm bau busuk apa ini?" Theo mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidungnya kala bau busuk dan anyir darah menyengat ke dalam indera penciuman miliknya.


"Astaga, bagaimana bisa seseorang melakukan hal keji seperti ini?" pekik Ariana yang terkejut kala melihat potongan tubuh yang disusun sedemikian rupa membentuk seperti tubuh manusia secara utuh.


Theo tak berani masuk ke dalam karena mual dan tak tahan memuntahkan isi perutnya di luar jendela.


"Siapa si keji yang melakukan ini Zee?" tanya Ariana memutari ranjang yang di atasnya terbaring sepasang kaki milik Sania, sepasang tangan milik Tamara, tubuh milik Rose dan Sofia yang disatukan.


"Lihat itu Ariana, kurasa ada orang menggunakan rumah penjaga Carter untuk melakukan kejahatannya, dan kurasa penjaga Carter juga sudah lama tak berada disini karena dia bersembunyi dari lycan." sahut Zee.


"Ia kau benar Zee, eh lihat itu, si keji ini benar-benar sudah merencanakannya dengan matang." tunjuk Ariana pada dinding di belakang Zee.


Zee memandangi foto-foto korban yang Zee rasa di ambil secara sembunyi-sembunyi. Di foto tersebut terdapat lingkaran spidol merah sesuai letak tubuh yang diinginkan si pelaku dari para perempuan ini. Di samping foto tersebut ada foto potongan tubuh mereka dengan tanda icon smile pada foto potongan tubuh tersebut. Di atas foto-foto tersebut terdapat tulisan "Wanita sempurna ku".


Yang lebih mengejutkan bagi Zee kala dia melihat foto Lia sahabatnya dengan tanda spidol merah yang melingkar di bagian kepala foto Lia.


Zee dan Ariana saling berpandangan dan menatap dengan wajah tegang kala melihat foto Lia berada disana.


"Kita harus bergegas Ariana." ucap Zee lalu keluar melompati jendela dan berlari.


*****


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player