
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
***
"Apa ini daging yang mereka jual di restoran terkenal itu Zee?" tanya Joseph masih menyantap steak yang dibawa Zee.
"Aku rasa iya, dan restoran itu sangat terkenal katanya."
"Tapi ini daging manusia Zee."
"Ya kan paman betulkan dugaan ku, ayah Alena pemilik restoran steak terkenal itu dan paman tau kan siapa ayah Alena."
"Lalu apa kau akan memberitahukan mereka soal ini?"
"Menurut paman?"
"Biarkan saja mereka menjadi kanibal hahahaha."
"Ah paman kau ini, tetapi kan ayah Alena sudah mati pasti tak ada pemasok daging manusia lagi ke restoran itu ya kan?"
"Yang mati kan ayah Alena lalu jika masih ada penerusnya bagaimana?" Joseph menutup tirai jendela nya dan berbaring di sofa nya.
"Ah mudah-mudahan tidak, oh iya paman ulang tahun ku nanti bolehkah aku meminta hadiah?" Zee duduk di lantai dekat sofa Joseph dan merebahkan kepalanya pada paha Joseph.
"Kau bukan anak kecil lagi yang merengek meminta hadiah Zee."
"Tapi aku ingin hadiah darimu paman, please." rengek Zee.
"Dasar penyihir keras kepala, baiklah apa hadiah yang ingin kau minta?" Joseph membelai kepala Zee.
"Aku belum tau nanti jika saatnya aku ingin hadiah darimu baru ku beri tahu yah."
Zee tertidur di paha Joseph lalu Joseph mengangkat tubuh Zee membaringkannya di atas ranjangnya. Joseph memandangi Zee sambil mengelus pipinya yang halus.
"Kenapa kau makin lama makin cantik dan mempesona bagiku ya Zee, aku takut tak bisa lagi menahan perasaanku padamu."
Joseph memberi kecupan pada bibir Zee, tindakan yang tak bisa ia tahan lagi terjadi begitu saja. Joseph menggaruk-garuk kepalanya dan menepuk-nepuk wajahnya.
"Sadarlah Jo, ingatlah usia mu, dia terlalu muda untukmu." gumam Joseph.
Namun ia kembali lagi mengecup bibir Zee, sekali dua kali terus berulang sampai Zee menggeliat.
"Ah Zee kamu membuatku gila." Joseph lalu keluar dari rumahnya menuju hutan di tengah bukit belakang rumahnya menghindari Zee.
***
Blue menggaruk wajah Zee membangunkannya di pagi hari itu.
"Aw sakit Blue, iya aku bangun." geram Zee.
"Bagus atau aku akan mengeluarkan kukuku mencakar mu." ancam Blue.
"Oke aku bangun." Zee berdiri dengan lunglai menuju kamar mandinya bersiap untuk ke sekolah.
Setelah mandi dan berganti pakaian seragam sekolah nya Zee bergegas menuju meja makan sebelum ceramah pagi dari nenek Amelia berkumandang.
"Pagi nek." Zee memeluk sang nenek dari belakang lalu mencium pipi neneknya itu.
"Pagi, oh iya Zee nanti malam kita akan kedatangan tamu dari negeri Zamrud."
"Negeri Zamrud? dimana itu nek?" tanya Zee melahap roti yang ia celup ke dalam susu putihnya.
"Kau akan tahu nanti malam, jangan pulang terlambat yak." ancam nenek Amelia.
"Okay, aku tak akan pulang terlambat, baiklah nek aku pergi yak." Zee meraih tas sekolahnya.
"Zee ini makan siang mu." nenek Amelia memberikan kotak makan pada Zee.
"Terima kasih nenekku sayang." ucap Zee lalu pergi dengan sepeda kesayangannya ke sekolah.
***
Sesampainya di sekolah, Theo sudah berdiri di tempat Zee sering memarkirkan sepedanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zee yang aneh melihat Theo berdiri disana.
"Aku menunggumu."
"Menungguku? wow aku tersanjung ada tuan muda yang sedang menungguku disini."
"Aku menunggumu karena aku ingin kau belikan sarapan ku di Bread Jhon."
"Apa? kau sudah gila yak? lima menit lagi bel sekolah berbunyi dan kau menyuruhku membeli sarapan yang jaraknya dua ratus meter dari sini, harusnya kau menghubungi ponselku tadi!" pekik Zee lantang pada Theo.
"Mana aku tau nomor ponsel mu, ini uangnya." Theo memberikan beberapa lembar uang kertas ke Zee.
"Aku tak mau!" sahut Zee kesal.
"Wah mau berani melanggar perjanjian rupanya."
"Aku tak bermaksud melanggar perjanjian hanya mengingatkan betapa bodohnya perintahmu itu, dan jika kau lapar, ini ambil bekal ku dulu, nanti siang aku akan membelikan makananmu di Bread Jhon, apa kau puas?"
ucap Zee kesal sambil menyerahkan kotak makan siangnya ke tangan Theo dan mengambil uang kertas dari tangan Theo.
"Baiklah aku setuju, berikan nomor ponselmu!" Theo mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada Zee.
Zee mengetikkan nomor ponselnya pada ponsel Theo.
"Jangan memberikan ku nomor yang salah Zee, aku peringatkan kau!"
ah sial, dia tau juga rupanya aku hanya asal ketik.
"Ini." Zee menyerahkan kembali ponsel Theo.
"Baiklah, oh iya ini bawakan tasku!"
Theo menaruh tali tasnya pada pundak Zee.
Ihhh menjengkelkan sekali pria ini seandainya saja aku bisa mencekik mu lalu membelah dada mu kemudian meraih jantungmu dan kuberikan pada Paman Joseph.
"Kenapa kau diam saja menatapku seperti itu kau menyukai ku ya?" Theo menoleh pada Zee.
aaaaa... menyebalkan!
****
To be continued...