9 Lives

9 Lives
Jantung Vampir



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie


semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading


****


Ponsel Ariana berbunyi dan ia menerima sebuah gambar yang Zee kirimkan padanya.


"Ariana apa kau lihat wajah yang ku kirimkan kepadamu?" Zee menghubungi Ariana dari ponselnya saat Ariana sudah membaca pesan darinya.


"Iya aku masih mengingatnya, apa yang terjadi dengan pria ini? bagaimana kau bisa bertemu dengan pria jahat itu?" tanya Ariana di seberang sana.


"Aku mengikuti pria itu saat dia membawa korban seorang gadis ke dalam hutan." sahut Zee.


"Persis seperti yang dia lakukan padaku. Apa kau yang menghabisi nya kak Zee?" tanya Ariana sangat ingin tahu.


"Bukan aku sih tapi Zack yang menghabisinya." sahut Zee.


"Oh Zack si pangeran penyihir itu?" tanya Ariana lagi.


"Iya betul, ya sudah kalau begitu dendam mu sudah terbalaskan kau pasti senang." ucap Zee lalu menutup teleponnya.


"Terima kasih Zee sebenarnya aku lebih senang jika aku yang membunuhnya sendiri tapi sudahlah melihat dia terpotong-potong seperti itu sangat membuatku puas." Ariana mengucap lirih saat menutup sambungan teleponnya.


Malam itu, Ariana berada di depan sebuah penjagalan. Tempat jagal yang menyuplai daginh hewan-hewan ternak untuk dijadikan sosis, kornet atau olahan daging lainnya di kota Fisher.


Tempat jagal itu hanya berisi lima karyawan malam itu. Ketika jam istirahat bagi para pekerjanya berbunyi Ariana memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya.


"Kelihatannya darah hewan-hewan itu lumayan juga." gumam Ariana lalu melangkah mendekati hewan-hewan yang sudah terpotong di dalam rumah jagal tersebut.


"Hei apa yang kau lakukan disini?"


tanya seorang penjagal bertubuh gemuk yang tiba-tiba masuk dan memergoki Ariana yang sedang menjilati darah-darah yang mengalir dari hewan-hewan yang baru saja di potong itu.


"A... aku... aku hanya..."


Saat Ariana menoleh ia mengejutkan si penjagal karena melihat kedua taring yang keluar dari bibir Ariana yang penuh darah hewan.


"Apa kau..."


Si penjagal itu mundur beberapa langkah namun ia terpeleset dan jatuh menimpa sebuah besi yang akan digunakan untuk menyangga hewan yang sudah di potong nanti.


Leher penjagal itu sobek dan mengeluarkan banyak darah, bagian dada penjagal tersbut juga tertancap besi penyangga tepat menembus jantungnya. Penjagal itu sempat kejang-kejang dan akhirnya tewas.


"Aduh bagaimana ini, aku kan tak bermaksud untuk membunuhnya." Ariana ketakutan setengah mati sambil mengamati sekeliling ruangan tersebut. Ariana takut jika ada penjagal lain yang mengetahui tindakannya. Untungnya saat para penjagal lainnya sedang istirahat dan hanya tersisa satu penjagal tersebut di ruangan itu yang tadinya ingin kembali ke dalam ruangannya mengambil kotak makan bekalnya.


Ariana mencium bau darah yang lebih membuat nafsu laparnya memuncak kala itu. Darah si penjagal yang mengalir itu sangat lah lezat ia hirup.


"Ah tidak, kakak Zee pasti akan marah padaku jika aku meminum darah manusia, aku harus lekas pergi." gumam Ariana.


Namun, saat Ariana sudah yakin ingin pergi dari ruangan itu tiba-tiba Ariana berbalik dan tak tahan juga hingga ia menghampiri jasad si penjagal tadi.


"Aku tak perduli, aku ingin merasakannya toh kakak Zee tak tau dengan yang kulakukan saat ini." ucap Ariana pada diri sendiri lalu meminum darah si penjagal tadi sampai puas. Ariana meninggalkan jasad penjagal itu begitu saja lalu pulang ke rumahnya.


