9 Lives

9 Lives
Berburu kembali



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


Tebing terjal dipenuhi kerikil yang menusuk sendi telapak kaki di rasakan Joseph ditemani malam yang pekat dengan pemandangan bintang berkelip di angkasa menemani bulan separuh.


"Paman apa kau sudah punya hadiah untukku? tiga hari lagi kan ulang tahunku?"


Tanya Zee yang berjalan di depan Joseph.


"Kenapa kau hanya memikirkan kado, kau harus pikirkan ujian naik tingkat mu dari nenekmu." sahut Joseph masih mengendus buruannya di udara sekitar.


"Hmmm tenang saja Paman, aku masih punya, sebentar." menghitung titik hitam di lengan kanan nya.


"Empat nyawa lagi." ucap Zee dengan sombongnya.


"Sombong sekali, bagaimana jika sebelum kau menikah punya anak dan berusia tua seperti nenekmu kau kehilangan nyawamu?"


"Ah... aku tidak mau memikirkan nya, aku ingin menua, menikah, mempunyai anak, eh salah mempunyai suami dulu yak dari pernikahanku lalu punya anak, lalu punya cucu hidup bahagia." Zee berputar kegirangan.


"Raihlah mimpimu itu Zee." Joseph berjalan mendahului Zee.


"Paman Jo... berjanjilah kau akan selalu disisiku?" Zee memeluk Joseph dari belakang membuat langkah Joseph terhenti dan terpaku. Tubuh tegapnya tak dapat dikendalikan, ia ingin melangkah namun tak bisa seolah kedua kakinya tertancap pada tanah yang ia pijak.


"Kenapa kau tak menjawab ku paman?" ucap Zee dengan nada manja masih memeluk Joseph.


"Aku, aku, aku tak tahu Zee."


"Aku ingin kau berjanji, ayo katakan paman Jo ku tersayang."


"Hmmm baiklah aku berjanji." Joseph menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan ya penuh kelegaan saat berucap.


"Aku menyayangimu paman." Zee melepas pelukannya lalu berlari mendahului Joseph.


"Apa kau tau Zee, ingin rasanya aku menarik mu ke pelukanku dan mencium bibir mu lagi sampai puas, huh sampai kapan aku dapat menahan rasa ini." Joseph mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan kesal.


Zee melambaikan tangannya pada Joseph memberi sinyal untuk mendekat.


Joseph langsung menghampiri Zee.


"Lalu kenapa?"


"Sepertinya mereka sengaja memasang jebakan di jalan itu, coba perhatikan."


Laki-laki bertubuh pendek berjalan dengan pincang memasang seutas kawat yang dia tancapkan di pohon yang berada di seberang wanita itu. Seutas kawat itu menjulur di antara jalan raya. Kawat itu tak akan terlihat karena gelapnya jalanan yang hanya terdapat lampu remang di sisi jalannya, jarak lampu tersebut juga berjauhan hanya sebagai pemanis jalan raya yang sepi itu.


Mobil mereka bersembunyi di belakang posisi wanita bertubuh kurus dan tinggi itu, sedangkan seorang anak balita berjenis kelamin perempuan yang berusia sekitar lima tahun duduk di atas kap mobil itu.


Joseph dan Zee masih mengamati gerak gerik suami istri tersebut sampai sebuah mobil melintas dan terpental karena terhalang kawat jebakan tersebut. Mobil sedan Corolla itu berguling dua kali. Seorang pria keluar dari mobil itu sendirian merangkak penuh luka dan meminta tolong. Wanita kurus itu menghampiri korban kecelakaan tersebut dan menembakkan peluru tanpa bersuara tepat di dahi pria tersebut. Seketika pria korban kecelakaan itu tewas.


Suami wanita itu memeriksa bagian dalam mobil dengan seksama, meraih satu koper dari dalamnya yang ternyata berisi uang.


"Itu buruan yang tepat untukmu paman."


ucap Zee namun Joseph sudah menghilang sedari tadi dan ternyata dengan tubuh serigala besarnya sudah melahap kepala wanita kurus itu.


Zee buru-buru menghampiri anak kecil yang menangis dengan kencangnya memanggil mama. "Hai adik kecil, wah sayang sekali rupanya orang tuamu adalah perampok yah." dengan mantra nya Zee membuat gadis kecil itu tak bergerak dan tak bersuara meski menangis dengan kencangnya.


Sang suami meraih pistol yang telempar dari istrinya dan hendak menembak Joseph namun Zee berhasil dengan sigap memutar arah pistol itu membuat pelurunya meluncur bersarang di dada pria tersebut dan tewas seketika.


"Apa kita perlu merapikan tempat ini paman?" tanya Zee.


"Biarkan saja, aku hanya ingin memakan perempuan ini." sahut Joseph.


"Bagaimana dengan pria tersebut?"


"Aku mencium kejanggalan dari tubuhnya, sepertinya dia bukan manusia, bau darahnya juga menjijikan."


"Maksud paman kalau dia bukan manusia lalu dia makhluk apa?"


"Entahlah Zee, bereskan saja pria itu." Joseph menggigit tubuh wanita itu lalu masuk ke hutan.


"Hmmm makhluk apa kau ini?"


Pria itu meraih kaki Zee tiba-tiba.


"Aaaa lepaskan!" pekik Zee.


To be continued...