
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
***
Zee memutari pria bertumbuh pendek yang tersungkur dengan posisi telungkup itu. Darah mengalir dari dadanya, benar saja ucapan Joseph, darah pria ini berbeda ada bau busuk yang tercium dari darahnya.
"Hmmm makhluk apa kau ini?"
Pria itu meraih kaki Zee tiba-tiba.
"Aaaa lepaskan!" pekik Zee melempar pria itu ke udara dan membelahnya sebelum jatuh ke jurang belakang pohon pinus tepi jalan ini.
Zee memastikan pria itu tewas, dilihatnya pada dasar jurang itu dua ekor singa gunung berebut mengambil bagian pria yang tubuhnya sudah terbelah itu dan membawanya nya pergi berlainan arah.
Zee kembali ke jalanan tadi, dilihatnya Joseph sudah selesai dengan buruannya melumatnya habis.
"Bagaimana sekarang dengan anak ini?" tanya Zee pada Joseph.
"Kau bisa membuatnya buka mulut?" Joseph sudah kembali ke wujud manusianya.
"Baiklah aku coba ya, ayo a....., astaga apa itu paman?" Zee terkejut melihat makhluk seperti ular berkepala dengan gigi tajam mencoba merangkak keluar dari rongga mulut anak kecil itu dan mengigit Zee.
Beruntung Joseph sudah menarik Zee untuk menghindari anak itu.
"Apa itu paman?"
"Rupanya ayahmu seorang Tremor ya?" Joseph memutus tubuh makhluk yang keluar dari rongga anak itu dan jatuh ke lantai menggelepar seperti ular yang terpisah dari tubuh utuhnya.
"Apa itu Tremor paman?" Zee mengamati bagian yang terpotong tadi dengan seksama.
"Sejenis cacing namun mematikan dia akan menghisap darah korban sampai terkuras habis dan mati."
"Jadi kita harus membunuh anak ini?"
"Ya, tapi tunggu dulu dia masih mempunyai jantung manusia."
"Dan kau menginginkan nya bukan? baiklah kali ini kau ya paman yang bereskan sisanya, tubuhku lelah sekali tenagaku terkuras tadi hehehe."
Joseph terdiam lalu mengangguk.
"Aku akan menunggu di atas bukit ya paman." sahut zee meninggalkan Joseph.
Masih terngiang kata-kata Zee di bukit terjal tadi "Paman Jo... berjanjilah kau akan selalu disisiku?" Joseph memandang Zee dengan tersenyum. "Aku akan selalu berada disisimu Zee, aku berjanji." ucapnya lirih lalu terlelap sampai matahari terbit.
***
Sinar matahari pagi menyapa dari balik tirai jendela rumah Joseph menyilaukan kedua mata Zee dan membuatnya terbangun.
"Aku ada dimana ini? oh aku tahu ini rumah paman kan, jadi aku semalam tidur disini rupanya, hah jam berapa ini? aku harus kesekolah." Zee langsung terbangun dan berdiri menuju pintu rumah Joseph namun langkahnya terhenti berbalik menuju Joseph yang terbaring di sofa.
"Kenapa Paman Jo terlihat tampan sih kalau sedang tidur? aah menggemaskan." Zee menyentuh pipi kanan Joseph dengan gemas. "Aku menyayangimu paman." Zee mencium pipi Joseph lalu bergegas pergi kesekolah.
Rupanya Joseph sudah terbangun dan berpura-pura memejamkan mata, mendengarkan apa yang Zee ucapkan dan merasakan sentuhan halus dan lembut pada pipinya. Joseph tersenyum sambil menyentuh pipinya.
***
"Ah syukurlah nenek terlalu sibuk mengobati bibi Karenina dan menjamu keluarganya jadi dia tak tahu semalam aku menemani paman Jo berburu." gumam Zee sambil memakirkan sepedanya.
"Kau berburu apa semalam?" sahut Theo tiba-tiba di belakang Zee.
BRAK...! Zee membanting sepedanya terkejut
"Kau ini, mengagetkan ku saja!" pekik Zee memukul bahu Theo.
"Ayo ambil sepedaku!" perintah Zee
"Kenapa harus aku kan kau yang menjatuhkannya?"
"Tapi kau kan yang membuatku terkejut, aaahh menyebalkan." Zee mengambil sepedanya yang jatuh.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, apa yang kau buru semalam?"
"Aku, eng aku, aku pergi berburu nyamuk di teras rumah ku, wlek." Zee menjulur kan lidahnya.
Theo menarik lengan Zee segera mendekat kearahnya. Theo menciumi rambut Zee. "Kenapa rambut mu berbau mayat? huh menjijikan." ucap Theo.
"Lalu kenapa kau mencium rambutku, lepaskan aku!" Zee berusaha melepaskan diri dari tangan Theo.
"Awww... kalian ini, sepagi ini sudah bermesraan di hadapanku?" Alena menggoda Theo dan Zee.
***
To be continued... 😊😊😘😘