
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie
semata... Hope you like it πππ
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak π
Happy Reading
****
Bel pulang sekolah berbunyi Zee pergi ke toilet perempuan di sekolahnya sebelum ia menghambur dengan Lia dan lainnya yang akan berkunjung menemui Ariana di rumah sakit. Zee mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan merapihkan nya. Tiba-tiba saat keluar dari pintu toilet penjaga Carter menghalangi Zee sesaat.
"Apa ada yang salah pak penjaga?" tanya Zee.
"Kenapa keturunan seperti mu berkeliaran di sekolah ini?" tanya penjaga Carter masih memandang Zee lekat dan mengamatinya. Zee tak menjawab sambil memegang tas ransel yang melekat di punggungnya.
"Aku...aku... aku tak tahu apa yang kau maksud pak penjaga." ucap Zee tak mau memandang penjaga Carter.
"Tapi kau..."
"Zee... ayo cepat!" Lia meneriaki nama Zee dari ujung koridor menyelamatkan Zee dari pertanyaan penjaga Carter karena berhasil membuatnya bergegas pergi. Zee menoleh ke belakang dia masih melihat penjaga Carter masih memandangi nya.
"Alena bilang kita ikut mobil Theo agar tak berpisah, jadi aku sudah bilang supirku untuk pulang." ucap Lia.
Zee dan Lia sampai di hadapan mobil Theo. Theo sudah siap di kemudi dengan Alena di sampingnya.
"Kemana Mark bukankah dia mau ikut tadi?" tanya Alena pada Lia.
"Mana aku tahu, sudah yuk jalan saja, kita tinggal saja dia yuk." sahut Lia sambil masuk ke kursi belakang mobil Theo bersama Zee.
"Apa kau marah pada Mark?" Alena menoleh ke belakang menatap ke arah Lia.
"Tidak sih, hanya saja akhir - akhir ini dia sangat menyebalkan." sahut Lia sambil mengecek ponselnya.
Ponsel Zee berbunyi terpampang nama Zack di layar ponsel Zee.
"Ya halo, ada apa Zack?" tanya Zee membuat Theo melirik Zee sekilas dari kaca spionnya.
"Ummm maaf aku tak tahu pulang jam berapa nanti aku akan menghubungi mu." Zee menutup ponselnya.
"Apa kau berkencan dengan Zack kelihatannya dia perhatian sekali padamu?" tanya Lia tanpa basa-basi langsung tepat sasaran.
Alena menoleh ke arah Zee ikut menunggu jawaban dari pertanyaan Lia. Zee melihat ke arah Theo sekilas yang seolah-olah sangat cuek padahal tangannya mencengkram setir kemudi mobil dengan kencang. Theo berusaha menyembunyikan keinginan tahuannya juga saat itu mencoba bersikap santai dan tak peduli padahal sangat ingin tahu.
"Aku, aku tak ada hubungan apapun dengan Zack." sahut Zee membuat Theo sedikit mengendurkan cengkeraman tangannya di kemudi tapi tetap menahan wajahnya agar tak menoleh pada Zee.
"Ah baguslah kalau begitu, Zee kau mau membantuku kan? apa Zack punya pacar?" tanya Alena.
"Ummm sepertinya tidak, eh tapi aku juga yah tau sih pastinya." sahut Zee.
"Wah kenapa kau tanyakan itu, apa kau menyukai Zack ya?" ucap Lia penuh selidik sambil menggoda Alena dengan tatapannya.
"Iya aku menyukainya. Aku menyukai Zack dari saat aku sekolah menengah pertama tapi saat itu Theo terus berkelahi dengan Zack. Mereka selalu memperebutkan sesuatu, sangat aneh." Alena menepuk bahu Theo sambil tertawa.
"Aku bersaing dengan Zack? sungguh gila tak akan pernah terjadi." sahut Theo.
"Ah kau ini lain di mulut lain di hati, oh iya Zee tolong cari tahu ya tentang Zack, semisal pacarnya atau orang yang di sukai dia." Alena menatap Zee sambil tersenyum hangat.
