9 Lives

9 Lives
Toko Kue Arbei



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


***


Pulang sekolah Zee bergegas mengayuh sepedanya ke toko kue arbei sesuai pesanan Theo, ia mengayuh nya kuat-kuat agar tak bertemu Theo di jalan saat ini.


"Huh kenapa panas sekali hari ini?" keluh Zee menyeka bulir keringat yang jatuh dari dahinya.


Sampai di depan toko kue arbei, lalu Zee mulai mendorong pintu kaca bertuliskan Anna's Cake itu. "Permisi, hallo, siapapun penjual nya permisi." ucap Zee sambil mengamati lukisan klasik pada dinding dalam toko.


"Hallo gadis cantik, kue apa yang ingin kau beli?" sapa seorang nenek berkepang dua dengan pakaian gaya anak muda dihadapan Zee.


"Hai, emmm nenek atau nyonya, bagaimana ya aku harus memanggilmu?"


"Kau panggil saja aku Tante Anna." senyumnya merekah.


"Oh jadi anda yang bernama Anna seperti nama toko itu nyonya? eh tante."


"Iya benar, lalu kue apa yang hendak kau beli?"


"Emmm aku mau kue arbei."


"Yang mini atau yang ukuran biasa seperti ini sayangku?" tunjuk nyonya Anna pada etalase kue buatannya.


"Hmmm sepertinya aku mau yang ukuran biasa lalu yang ukuran mini lima."


"Baiklah aku akan segera menyiapkan." ucap nyonya Anna dengan senyum ramahnya.


"Nenek tahukah kau aku berhasil menjuarai..." ucap seorang pemuda yang terhenti saat melihat Zee di tokonya.


"Hai, apa kau sudah memilih kue yang hendak kau beli?" sapa pemuda tampan berlesung pipi, matanya indah berwarna hijau dengan rambut coklatnya yang berkilau terkena pancaran sinar matahari dari luar.


Zee memandangi pemuda itu tanpa berkedip, pemuda itu terlihat sangat menarik dimata Zee. "Tok tok, hai, hallo, kau sadar kan?" pemuda itu menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Zee membuat Zee tersadar.


"Eh, hai, maaf... aku... aku sudah memesan."


Zee tersipu malu sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinganya.


"Oh... apa kau lihat nenek ku?" tanya pemuda itu.


"Di dalam sana. Dia sedang menyiapkan kue untukku."


"Oh begitu. Hai hampir lupa aku Zack." pemuda itu mengulurkan tangannya.


"Hai aku Zee." Zee membalas uluran tangan Zack.


"Kau masih sekolah kan? dimana sekolahmu?" tanya Zack


"Aku bersekolah di Briliant High School."


"Wah itu kan sekolah saingan ku, aku bersekolah di Smart High School, Minggu besok aku akan mengalahkan sekolah mu di kejuaraan basket nanti." ucap Zack dengan sombong dan bangga. Zee hanya tersenyum kecil mendengar nya.


"Zack apa kau mengganggu anak ini?" nenek Anna hadir dengan dua kotak besar dan kecil berisi kue arbei.


"Tidak nenekku sayang, aku hanya berkenalan dengan nya, ternyata dia bersekolah di Briliant nek."


"Minggu besok aku akan mengalahkan sekolahnya, seperti hari ini aku menjuarai pencetak shoot terbanyak ke keranjang, lihat ini." Zack dengan bangga menyerahkan medalinya pada neneknya.


"Lumayan.."


"Hanya lumayan? aahhh nenek tidak asik sekali."


"Memangnya kau mau aku berkata apa?"


"Puji aku lebih baik Nek, bilang hebat atau kau memang terbaik Zack."


"Hahahhaa... ups maaf." Zee tertawa melihat tingkah Zack.


"Apa aku lucu?" tanya Zack pada Zee.


"Tidak, aku hanya lucu melihatmu merajuk pada nenekmu?"


"Hahahaha lihat kan dia saja menertawaimu." ucap nenek Anna.


"Ini pesanan mu nak." nenek Anna mengulurkan dua kotak kue pada Zee.


"Terima kasih Nek."


"Jangan bosan kembali kesini ya." ucap nenek Anna tersenyum.


"Pasti nyonya." Zee keluar dari toko kue itu berjalan menuntun sepedanya perlahan dia takut kuenya rusak jika memaksa menaiki sepedanya sambil membawa kue.


"Hai Zee, apa mau ku bantu?" Zack sudah berada di belakang Zee.


"Tak usah aku bisa kok."


"Sudah sini aku yang bawa sepeda mu, kebetulan aku mau pulang, rumah mu dimana?"


"Rumahku dekat bukit Halley, tapi aku mau ke Jalan Stovia, kerumah temanku."


"Wah kebetulan sekali rumahku juga di Jalan Stovia, kau mau kerumah siapa?"


"Theo."


"Oh kau temannya si brengsek itu rupanya."


"Kau kenal dengan si pecundang itu?"


"Dia musuh abadiku sejak dia datang kesini, untuk apa kau bawa kue kesana, untuknya ya?"


"Ih aku terpaksa melakukannya, kalau aku bisa aku akan melemparkan kue ini ke wajahnya, tapi ini untuk teman-teman ku nanti kami akan bekerja kelompok dirumahnya."


"Oh... itu rumahnya, dan sepertinya teman-teman mu sudah menunggumu." tunjuk Zack ke halaman rumah Theo. Terlihat semua orang memperhatikan Zee dan Zack terlebih Theo dan V.


"Dah Zee, kapan-kapan aku mampir kebukit Halley ya?" Zack melambai pada Zee lalu pergi menjauh setelah menaruh sepeda Zee di halaman rumah Theo.


"Oke, terima kasih Zack."


***


To be continued...