9 Lives

9 Lives
Hadiah dari Si Kembar



Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊


Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘


Happy Reading...


***


Theo berbalik badan "Seka badanku sekarang!" ucapnya.


"Tak mau!" Zee membekap Theo dengan handuk di tangan Zee lalu ia buru-buru berlari menjauh.


"Zee... awas kau ya!" ancam Theo.


Zee menuju lokernya meraih tas ranselnya lalu ke parkiran sekolah tempat sepedanya terparkir.


"Hai Zee!" sapa Zack dengan sepeda super kerennya itu.


"Hai, wah kau bawa sepeda juga rupanya."


"Iya nenekku bilang ini menyehatkan." sahut Zack "Boleh aku pulang bersamamu?" tanyanya.


"Tentu, eh tapi tunggu apa jumpa fans mu sudah selesai? kulihat kau banyak disukai para murid perempuan tadi." goda Zee.


"Ah kau bisa saja, ayo kita berangkat!"


"Okay." Zee dan Zack mengayuh sepedanya beriringan.


"Dah V dah Rose..." Zee menyapa V dan Rose yang hendak pulang. Rose melambai ke arah Zee lalu melirik ke arah V yang menekuk wajahnya kesal dan cemburu melihat Zack mendekati Zee. "Saingan ku bertambah rupanya." gumam V sebelum masuk ke mobilnya.


Theo memandang Zee dari kejauhan sambil meninju kursi mobil di hadapan nya.


"Apa saya salah Tuan?" tanya sopir Theo.


"Dimana Alena? lama sekali dia." sahut Theo kesal.


"Saya akan mencarinya segera tuan." sahut supir itu ketakutan.


***


"Zee apa kau mau ke toko eskrim?" tanya Zack.


"Ummm okay baiklah." sahut Zee.


Zack dan Zee memberhentikan sepedanya di sebuah kedai eskrim bertuliskan "Willy The Ice"


"Kamu mau eskrim rasa apa?" tanya Zack.


"Cokelat dengan saus vanila, ini uangnya." ucap Zee menyodorkan selembar uang kertas.


"Simpan saja, hari ini aku yang traktir."


aahh manis sekali senyum mu Zack.


"Terima kasih Zack."


Zack dan Zee saling bercerita berbagai kegiatan di sekolah mereka masing-masing, membandingkan para guru dan murid-murid terkenal di sekolah masing-masing.


"Wah bukan kah itu Zee dan Zack?" ucap Alena sambil menoleh ke belakang saat mobil nya melewati kedai es krim "Willy The Ice."


Theo tampak cuek namun dia sudah melihat sekilas Zee yang sedang tertawa senang bercanda dengan Zack.


"Wah aku harus menghubungi Zee." ucap Alena mengeluarkan ponselnya.


"Halo ada apa Alena?" sahut Zee dari sebrang sana.


"Iya aku ingat, apa kalian sudah sampai?" tanya Zee.


"Belum sih aku sedang di jalan bersama Theo, namun aku melihatmu di kedai tuan Willy."


"Benarkah? iya aku sedang disini, nanti aku segera pulang, tunggu saja aku di halaman yak, Theo tahu kok halaman rumahku."


"Baiklah, sampai jumpa di rumahmu." Alena menutup ponselnya.


"Oh tidak, si kembar, Zack maaf aku harus segera pulang." ucap Zee langsung melahap es krim dengan cone nya sampai habis.


"Wow, cepat sekali kau melahapnya, mau aku antar Zee?"


"Tak usah aku terburu-buru, terima kasih es krimnya, kapan-kapan aku yang traktir ya." Zee segera berlalu mengayuh sepedanya meninggalkan Zack.


"Wow dia cepat sekali, jika dia mengikuti balap sepeda dia pasti menang." gumam Zack terpana melihat Zee.


Zee akhirnya sampai dirumah. "Nenek apa teman-temanku sudah datang?" ucap Zee langsung saat membuka pintu rumahnya.


"Hei kau mengejutkanku." sahut nenek Amelia.


"Maaf kan aku hosh hosh."


"Minum dulu Zee." nenek Amelia menyodorkan segelas air putih dingin ke tangan Zee.


"Terima kasih Nek, oh iya dimana para Zamrudian?" tanya Zee mengamati rumahnya yang mendadak sepi.


"Mereka pergi, oh iya si kembar meninggalkan sesuatu untuk mu, kata mereka ada di atas ranjang mu."


"Ah sayang sekali, aku tak bertemu mereka saat pamit." Zee segera melangkah menuju kamarnya. Sebuah kotak hijau berpita dengan sebuah surat di atasnya menyambut Zee.


*Dear Kakak Zee yang cantik.


Maaf ayah mengajak kami segera pergi dari rumah mu karena mencium keberadaan lycan di sini, maaf juga karena kami tak bisa menunggumu saat pulang.


Kami membuat syal cantik ini untukmu semoga kau suka dan selalu ingat kami, terima kasih atas kebaikan mu dan nenekmu,


Kami akan merindukan mu kak...


PS : kami membawa kaus bunga dan topi ungu mu sebagai kenangan untuk kami*.


"Apa-apaan ini, mereka memberiku satu hadiah tapi membawa dua barang kesukaan ku, pantas saja tidak ingin bertemu." gumam Zee.


Zee meraih syal dalam kotak itu. "Cantik juga, okelah karena aku menyukainya jadi ku maafkan."


"Mereka bertanya padaku mana barang kesukaanmu, lalu ku tunjukkan saja." ucap Blue.


"Ah kau ini, memang sengaja rupanya yak?"


"Tidakkah itu sepadan dengan syal pemberian mereka?" sahut Blue tersenyum senang.


"Iya sih, ya sudah aku mau membawa temanku ke bukit Halley mencari tulip hitam."


"Tulip hitam untuk apa?" tanya Blue.


"Penelitian, tugas sekolah, dah Blue."


Zee segera berlari menuju halaman rumahnya sambil mengalungkan syal cantik itu di lehernya.


"Aku mau bilang apa ya pada Zee... ah iya aku ingat biasanya tulip hitam di jaga oleh laba-laba beracun, ah sudah lah pasti Zee sudah tau." gumam Blue.


***


To be continued...