9 Lives

9 Lives
Di lukis



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


Rose memalingkan wajah V agar tak melihat ke arah Ariana.


"Theo bukankan besok ulang tahun mu?" Alena menimpuk Theo dengan kentang goreng di tangannya membuat semua yang hadir disana menoleh pada Theo termasuk Zee.


"Kalau kau tak bilang aku mungkin lupa ulang tahun ku hahaha." ucap Theo sambil tertawa namun Zee melihat kesedihan tersirat dari wajahnya yang terpaksa tertawa.


"Kau tidak ingin mengadakan apa gitu, seperti pesta?" tanya Lia pada Theo dengan nada hati-hati.


"Keluarga ku saja tak ingat ulang tahunku, buat apa aku adakan pesta." sahut Theo dengan nada ketus.


"Hei aku keluarga mu dan aku ingat ulang tahun mu." sahut Alena.


"Sudahlah aku mau pulang, ayo Zee." Theo langsung menarik lengan Zee.


"Sebentar, Ariana jangan lupa nanti malam." bisik Zee pada Ariana yang dibalas anggukan.


Theo menarik lengan Zee keluar dari cafe dan hampir menabrak Mark.


"Hei yo Theo, Zee kalian mau kemana?" tanya Mark.


"Pacaran." sahut Theo langsung menarik lengan Zee pergi dari sana.


"Woaaahh hebat." gumam Mark takjub pada ucapan Theo dan melihat keduanya pergi.


"Apaan sih, jangan asal bicara begitu." ucap Zee kesal pada Theo.


"Kau memang milikku kan, kenapa memang nya ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya Theo membuka pintu mobilnya untuk Zee.


"Terima kasih, tapi hanya saja... ah sudahlah sia-sia rasanya berdebat dengan mu." gumam Zee.


Theo melajukan mobilnya menuju gedung bioskop di kota Fisher.


"Lho ini kan bukan jalan pulang ke rumahku?" tanya Zee melongok ke belakang mobil Theo.


"Memang bukan." jawab Theo.


"Kau mau mengajak aku kemana memangnya?" tanya Zee.


"Ke taman, melukis mu." sahut Theo.


"Bukankah kau pernah melukis diriku lalu kenapa kau ingin melukis lagi sih?" tanya Zee mulai kesal karena membayangkan posisi yang mematung saat di lukis dulu sangatlah membuatnya terasa lelah dan pegal.


"Kan sudah ku bilang kalau kita mau pacaran, anggap saja kita sedang kencan." ucap Theo.


"Tapi..."


"Ikuti kemauan ku!" ucap Theo tegas memotong ucapan Zee.


Kenapa sih aku tak bisa membantahnya, aku merasa selalu menjadi anji*g penurut baginya, selalu patuh huh...


gumam Zee menatap layar ponselnya membaca berita-berita terbaru dari kota Fisher dan sekitarnya sepanjang perjalanan.


Sesampainya di taman pinggir kota Fisher, seekor Labrador hitam menabrak Zee sampai jatuh terjerembab ke tanah.


"Oh maafkan aku ya kak." seorang anak laki-laki kecil meminta maaf pada Zee karena tak sengaja melepas ikatan Labradornya yang berlari super aktif sampai menabrak Zee.


"Oh tak apa, aduh lucu sekali siapa namanya?" tanya Zee pada anak kecil itu.


"Aku Theodore, ini Sammy anji*g kesayanganku." ucap nya.


"Theodore, oh Theo ya wah namamu sama lho dengan nya." Zee melirik Theo.


Sammy terus menerus mengendus ke kaki Theo dan hampir mengencingi kaki Theo namun Theo buru-buru pindah dari tempatnya.


"Dasar sial*n berani-berani nya dia memberiku tanda." sahut Theo menggerutu dan tersirat pemikiran kalau ia ingin memukul Sammy saat itu, namun Theodore buru-buru menghalanginya.


