9 Lives

9 Lives
Tertangkapnya Theo dan Lycan Cya



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


*****


"Bangunlah anak muda!"


Lycan Fa menampar wajah Theo yang tangannya terikat dan tergantung di sebuah ruangan.


"Minum ini, ratu ingin kau hidup." ucapnya.


Theo meminum air tersebut, lalu menyemburkannya ke wajah Lycan Fa.


"KURANG AJAR...!" Lycan Fa memukul wajah Theo lebih keras.


"Kenapa kau tak membunuh ku?" tanya Theo dengan nada yang lemah.


"Jika ratu tak menginginkanmu hidup, aku lah yang pertama akan membunuhmu. Aku akan pisahkan kepalamu dari tubuhmu yang sempurna itu." ucap Lycan Fa lalu membuka ikatan tangan Theo.


Theo mencoba memukul Lycan Fa dan mencoba kabur tapi tubuhnya terlalu lemah.


"Makan ini sampai habis kalau tidak aku akan menyobek perut mu dan mengeluarkan isinya!" bentak Lycan Fa lalu pergi meninggalkan Theo dengan dua lapis roti gandum pada sebuah piring platinum.


Angin laut berhembus menusuk wajah Theo, mengibaskan rambutnya sekilas.


"Dimana aku ya?" gumam Theo mencoba berdiri dan mengintip tari terali besi jendela ruangan tersebut.


Rupanya Theo berada di sebuah kapal besar yang berlayar di lautan lepas. Tak berapa lama Theo mendengar suara Natti.


"Apakah itu Natti? ah mungkin hanya khayalan ku semata."


Tapi Theo tak berkhayal Natti muncul ke permukaan mengikuti kapal besar yang membawa Theo pergi.


"Natti, kenapa kau mengikutiku, kau bisa terbunuh Natti, bodoh sekali kau." ucap Theo dengan rasa sedih bukannya senang yang menghinggapi kala ia melihat Natti.


***


Kakek Adam memutuskan untuk bergerak lagi, kawanan itu kini dipimpin olehnya. Zee dan yang lainnya berkemas mengikuti perintah kakek Adam.


"Zee maaf atas ucapan ku semalam." ucap Joseph saat membantu Zee berkemas.


"Sudahlah paman, aku tahu kau hanya bercanda kan? aku juga tak begitu peduli dengan ucapan mu semalam." jawab Zee.


"Hai paman Joseph, aku tadi bertahan setengah jam bersama Sammy." Theodore datang dengan wajah sumringah mengadu pada Joseph.


"Bagus, mari ku ajarkan pukulan baru." Joseph merangkul Theodore dan meninggalkan Zee.


Zack memperhatikan Zee saat memasukkan beberapa barang ke mobil Van miliknya.


Zee melihatnya sekilas, senyum manis terpampang di wajahnya yang makin membuat Zack mabuk kepayang.


"Aaahhh Zee kenapa kau tersenyum semanis itu sih kepadaku?" Zack makin menarik-narik rambutnya dengan gemas.


Sepasang mata mengamati mereka dari kejauhan, Blue merasakan kehadirannya.


"Nek, ada yang mengawasi kita." ucap Blue menoleh ke arah tempat sosok yang mengawasinya itu berdiri.


"Aku tahu disana." Nenek Amelia menunjuk sosok Lycan Cya yang mengamati mereka sedari tadi.


Zee dan Zack langsung menuju tempat yang di tunjuk Nenek Amelia.


"Kau mau kemana?"


Zack menjerat kaki lycan itu sampai jatuh terjerembab dengan tali yang ia lempar tepat sasaran.


Lycan itu berusaha berdiri dan menyerang Zack, tetapi Zee berhasil merebahkannya kembali dan kini belati perak siap menebas leher Lycan tersebut.


"Siapa yang menyuruh mu kemari?" bentak Zack.


"Sebaiknya kita bawa ke hadapan yang lain." ucap Zee.


