9 Lives

9 Lives
Ariana (Part 2)



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


"Hari ini jadi kan latihan dramanya?" tanya Alena.


"Ya jadi dong, kan kemarin kita sudah libur." sahut Lia.


"Kenapa rasanya malas sekali ya." ucap Zee.


"Hei aku mendengarnya lho." suara Rose terdengar di belakang Zee.


"Eh sejak kapan kau sudah berdiri di belakangku?" tanya Zee sambil menoleh ke Rose yang merapatkan kursinya lebih dekat di samping Zee.


"Baru saja kok, jangan lupa ya nanti latihan." ucap Rose lalu menyeruput susu cokelat dalam kemasan karton di tangannya.


"Iya Rose." ucap semuanya bersamaan.


"Hahaha kalian lucu sekali, senang mendengarnya seperti pengikut ku saja." ucap Rose.


"Apa kau akan menunjukkan contoh kostum pada Miss Jane nanti?" tanya V pada Rose.


"Tentu saja, aku akan menunjukkan contohnya, dan kalian semua harus hadir karena aku akan mengukur ukuran tubuh kalian, oh ya bagaimana dengan Ariana apa dia sudah masuk sekolah ?" tanya Rose menatap ke arah Theo.


"Kenapa kau menatap padaku? tanya saja pada yang lainnya, mereka juga bertemu kan dengan Ariana tadi." sahut Theo dengan nada ketus.


"Lho kata V ada kemungkinan kau menabraknya kan." Rose menoleh pada V yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"APA? apa benar yang Rose katakan V? kau bilang padanya bahwa aku menabrak Ariana?" ucap Theo mulai kesal menunjuk V dan Rose bergantian.


"Ummm aku... aku kan hanya menduga saat kau menanyakan foto anak-anak drama dan aku menduga kau mencari Ariana dan keluarganya karena hendak bertanggung jawab, ya mungkin saja kau menabraknya."


sahut V menundukkan wajahnya karena takut bercampur malu.


"Tetapi aku tidak menabraknya, aku hanya menemukannya terluka di tepi jalan dekat hutan." nada suara Theo mulai memekik, Zee segera menyentuh tangan Theo untuk menenangkannya.


"Maafkan aku kalau begitu, aku kan tak tahh hanya menduga." sahut V.


"Kau itu ya..."


"Sudah Theo lihatlah semua orang mulai memperhatikan mu." Zee memotong ucapan Theo.


"Ariana masuk sekolah, tadi aku melihatnya di toilet, dia sudah baik-baik saja." sahut Zee mencoba menenangkan dan mencairkan suasana.


"Betul itu, tadi aku dan Alena juga melihatnya di parkiran sekolah." sahut Lia membenarkan ucapan Zee.


Bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat berakhir akhirnya semua murid di kantin bergegas menuju kelasnya masing-masing. Zee berusaha mendorong Theo menjauh dari V saat kembali ke kelas, karena sepertinya Theo masih merasa kesal dituduh sebagai penabrak Ariana.


***


Bel istirahat sekolah berbunyi semua murid pun berhamburan dari kelasnya masing-masing.


"Ayolah Theo kita pergi saja menjenguk Natti sekarang, aku malas sekali pergi latihan drama." Zee merengek pada Theo sambil menarik lengan Theo.


"Hmmm tapi bukankah nanti Miss Jane akan mengancam nilai kelulusan kita jika kita tak menurut padanya." ucap Theo


"Hayo kalian mau kemana? mau kencan ya?" ledek Lia yang saling tertawa bertatapan dan bergantian melirik tangan Zee yang menggenggam tangan Theo saat itu.


"Kencan? enak saja aku hanya... ummm aku hanya ingin mengajak Theo mengantarkan ku pulang, kan dia sudah merusak sepedaku." sahut Zee.


"APA? dia merusak sepeda mu?" pekik Alena menatap Theo tajam.


