9 Lives

9 Lives
Kisah Tragis Joseph



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


***


Dua puluh tahun yang lalu.


"Ayah lihat, kakek membuatkan pesawat ini untukku." seorang anak laki-laki berumur lima tahun memeluk Joseph dari belakang sambil menunjukkan pesawat terbangnya.


Tiba-tiba terdengar teriakan penduduk di desa itu. Api berkobar dimana-mana membuat kepanikan seluruh penghuni desa itu.


Kaum lycan datang dengan kejamnya membantai para penduduk desa. Penduduk yang terdiri dari manusia serigala dan beberapa manusia yang saling hidup berdampingan dengan damai.


Makhluk yang bernama lycan itu menyerupai manusia serigala hanya saja dia tidak berekor dan wajahnya tidak menyerupai serigala tapi masih berbentuk wajah manusia penuh buku tebal dengan kedua taring seperti vampir.


"Joseph pergilah bawa anak dan istrimu yang sedang mengandung." ayah Joseph masuk kedalam rumah dengan wajah panik.


"Tidak ayah, aku akan menghadapinya." ucap Joseph.


"Jangan bodoh, lihat kondisi istrimu, diluar sana banyak kaum kita yang sudah mereka habisi, kau lah harapan ayah, pergi dari sini lewat pintu rahasia." ucap ayah Joseph .


"Baiklah tapi ayah ikut bersamaku." pinta Joseph.


"Tidak nak, aku pemimpin disini jadi aku harus bertahan mempertahankan wilayah ku dan mati dengan kebanggaan."


"Persetan dengan itu semua ayah, ikut lah bersamaku, aku mohon kita buat koloni baru."


Belum selesai Joseph berucap satu lycan masuk dan menarik istri Joseph keluar.


"Kayanaaaa...!" teriak Joseph mencoba menghampiri istrinya.


"Joseeeepphhh bawa Natan pergi...!" istri Joseph tak dapat dibebaskan lagi lycan itu mengigit leher Kayana dan menewaskannya.


Ayah Joseph langsung menyerang seorang perempuan berjubah hitam dengan mahkota.


"Wimosa...!" wanita itu langsung membuat ayah Joseph melayang ke udara dan jatuh menghantam bebatuan yang menewaskannya seketika karena benturan hebat di kepalanya. Matanya melihat ke arah Joseph dan Natan sebelum menutup dan mati.


"AYAH...!" teriak Joseph yang wajahnya sudah merah padam dengan kemarahan yang memuncak membuatnya berubah menjadi serigala besar di hadapan wanita itu.


"Wow kau lebih besar dari kaummu rupanya." ucap wanita itu.


"Ratu Obyssia semua musuh sudah kami habiskan di desa ini." ucap seorang lycan pada wanita yang ternyata Ratu penyihir itu.


"Bagus, sekarang kau tangani dia." ucap ratu Obyssia sambil membawa Natan putra Joseph pergi menghilang tak dapat Joseph kejar.


Joseph terkepung mencoba melawan para lycan dengan kekuatan nya yang penuh amarah berhasil melukai dan membunuh dua lycan namun karena dia hanya seorang diri dengan tenaga yang mulai habis dia kalah. Lycan akhirnya meninggal kan Joseph karena mengiranya sudah mati saat jatuh ke dasar jurang. Pada lycan membakar habis semua penghuni desa itu beserta rumahnya sesuai perintah Ratu Obyssia.


"Natan...!"


Joseph terbangun dari mimpi buruknya, kenangan yang dia coba lupakan bangkit lagi saat mengingat para lycan. Tubuhnya penuh dengan keringat yang mengucur, Joseph menangis sejadi-jadinya mengingat kenangannya bersama keluarganya.


***


"Pagi nek." sapa Zee ke nenek Amelia saat hendak sarapan sebelum ia pamit ke sekolah.


"Pagi, bagaimana dengan latihan mu bersama Joseph dan Zack?" tanya nenek Amelia mengolesi roti gandumnya dengan selai cokelat.


"Apakah seperti itu hmmm aku harus bicara padanya nanti." ucap nenek Amelia.


"Baiklah nek, roti dan susuku sudah habis, aku pergi ke sekolah ya." Zee pamit pada nenek Amelia memeluknya dan mencium pipinya.


"Hati-hati ya."


***


Saat istirahat di kantin Zee masih berpikir tentang paman Joseph nya. Zee melihat mata paman Joseph penuh kesedihan dan ketakutan semalam.


"Hei kenapa kau hanya menusuk-nusuk saladmu Zee." sapa Lia yang datang dan duduk di bangku Zee bersama Rose dan V.


"Hai, wah aku senang sekali melihat V dan Rose lagi." ucap Zee.


"Hai Zee." sapa Rose.


"Wah kalian berkumpul lagi ya." Alena datang bersama Theo ikut bergabung. Rose dan V hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum.


"Nah kebetulan kalian datang, ayo Rose katanya kau ingin menyampaikan sesuatu." ucap Lia menoleh pada Rose.


"Baiklah, begini aku ingin menawarkan kalian untuk bergabung dengan pertunjukan drama pada pentas seni nanti, apa kalian mau ikut audisinya?" ucap Rose selaku ketua paduan suara dan ketua pentas seni di sekolah itu.


"Wah drama, aku suka itu, kau harus memberiku peran penting untuk itu." sahut Alena.


"Kami akan mengaudisi dengan beberapa guru, mereka yang akan menyeleksi peran apa yang kau dapatkan." jawab Rose


"Tapi harus peran penting yak sesuai dengan ku." Alena tersenyum bangga.


"Sesuai dengan mu yang sok penting." sahut Theo yang dibalas dengan tinju Alena di bahunya.


"Kau ikut ya Zee?" tanya Lia pada Zee.


"Kenapa harus aku?" tanya Zee.


"Rose bilang ada karakter yang cocok yang pas untuk karaktermu." ucap Lia dan Rose pun mengangguk.


"Memangnya drama apa sih yang ingin kalian buat?" tanya Alena.


"Putri tidur dan tuan pemburu." jawab Rose.


"Kau ingin aku yang menjadi penyihir?" tanya Zee takut mereka sudah menyadari kalau dia seorang penyihir.


"Hahaha, aku yang akan menjadi penyihir kau yang jadi si putri tidurnya, agar aku bisa membantaimu." ucap Rose.


Zee menoleh pada Rose dengan terkejut.


"Hahahaa aku hanya bercanda." sahut Rose.


****


To be continued...


Happy Reading...


Selamat berpuasa buat yang menjalankannya.😘😘😘