9 Lives

9 Lives
Ariana



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


Pagi itu di halaman rumah Zee, Theo sudah berdiri di samping sedan hitamnya menjemput Zee.


"Pagi..." sapa Theo dengan senyum manisnya pada Zee.


"Sejak kapan kau menyapaku semanis itu?" Zee menahan tawanya.


"Baiklah ku tarik kembali senyum di wajah tampan ku ini." sahut Theo dengan raut wajah datar sekarang.


"Ayo masuk!" Theo membukakan pintu mobilnya untuk Zee.


"Terima kasih." sahut Zee.


Theo menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju sekolah.


"Apa nanti kau mau menengok Natti?" tanya Theo.


"Ummm sebenarnya aku agak jijik ya bertemu dengannya apalagi aku tak membawa pakaian ganti." sahut Zee.


"Kita akan membelinya nanti, kau hanya harus ikut." sahut Theo masih fokus menyetir.


"Kalau harus ikut, kenapa kau tanyakan padaku pertanyaan tadi huh?" tanya Zee namun Theo tidak menjawab.


"Eh bukankah nanti latihan drama? lalu kita akan terlalu sore lho mengunjungi Natti?" tanya Zee.


"Pokoknya kita harus menengok Natti." sahut Theo.


"Baiklah, aku malas membantah mu kali ini." ucap Zee, membuat Theo memalingkan wajahnya dari Zee karena takut ketahuan tersenyum senang.


Aku harus bilang pada Zack nih agar tak menjemput ku sepulang sekolah nanti.


Zee mengeluarkan ponselnya dan berkirim pesan pada Zack.


"Siapa yang kau kirimi pesan?" tanya Theo hendak meraih ponsel Zee namun Zee segera menyimpannya ke dalam tas.


"Bukan siapa-siapa kok." sahut Zee.


"Kenapa tak kau tunjukkan padaku?" ucap Theo ada nada kesal di sana.


"Sudah lah fokus saja menyetir." Zee menyentuh pipi Theo sambil tersenyum manis dan mendorong nya pelan ke arah depan agar fokus menyetir.


Jantung Theo berdegup kencang mendapat sentuhan tangan Zee barusan.


"Apa kau sudah sarapan Theo?" tanya Zee.


Tak ada jawaban dari Theo karena masih takjub dengan perlakuan manis Zee barusan.


"Theo? Hallo?" Zee menjentikkan jari nya ke wajah Theo sampai ia terkejut.


"Apa yang kau katakan barusan?" tanya Theo.


"Hmmmm kau melamun ya, aku bertanya apa kau sudah sarapan?" tanya Zee kembali.


Theo mengangguk.


"Eh tunggu dulu apa kau belum sarapan Zee?"


"Sudah, nenek selalu menyiapkan sarapan untukku dan membawakan ku bekal." sahut Zee.


"Aku jadi menyesal sudah sarapan, lain kali kita sarapan bersama, ini harus ya!" ucap Theo dengan tegas.


"Kau ini kenapa sih, dari tadi selalu saja ada kata harus?" Zee bertolak pinggang.


"Ya pokoknya kau harus menuruti ku, seperti biasa, kan kau sudah terikat perjanjian denganku untuk menuruti ku sampai tahun ajaran kita berhasil." ucap Theo masih sambil menyetir.


Zee hanya terdiam memandang Theo dengan raut wajah yang aneh.


***


Zee dan Theo sampai di sekolahnya.


"Theo aneh ya, kemarin dia acuh pada Zee bahkan menyuruh supirnya menjemput Zee eh sekarang dia sendiri yang jemput." sahut Lia.


"Itulah namanya cinta." Alena tertawa kecil menutup bibirnya dengan tangannya.


"Hai Zee ." sapa Lia pada Zee.


"Hai, kenapa kalian masih disini?" Zee menyapa balik Lia


"Menunggu kalian, eh itu kan Ariana, rapat sekali kostumnya sih rasanya sekarang bukan musim dingin deh." ucap Lia menunjuk Arian dengan jaket Hoodie yang kebesaran lengkap dengan masker.


