9 Lives

9 Lives
Rumah Joseph



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


"Pulanglah!" ucap Joseph ke Theo.


"Hai paman!" sahut Zee.


Theo memandang pria berbadan tegap yang lebih tinggi darinya itu dari ujung kaki sampai kepala.


"Ini paman mu Zee?" tanya Theo masih dengan tatapan penuh ingin tahu dengan sosok pria dihadapannya.


"Iya lalu kenapa? apa kau mau aku adukan karena suka menjahili ku?" bisik Zee pada Theo.


"Ummm Baiklah aku pergi." bisik Theo.


"Oke aku pamit ya, sampai jumpa besok Zee." Theo mengayuh sepedanya menjauh dari rumah Zee.


"Apa dia mengganggumu?" tanya Joseph.


"Sering sih, tapi tenang paman aku bisa membalasnya hahahha." sahut Zee.


"Oiya paman apa kau mau coba kue arbei ini?" Zee menyodorkan kotak kue nya.


"Tidak, aku suka kue daging dengan selai darah." ada wajah smirk yang Joseph berikan sekilas.


"Ha ha ha Paman lucu sekali." ucap Zee kesal.


"Aku masuk dulu nanti aku kembali, aku ingin bicara denganmu, sebentar ya paman, sebentar jangan pergi kemana-mana, oke."


Zee membawa sepedanya ke belakang rumahnya lalu memberikan kotak kue itu pada nenek yang masih sibuk meramu obat untuk nyonya Karenina.


"Kau mau kemana Zee?" tanya nenek Amelia sambil mengaduk ramuan.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan paman Jo."


"Kau mau membahayakan nyawamu lagi ya?"


"Ah nenek, dengarkan ya besok teman-teman ku akan datang kemari, kami harus meneliti tulip hitam di bukit Halley, apa nenek mau teman-temanku melihat tamu nenek?"


"Lalu kau akan bawa kemana mereka? kau mau langsung ke bukit?"


"Ummm justru itu, aku mau membawa mereka ke rumah paman Jo, bagaimana?"


"Baiklah, nanti nenek akan siapkan jamuan nya."


"Ah... nenek kau memang nenek terbaik." Zee memeluk neneknya menempelkan wajahnya pada pipi nenek.


"Sudah lepaskan! lihat ramuan ku ini sudah mendidih."


"Ah iya, uh bau sekali aromanya."


"Tentu saja, apa kau mau tahu ramuan ini terbuat dari..."


"Dah nenek aku keluar dulu." Zee langsung bergegas karena malam mendengar penjelasan nenek mengenai ramuannya yang akan panjang lebar.


***


"Hai paman ayo kita ke rumahmu!" ucap Zee menarik tangan Joseph segera ke arah rumah Joseph di kaki bukit Halley.


"Aku mau pinjam rumah paman besok sepulang sekolah, boleh ya?" tanya Zee penuh manja.


"Rumahku? untuk apa?" Joseph bersedekap bersandar di dinding.


"Untuk kerja kelompok, aku dan kelompokku akan mencari tulip hitam di bukit Halley, mereka ingin sekali kerumahku, nah paman kan tahu sendiri di rumahku ada siapa, aku takut mereka akan mencari tahu soal Zamrudian dan nenek."


"Lalu bagaimana jika mereka mencari tahu tentangku?"


"Nah aku sulap rumahmu menjadi lebih manusiawi."


"Manusiawi? memang apa bedanya dengan rumah ini?"


"Ya pokoknya terlihat lebih rapih paman, nanti paman pergi saja saat teman-teman ku hadir."


"Baiklah, tapi ingat jangan kau hancurkan rumahku."


"Ah terima kasih paman... kau memang paman kesayanganku." Zee memeluk Joseph.


"Lepaskan, lepaskan, aku mau memasak."


ucap Joseph melepaskan pelukan Zee.


"Baiklah aku akan menyulap rumahmu sekarang." ucap Zee sambil memantrai rumah Joseph.


"Zee haruskah tirai ku berwarna pink?" protes Joseph.


"Kau tak suka ya paman?"


"Zee ..."


"Okay okay ku ubah jadi warna hijau yak."


"Hmmm... Zee apa kau mau daging panggang?"


"Asal jangan daging manusia aku mau."


"Hmmm sayangnya aku memasak daging manusia hehehe." Joseph terkekeh-kekeh dari dapurnya.


"Ih paman menyebalkan."


"Baiklah aku akan memasak daging domba untukmu."


"Terimakasih paman tampanku." Zee memberi sentuhan bunga di atas meja depan sofa kesayangan Joseph.


"Oh no... Zee haruskah wallpaper rumahku penuh dengan bunga?" Joseph terkejut melihat ruangan rumahnya menjadi lebih cantik dengan selera ala Zee.


"Cantik bukan?" Zee tersenyum dengan lesung pipi lebar menghiasi wajahnya.


"Huh." Joseph menghela nafas panjang.


"Mana makanan untukku?" pinta Zee.


"Ini ambilah." Joseph menyerahkan sepiring daging domba dan kentang tumbuk untuk Zee.


"Kurasa aku akan tidur di hutan malam ini, di atas pohon mungkin." gumam Joseph.


***


To be continued...