***


"Hai paman, tangkap!" Zee melemparkan sebuah gumpalan yang di bungkus dengan sapu tangan ke arah Joseph saat Joseph membuka pintu rumahnya.


"Apa ini Zee?" tanya Joseph sambil memandangi Zee dan Zack.


Joseph membuka bungkusan sapu tangan tersebut dan melihat jantung manusia yang masih berdenyut lemah. Joseph mengendus jantung tersebut lalu matanya terbelalak tak percaya.


"Dari mana kalian mendapatkannya?" tanya Joseph.


"Betul kan kau pasti akan menyukainya itulah hasil perburuan kami untuk paman." ucap Zee


"Kau yang membunuhnya Zack?" tanya Joseph.


"Iya paman, dengan bantuan Zee dan Theodore." ucap Zack.


"Enak saja itu hasil dari bantuan ku, si kakak bodoh ini malah hampir mati tadi." sahut Theodore yang datang dari luar rumah Joseph. Sedari tadi Theodore dan Sammy mengamati sekeliling bukit di area rumah Joseph.


Sammy menyalak keras ke arah Joseph dengan garangnya membuat Zee bergidik takut. Joseph memelototi Sammy dengan sangat tajam membuat anjin* Labrador itu terdiam seketika dan merajuk bersembunyi di balik Theodore.


"Kenapa kau ketakutan seperti ini sih, kan biasanya kau sangat pemberani anjin* pintar." ucap Theodore.


"Bagaimana dia tidak takut kalau pamanku berubah wujud kau pun akan takut." ucap Zee merangkul lengan paman Joseph nya.


Joseph langsung melahap jantung tersebut seketika membuat semua mata yang menatapnya langsung terkejut dan mual tak dapat tertahan. Theodore langsung menuju luar rumah Joseph hanya untuk muntah. Sementara Zee dan Zack sudah terbiasa untuk melihatnya.


"Dimana sisa tubuhnya?" tanya Joseph.


"Di rapihkan oleh Zack bersama korbannya agar tak ketauan yang lain." sahut Zee.


"Aku kubur apa kau bakar Zack?" tanya Joseph pada Zack.


"Aku kubur di dalam hutan paman, tenang saja aku pastikan dalam galiannya agar tak ada hewan buas lain yang menggali kuburan nya nanti." sahut Zack.


"Kemana anak tadi?" tanya Joseph yang tidak mendapatkan Theodore di dalam rumah.


"Ah anak itu menyusahkan saja, biar aku yang cari, dan kau Zack ceritakan yang terjadi tentang paman akbar ku dan pertemuan nenek-nenek kita." ucap Zee lalu keluar mencari Theodore.


***


Di Bukit Pinus yang berada di kota Mount sebelah dari kota Fisher, Ratu Obyssia dan para kawanan lycan sedang mengamati kota Fisher dari atas bukit sana.


"Kau yakin masih mencium keberadaan para penyihir di kota ini?" tanya ratu Obyssia pada salah satu pelayan berwujud lycan disampingnya itu.


"Saya yakin Baginda ratu, karena saya dan kawanan lainnya berhasil mencium keberadaan beberapa penyihir disini bahkan ada yang sama baunya dengan penyihir yang kita temukan dan bunuh tempo hari." jawabnya.


"Pastikan kalian musnahkan kawanan tersebut, dan jangan ada yang kau tinggalkan satu pun, buat mereka musnah seperti di kota lainnya hahahhaa." suara tawa yang menggema di atas bukit itu mampu membuat para kawanan lycan bergidik ngeri dan sangat takut terhadap sang ratu Obyssia.


*****


To be continued...


Mampir juga ke karya ku yang lainnya.


- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


- Pocong Tampan


- Gue Bukan Player


I love you all my lovely Readers...😘😘😘


HAPPY IED MUBARAK 1441 H


MINAL AIDIN WAL FAIDZIN


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 😘😘😘