"Jadi hanya tinggal kalian ya disini." ucap Lycan tersebut mengejek semua yang menatapnya.


"Oh rupanya aku salah, seorang manusia serigala masih ada rupanya disini, ku pikir kaum mu sudah musnah." ucap Lycan itu kala melihat paman Joseph datang bersama Theodore.


"Atas perintah siapa kau mengikuti kami ?" tanya kakek Adam.


"Obbysia ..." sahut Joseph sebelum Lycan itu berucap.


Semua mata kini menoleh pada Joseph.


"Benarkah itu? Obbysia memimpin kawanan Lycan?" tanya nenek Anna dengan wajah sangat ketakutan ketika mendengar namanya.


"Manusia serigala itu sudah tau jawabannya, mungkin masih teringat jelas kala anak, istri dan seluruh kaumnya kami musnahkan, bukan begitu pangeran werewolf?" ucap Lycan itu dengan senyum yang menyeringai dengan tubuh yang kini terikat di sebuah pohon besar.


Joseph maju untuk mencekiknya, rasanya ingatan kelam itu bangkit lagi dengan membuat darahnya makin panas.


"Joseph hentikan, aku butuh dia untuk tahu seberapa besar kawanan yang Obbysia bawa." ucap Nenek Amelia menghentikan Joseph.


Pangeran Werewolf, istri, anak dan seluruh keluarga yang di bantai oleh para Lycan, kenapa paman Joseph menyembunyikan kesedihannya itu dariku, oh sungguh malang ku mendengarnya.


Zee memandangi Joseph begitu juga Zack yang pasti terkejut mendengar ucapan Lycan Cya itu.


Nenek Amelia menyentuh dahi Lycan itu dengan jari telunjuknya. Dengan kekuatan yang ia miliki, dia mencari segala ingatan yang terekam di memori Lycan tersebut.


"Hentikan...! kau tak akan bisa membaca pikiranku!" Lycan Cya berusaha untuk mengelak dan menutup memori ingatannya dari Nenek Amelia. Gambaran muncul tentang keberadaan kapal pesiar besar yang mengarungi lautan. Para pasukan Lycan Dengan jumlah ratusan melebihi kawanannya terpampang di penglihatan sang nenek. Sampai Ratu Obbysia menatapnya dan memukulnya dengan tongkat yang berada di tangan kanannya. Nenek Amelia yang terkejut mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh. Akan tetapi, Zee sudah sigap memegangi neneknya.


"Oh tidak...! dia melihatku, dan tahu jika Lycan ini kita tangkap, Obbysia akan menuju kemari." ucap Nenek Amelia.


"Kita sebaiknya segera bergegas, musnahkan dia...! ucap kakek Adam pada Zack.


"Tunggu ponsel mu ada di dalam kantongnya." tunjuk Nenek Amelia.


Zee menghampiri Lycan itu dan meraih ponselnya di saku celana Lycan Cya.


"Aku tahu kau gadis yang ada di ponsel itu." ucapnya.


"Oh tidak...!" Zee melihat layar ponselnya melihat wajahnya dan wajah Theo. Dia yakin sesuatu akan terjadi pada Theo jika sang ratu telah melihat foto ini.


"Asal kau tahu saja, pemuda tampan itu ada di tangan Ratu."


"Aarrggggg...!!!" Zee menusuk perut Lycan itu dengan belati pemberian paman Joseph.


"Kau pantas mati...!" ucap Zee dengan geram lalu menoleh pada nenek Amelia.


"Nek, apa Theo ada disana?" Zee memastikan kembali penglihatan neneknya.


"Iya, mereka menawannya." sahut Nenek Amelia.


Wajah Zee berubah sangat cemas dan pucat pasi. Ia ingin berlari menuju para Lycan demi membebaskan Theo.


Joseph menahan lengan Zee.


"Jangan gegabah, kita akan cari cara untuk menolongnya.: ucap Joseph.


*****


To be continued...


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke novel baruku


"With Ghost"


dan baca novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