"Iya dia merusak sepedaku agar aku tak bisa pergi sekolah, jadi dia punya alasan untuk mengantar jemput ku ya kan Theo?" Zee menggoda Theo agar jujur pada Alena.


"Memang sepeda mu sudah jelek kok, jadi wajar gampang rusak, lagian aku cuma kasihan jika kau harus sendirian berjalan ke sekolah, kau harusnya berterima kasih kepadaku." ucap Theo dengan sombongnya.


Mata Zee makin memicing dan sangat sebal dengan ucapan Theo barusan. Namun, Zee lupa melepaskan genggaman tangannya dan Theo.


"Ah cinta memang buta ya, apapun akan dilakukan demi yang dicintainya, ayo Alena kita ke ruang paduan suara, Rose dan Miss Jane pasti sudah menunggu kita." ajak Lia menarik lengan Alena.


Zee sadar dengan genggaman tangannya, lalu ia melepasnya dan buru-buru menghampiri Alena dan Lia.


Theo tersenyum menatap tangannya yang tadi di genggam oleh Zee sambil ia melangkah juga menuju ruang paduan suara.


Di ruang paduan suara semua murid sudah berkumpul untuk berlatih pementasan drama. Selama satu jam mereka sudah berlatih adegan demi adegan meski masih banyak yang belum hapal dialog. Akhirnya Miss Jane memutuskan untuk mengakhiri latihan drama itu dengan mengukur semua murid untuk pembuatan kostum. Miss Jane sudah menyetujui usulan Rose mengenai bahan kostum dan penjahit yang akan menyiapkan kostum pemeran masing-masing.


"Kau urus semua ya Rose, kau catat hasilnya yang benar dan akurat, aku pamit duluan karena akan pergi ada urusan mendadak yang harus ku urus." ucap Miss Jane pada Rose lalu ia pamit pada semuanya.


Tak berapa lama Mark tak sengaja menutup lemari penyimpanan dengan kencang dan tak tahu jika ada tangan Lia disana.


"Ouch... ini sakit...!" pekik Lia dengan kencangnya karena kesakitan.


Jari Lia telunjuk dan jari tengahnya mengeluarkan darah akibat kecelakaan tersebut.


"Maafkan aku Lia, aku tak sengaja, maaf ya duh." Mark mengucap dengan paniknya.


"V ambilkan kotak P3K dan bawa kemari!" perintah Alena pada V.


Alena dan Zee langsung menghampiri Lia namun Ariana sudah menghampiri nya dengan segera. Ariana meraih tangan Lia yang penuh luka dan tiba-tiba ia menghisap darah di tangan Lia.


"Apa yang kau lakukan aaahhh ini sakit Ariana?" pekik Lia mencoba menarik tangannya dari Ariana.


"Ariana lepaskan!" teriak Zee sambil mendorong Ariana. Ariana terlihat panik lalu bergegas pergi menyeka bibirnya dari darah Lia yang dia hisap.


"Ada apa dengan Ariana sih?" tanya Lia yang merasa aneh.


"Mungkin dia hanya ingin menolong mu menghentikan darahmu Lia." sahut Alena.


"Tapi aku merasa dia menghisapnya." ucap Lia yang tangannya kini di obati oleh Mark setelah mendapat kotak P3K dari Zee.


"Sekali lagi maafkan aku ya Lia." ucap Mark penuh penyesalan.


"Baiklah ayo yang lainnya berbaris untuk ku ukur panjang tubuh dan lingkar dada, serta lingkar pinggang kalian." ucap Rose memerintahkan murid lainnya di ruangan itu.


"Aku mau ke toilet dulu ya." ucap Zee bergegas menuju toilet menghampiri Ariana.


Sesampainya Zee disana Ariana menangis sejadi-jadinya sambil memukul wastafel.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariana berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai mengeluarkan taring.


****


To be continued... Happy Reading...


Selamat menjalankan ibadah puasa ya buat kalian yang menjalankan.