
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
"Bagaimana mungkin sepeda mu tiba lebih dulu ?" sapa nenek Amelia saat Zee masuk ke dalam rumah.
"Eh nenek, itu eng aku, aku tadi ada tugas kelompok." sahut Zee mencoba berbohong.
"Basah kuyup seperti ini, tugas apa yang kau kerjakan?"
"Aku mencari kerang di danau, ya semacam kerang, lalu aku terpeleset dan jatuh." ucap Zee.
"Baiklah aku percaya, ganti pakaian mu dan temui Joseph setelah ini." ucap nenek Amelia.
"Baiklah nek." Zee melangkah menaiki tangga menuju kamarnya tak menyangka begitu mudahnya nenek percaya pada ucapannya.
"Siapa yang mengantarnya Blue?" bisik nenek.
"Pemuda tampan yang bernama Theo yang tempo hari ke sini mengerjakan tulip hitam." jawab Blue.
"Hmmm apa mereka berkencan?" tanya nenek Amelia pada Blue.
"Entahlah nek, apa Zee lupa nanti malam ulang tahunnya?"
"Sepertinya begitu."
"Apa Zee sudah siap dengan ujian naik levelnya nek?"
"Kita lihat nanti malam Blue." nenek Amelia menyiapkan beberapa hal yang di butuhkan untuk ritual nanti malam.
****
"Paman apa kau sudah sehat?" Zee membuka pintu rumah Joseph, semangkuk sup daging berada di tangan nya.
"Paman Jo, ah kau masih tidur rupanya." Zee meletakkan sup tersebut di meja makan rumah Joseph.
"Hmmm bagaimana mungkin kami berciuman ya? padahal yang aku ingin ciuman pertama ku dari seorang pujaan hatiku bukan malah... ah sudahlah dia kan hanya menolong mu Zee." gumam Zee menggerutu pada diri sendiri sambil memandangi Joseph di hadapannya yang terbaring bertelanjang dada.
"Kira - kira umur berapa ya paman sekarang? tapi kalau di lihat - lihat paman memang tampan." Zee mendekatkan wajahnya memandangi Joseph sambil tersenyum riang.
"Mengapa kau memandangiku?" ucapan Joseph yang terbangun seketika membuat Zee terkejut dan jatuh ke pelukan Joseph yang masih terbaring.
Suara jam dinding yang berdetak detik demi detik sangat jelas terdengar kala itu. Detak jantung Zee dan Joseph juga terdengar saling bersahutan.
"Sampai kapan kau akan menindih ku Zee?" ucap Joseph akhirnya setelah lama terdiam dari lamunannya pada Zee.
"Eh maafkan aku paman, lagian kau mengejutkanku." Zee mencoba berdiri meski masih terlihat kikuk salah tingkah.
"Siapa suruh kau memandangiku." Joseph mencoba menyembunyikan senyumnya dari Zee.
"Haha Paman lucu sekali, itu ada sup dari nenek, dia mencari mu."
"Baiklah aku nanti akan menemuinya, terima kasih Zee."
"Okay, aku harus pergi nenek menyuruhku membeli kue arbei, dah paman." Zee menutup pintu rumah Joseph lalu pergi menuju toko kue arbei dengan mengayuh sepeda kesayangannya.
***
"Hai nyonya Anna." sapa Zee saat memasuki toko kue arbei tersebut.
"Hai cantik, panggil aku Tante." sapa nyonya Anna pada Zee kembali.
"Oh iya Tante Anna maksudnya, apa hari ini ada kue arbei berukuran tiga puluh senti?" tanya Zee.
"Wah besar ya, ku pikir kau akan membeli kue arbei mini."
"Coba ku lihat ya, sepertinya aku tidak punya hanya ada ukuran dua puluh senti, apa kau mau?"
"Ini uangku, apa cukup membeli dua kue?"
Nyonya Anna meraih beberapa uang kertas dari tangan Zee.
"Ini lebih dari cukup sayang, tunggu sebentar ya, ku siapkan untuk nenek mu."
"Terima kasih Tante Anna."
Seseorang datang dan menutup mata Zee dengan kedua tangannya. "Tebak siapa aku?" bisik nya.
"Zack, siapa lagi, parfum beraroma maskulin blue ini hanya kau yang pakai." ucap Zee mencoba melepas tangan Zack pada wajahnya.
"Wah hebat sekali, kau sampai hapal parfum ku." puji Zack. "Apa kau mau ini?" Zack memberikan satu apel merah ke tangan Zee.
"Terima kasih, tentu saja aku mau." sahut Zee tersenyum senang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zack.
"Aku membeli kayu dan paku."
"Mana kayu dan pakunya aku tak melihatnya."
"Astaga Zack aku hanya bercanda kan, kenapa kau menanyakannya sungguhan?"
"Hahaha aku tahu Zee aku hanya menggodamu." ucap Zack tertawa.
"Ada acara apa sampai kau beli kue itu?" tanya Zack lagi.
"Nenek ku yang menyuruhku, sepertinya dia ketagihan, habisnya kue buatan nenekmu enak sih."
"Tentu saja, oh iya Zee apa kau ada waktu nanti malam?"
"Memangnya ada apa?"
"Aku mau mengajak mu ke menonton teater di bukit."
"Lho bukannya teater itu harus membawa mobil, memangnya kau bisa menyetir?"
"Tentu saja kalau tidak bisa mana mungkin aku mengajakmu."
"Aku tak bisa janji ya, nanti kau ku hubungi, mana nomor ponselmu simpan disini." Zee menyerahkan ponselnya pada Zack dan Zack menginput serta menyimpan nomornya pada ponsel Zee.
"Ini kue mu sudah siap nak." nyonya Anna menyerahkan dua kotak kue kepada Zee.
"Sini Zee biar aku bawakan, ayo ku antar pulang." pinta Zack.
"Tapi aku membawa sepeda."
"Aku juga bawa sepeda, bolehkan nek aku mengantar Zee?" tanya Zack pada neneknya itu.
"Tentu saja, jaga dia jangan sampai tergores luka sedikitpun ya." nyonya Anna tersenyum pada Zee.
Kemudian Zee pamit dan pulang bersama Zack menuju rumah Zee. Di sudut sebrang toko kue seseorang dalam mobilnya mengamati Zee dan Zack. Tatapan matanya geram dan kesal melihat nya.
"Apa kau cemburu Theo?"
tanya Alena yang duduk disamping Theo.
***
To be continued...
Happy Reading
Jangan lupa vote nya...😘😘😘