
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
***
Sekolah Zee sudah di padati para polisi dan wartawan saat Zee sampai di sekolah.
"Lia ada apa ini?" tanya Zee pada Lia.
"Tamara terbunuh Zee." ucap Lia.
Di sudut sana sekelompok murid yang tergabung dalam paduan suara sedang menangis, mereka menangisi Tamara.
Rose sebagai ketua paduan suara sedang di mintai keterangan oleh pihak kepolisian.
Zee mengintip ke arah ruangan paduan suara yang sudah tertutup harus kuning polisi. Mayat Tamara tergantung di langit-langit tanpa kedua tangannya. Darah masih menetes dari luka potongan di tangannya membasahi lantai paduan suara. Tubuh Tamara juga berongga bagian jantungnya hilang tak berbekas.
Rupanya polisi belum menurunkan mayat Tamara saat Zee dan Lia mengintipnya sekilas.
"Tidakkah itu mengerikan Zee." pekik Lia menarik Zee menjauh dari kerumunan.
"Ya mengerikan." sahut Zee walaupun dia sering melihat yang lebih mengerikan dari ini.
Semalam, ya semalam seandainya saja aku mengejar mobil yang dilihat paman Joseph pasti aku bisa menangkap pembunuhnya.
"Hai Zee, hai Lia." sapa Mark yang datang menghampiri.
"Hai Mark." sahut Lia menyenggol Zee yang masih melamun.
"Eh iya hai Mark apa kabar?" tanya Zee.
"Kabar buruk pastinya, aku tak menyangka Tamara akan mati mengenaskan seperti itu " Mark bergidik ngeri.
"Iya sangat disayangkan." sahut Zee.
"Oh iya Mark kau pasti masih ingin berbincang dengan Lia, ini ku serahkan temanku." Zee mendorong Lia ke hadapan Mark lalu pergi.
"Zee kau ini kenapa sih?" tanya Lia heran.
Zee melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Mark dan Lia yang canggung satu sama lain.
"Hai V apa yang terjadi dengan kelas paduan suaramu?" Zee menahan lengan V yang menghindarinya.
"Kau lihat sendiri kan yang terjadi pada Tamara." sahut V agak ketus.
"Kau ini kenapa sih, bukan kah kau selalu manis padaku kenapa kau jadi kasar begini sih?" tanya Zee.
"Tak perlu ku jawab kau sudah tahu kan apa yang membuat mu marah padaku?" sahut V.
"Karena aku menolak mu? tak bisakah kita tetap berteman seperti dulu, bukan kah itu lebih baik dari pada akhirnya kita seperti musuh?" pinta Zee.
"Aku... aku hanya tak bisa melupakan mu." sahut V memandang Zee lekat dari kedua matanya.
"V ayo kita pulang, aku sudah selesai dengan para polisi." ucap Rose dari kejauhan.
"Dia cantik kan, lihat lah Rose sangat mencintaimu." ucap Zee sambil tersenyum.
"Entahlah Zee, aku masih belum bisa menggantikan mu dengan yang lain." sahut V.
"Bisa, kau pasti bisa, hanya kau belum mau berusaha." Zee meninju bahu V pelan.
"V ayo lekas lah mobil ibumu sudah menunggu di luar!" teriak Rose memanggil V.
Zee hendak menghampiri Lia mengajaknya pulang namun ia menabrak penjaga Carter tak sengaja.
"Maaf pak, maafkan saya." ucap Zee.
Penjaga Carter hanya diam memandangi Zee lalu menyentuh lengannya ia memperhatikan enam titik di tangan Zee dengan seksama.
Zee buru-buru menarik lengannya dari genggaman tangan penjaga Carter lalu pergi meninggalkan penjaga tersebut yang tersenyum menyeringai memandang Zee.
Zee menoleh pada penjaga itu sekilas namun tak berani menatapnya lagi.
"Zee kau kenapa?" tanya Lia yang menghampiri Zee.
"Tidak, tidak apa-apa, mana Mark?"
tanya Zee
"Dia pergi tak mau bicara dia seperti orang bingung hehehe." sahut Lia.
"Itu karena dia malu berhadapan dengan mu, oh iya kau lihat Alena?" tanya Zee.
"Kau mencari Theo ya bukan Alena iya kan?" Lia meledek Zee.
"Kalau Theo sih aku tahu dia kemana kan dia sakit." sahut Zee.
"Oh tahu rupanya, iya ya kemana ya Alena aku tak melihatnya hari ini, coba aku telepon." ucap Lia mengeluarkan ponselnya menghubungi Alena.
"Alena sakit Zee dia flu makanya dia tak masuk, kita kerumahnya yuk, kita ceritakan kejadian yang menimpa Tamara hari ini." ajak Lia.
"Baiklah, sepedaku naik ke atas mobilmu ya." Zee tertawa kecil
"Ah dasar kau ini, baiklah ayo." ajak Lia menuju mobilnya yang terparkir di parkiran sekolah dengan seorang supir di dalamnya.
Hari ini sekolah Briliant diliburkan kembali sesuai arahan dari kepolisian setempat.
***
Saat Lia dan Zee datang Alena sedang berseteru dengan beberapa pegawai restoran steak ayahnya. Mereka banyak kehilangan pelanggan dan stok daging yang biasa ayahnya dapatkan. Sementara ibu Alena sedang memasak sup tomat yang aromanya tercium ke hidung Zee dan Lia membuat mereka lapar.
Alena menghampiri Zee dan Lia penuh kekesalan di wajahnya.
"Maaf ya kalian datang aku sedang marah-marah." ucap Alena.
"Tak apa, bagaimana keadaan mu?" tanya Zee.
"Tidak begitu baik, flu ini menyiksaku, hatchi." Alena menutup hidungnya dengan tisu.
"Bagaimana jika kalian makan sup tomat buatan ibu di tambah roti keju pasti enak." ibu Alena meletakkan tiga sup tomat dan keranjang roti keju untuk ketiganya.
"Terima kasih Bu." ucap Alena.
"Terima kasih nyonya." sahut Zee dan Lia bersamaan.
"Sama-sama silahkan dimakan, ibu akan menyiapkan untuk ayah." ucap ibu Alena lalu pergi.
"Seperti itulah ibuku, dia tak bisa merelakan kepergian ayah." ucap Alena penuh kesedihan.
Zee memandang Alena, perasaannya tak beraturan karena dialah ayah Alena mati.
***
To be continued...
Happy Reading....😘😘😘