"Wah aku suka itu, nah Zee kau harus bantu Alena untuk dekat dengan Zack." pinta Lia.
Bagaimana ini masa iya aku bilang pada Alena bahwa Zack menyukai ku, lalu jika mereka tau aku juga menyukai Zack bagaimana ya, apa Alena dan Lia masih mau berteman denganku.
"Zee kenapa kau melamun apa kau tak mau turun?" Lia menarik lengan Zee mengejutkan nya dari lamunan.
"Memang bukan, Theo dan Alena sedang memilih bunga disana untuk di berikan pada Ariana." ucap Lia.
"Oh..." Zee menghela nafas panjang.
"Aku mau beli minum di kedai samping toko bunga itu, apa kau mau ikut?" tanya Lia.
"Boleh." Zee keluar dari mobil Theo menuju kedai mengikuti Lia.
Tiga orang anak laki-laki dari sekolah berbeda sedang berada di kedai dan menggoda Zee.
"Apa aku boleh minta nomor telepon mu?" tanya murid pria yang berambut ikal.
"Kalau aku sih langsung mengajaknya menonton film kau mau tidak?" tanya murid pria berambut pirang satunya yang mencoba menyentuh tangan Zee tapi Zee menepisnya..
"Kau sombong sekali sepertinya." ucap si pria pirang itu.
"Zee ini minuman untukmu." Lia datang dari kedai.
"Oh nama mu Zee, dan kau siapa namamu?" tanya si pirang pada Lia.
"Kalian dari sekolah Smart ya? jangan suka mengganggu deh!" bentak Lia.
"Uhhhh galak sekali yang satu ini, bagaimana Daren kau pilih yang mana?" tanya murid pria pirang itu pada temannya yang masih duduk santai meminum ice cappucino di tangan nya sambil memandangi Zee.
Daren berdiri dari tempat duduknya menghampiri Zee. Kedua rekannya sudah saling berangkulan sambil berbisik-bisik.
"Hai aku Daren." ucap nya sambil mengulurkan tangan pada Zee.
Theo datang menepis tangan Daren dari hadapan Zee.
"Kembali ke mobil Lia!" perintah Theo pada Lia yang langsung menurutinya.
"Wah kau si tuan muda kota Fisher kan? yang selalu manja dan berada di rumah sampai tak kenal dengan tetanggamu lalu dimana supir, penjaga bahkan pengasuh mu?" ucap Daren sambil tertawa.
"Ayo Zee kembali ke mobil." ajak Theo.
"Ah dasar sombong, oh iya apa tuan muda selalu bersikap seperti ini, oh iya ngomong-ngomong hebat juga ya kau di kelilingi dengan para wanita cantik, jika kau bosan dengan yang ini serahkan pada ku ya, berapapun akan ku bayar."
ucap nya menunjuk Zee sambil tertawa bersamaan dengan ke dua temannya yang berada di belakangnya.
BUG...!!! Theo meninju rahang Daren dengan lengannya yang berotot sampai tersungkur ke aspal jalan.
Kedua temannya langsung membantu Daren berdiri. Ketiganya bersiap menyerang Theo dan perkelahian pun terjadi.
"Bagaimana ini Alena?" Lia mengigit jarinya ketakutan.
"Aku akan hubungi polisi terdekat." Alena meraih ponselnya menghubungi polisi.
"Hentikan...! hentikan...!" teriak Zee namun ia tak sengaja terdorong oleh rekan Daren dan kepala Zee membentur tiang di depan kedai.
"Ouch...!"
Theo langsung menoleh pada Zee dan menghampirinya.
"Kau tak apa Zee?" tanya Theo namun sebelum Zee membalas kepala Theo sudah terkena hantaman botol soda dari tangan Daren. Zee secara sembunyi mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk mendorong Daren dan kedua rekannya jatuh. Si pemilik kedai datang dengan dua orang pelayannya menghentikan perkelahian tersebut.
****
To be continued...
Salam dari Pocong Tampan mohon dukungannya ya buat vote karena vote kalian sangat berarti lho buat Vie, Komen juga ya ditunggu kritik sarannyaππ