"Mungkin dia menjaga dirinya lebih steril atau malu menutupi tangannya yang terluka." sahut Alena.


"Bisa jadi sih, ya sudah yuk kita kembali ke kelas." ajak Lia.


Zee mengamati Ariana dengan seksama, kaus kaki Ariana juga panjang sampai selutut yang menambah outfit dirinya benar-benar rapat pagi itu.


"Zee ayo." Theo menarik lengan Zee masuk ke dalam sekolah.


***


Bel istirahat berbunyi, semua siswa langsung berhamburan menuju kantin.


"Kau duluan saja Lia, aku mau ke toilet." ucap Zee.


"Oke, nanti kau menyusul ya." pinta Lia yang dijawab anggukan oleh Zee.


Zee menuju toilet perempuan di lantai satu sebelum mengarah ke kantin, disana ia melihat Ariana.


"Hai kak Zee." sapa Ariana pada Zee.


"Hai, apa kau sudah merasa baikan untuk pergi ke sekolah?" tanya Zee.


"Tentu saja, lagipula aku tak tahan dengan ibuku jika berada di rumah, ia selalu saja mengomel hehehe." sahut Ariana yang masih bercermin sambil merapikan rambutnya sementara Zee masuk ke dalam salah satu toilet.


Zee teringat dengan pembicaraannya bersama paman Joseph semalam. Setelah ia berpikir, Zee memutuskan untuk melukai telapak tangannya dengan jepit rambutnya yang lumayan runcing.


"Ouch." Zee menutup mulutnya agar teriakannya tak terdengar, lalu ia membuka pintu toiletnya. Betapa terkejutnya Zee mendapati Ariana sudah berdiri di hadapan pintu toiletnya.


"Apa yang kau lakukan Ariana?" tanya Zee.


"Aku, aku hanya... wah tanganmu berdarah kak, sini coba aku lihat." Ariana menarik tangan Zee namun Zee menolak.


"Biar aku saja." sahut Zee menjatuhkan beberapa tetes darahnya di keramik samping wastafel lalu mencuci tangannya di bawah keran air.


"Aku duluan ya Ariana." ucap Zee lalu pergi keluar namun ia masih bertahan di depan pintu tanda toilet perempuan. Zee mengintip ke dalam toilet dan benar saja dugaannya, Ariana sedang menjilati tetesan darah Zee di keramik tadi.


Tidakkah ini membahayakan membiarkan seorang vampir muda sepertinya berada di sekolah, tetapi membunuh nya pun akan terasa sulit untukku, Ariana sangatlah lugu dan mungkin dia hanyalah korban. Apa ku biarkan saja dulu ya selama dia menjaga dirinya, jika dia sudah mulai membunuh baru dia ku buru bersama paman.


Zee bergegas menuju kantin sebelum Ariana sadar ia sedang dia amati oleh Zee.


"Zee kemarilah." Alena mengajak Zee mendekat agar duduk di meja yang sama di samping Theo.


"Aku sudah membawakan menu makan siang untukmu nih." ucap Lia.


"Terima kasih Lia." sahut Zee.


"Kenapa wajah mu terlihat seperti sedang mengerjakan ulangan sih, serius sekali." ucap Lia.


"Ah masa sih, aku terlihat biasa saja kok." sahut Zee menyantap menu makan siangnya di kantin sementara tangan satunya tak henti-hentinya menepis tangan Theo yang selalu memainkan rambutnya.


Alena dan Lia saling menatap dengan menahan tawanya melihat kelakuan Theo kala itu yang selalu menggoda Zee.


"Hari ini jadi kan latihan dramanya?" tanya Alena.


"Ya jadi dong, kan kemarin kita sudah libur." sahut Lia.


"Kenapa rasanya malas sekali ya." ucap Zee.


"Hei aku mendengarnya lho." suara Rose terdengar di belakang Zee.


****


To be continued... Happy Reading...


Selamat menjalankan ibadah puasa ya buat kalian yang menjalankan.