"Jangan kak, ku mohon jangan, maafkan Sammy dia hanya ingin berteman denganmu makanya dia menandai dirimu seperti itu apalagi di tubuhmu tercium bulu hewan besar seperti serigala." ucap Theodore memeluk Sammy dan melindunginya.


"Kau akan memukul Sammy kan? aku tahu itu kak, kumohon jangan lakukan itu, kau saja tak pernah mau jika serigala mu itu dipukul orang lain." ucap Theodore.


Bagaimana dia bisa tahu tentang hewan serigala peliharaan ku dan apa yang kupikirkan tadi sih.


batin Theo mengernyitkan dahinya.


"Apa kau akan memukul Sammy Theo? kenapa kau bisa seperti itu, dia kan hanya seekor Labrador peliharaan anak ini, mungkin tubuhmu bau Bruno jadi dia merasa punya saingan sehingga menandai mu hihihi." ucap Zee menenangkan Theo.


Theo hanya terdiam menatap Zee tajam lalu pergi ke sudut taman di dekat danau kecil yang penuh dengan bunga teratai di permukaannya.


"Apa kakak itu marah padaku ya?" tanya Theodore agak takut.


"Sudah tenang saja dia memang seperti itu, jangan di ambil hati ya." ujar Zee.


"Hei Sammy berhenti...!" pekik Theodore memanggil Sammy yang tiba-tiba berlari mengejar sesuatu.


Mobil truk es krim datang dari arah berlawanan dan bersiap menabrak Sammy yang sedang berlari.


"Ini tidak bisa di biarkan aku harus menghentikan nya."


gumam Zee bersiap mengerahkan kekuatannya untuk menghentikan mobil itu namun tiba-tiba saja mobil itu terhenti dengan sendirinya ke tepi jalan. Zee melihat sekilas Theodore mengulurkan tangan kanannya untuk menghentikan mobil lalu bergegas menghampiri Sammy anj*ng kesayangannya itu.


"Apa aku tak salah lihat ya? anak kecil itu seperti memiliki kekuatan yang sama denganku?" gumam Zee memperhatikan Theodore dengan seksama.


"Kau tak apa Theodore?" tanya Zee.


"Aku tak apa kak, Sammy juga tak apa." sahutnya.


"Theodore apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Zee


Tapi seakan Theodore sudah tau mengenai pemikiran Zee dan apa yang dia akan tanyakan.


"Aku harus pulang kak, kakekku pasti sedang menungguku di rumah, ayo Sammy kita pulang." Theodore seperti menghindari Zee dan bergegas untuk pulang kerumahnya.


"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari ku." gumam Zee masih memandangi Theodore yang juga menoleh ke arah Zee.


"Zee apa yang kau lakukan disitu, memangnya aku harus melukis punggung dan bokongmu apa?" teriak Theo memanggil Zee.


"Iya sebentar aku kesana." sahut Zee lalu menghampiri Theo.


"Kau duduk disana di tepi danau lalu kau arahkan wajahmu ke arah kanan lalu memandang langit." perintah Theo.


"Oke." sahut Zee.


seperti biasa lagi-lagi aku hanya menurutinya huh.


Selama satu jam Theo berkutat dengan melukis Zee. Dia membuat Zee merasa pegal juga karena Theo selalu memarahinya jika bergerak meski hanya sedikit saja.


"Theo, sudah belum?" tanya Zee.


"Sebentar lagi, tahan sedikit." ucap Theo.


"Tapi aku letih." rengek Zee.


"Nanti aku akan memberi mu ciuman supaya kau bersemangat dan tak letih lagi." sahut Theo sambil tertawa.


Zee langsung menoleh kesal ke arah Theo.


"Berani menciumku lagi, ku tarik lidahmu sampai keluar lalu ku potong-potong."


ancam Zee.


Theo hanya tersenyum nakal pada Zee sambil fokus menyelesaikan lukisannya.


****


To be continued...


Mampir juga ke karya ku yang lainnya.


- Kakakku Cinta Pertamaku (End)


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player