
Cerita ini hanya fiksi murni karangan Vie semata... Hope you like it 💝😘😊
Jangan lupa klik tombol like, vote dan rating bintang 5 yak 😘
Happy Reading
****
"Jadi menurut mu siapa pembunuh Sania? kok aku curiga pada penjaga sekolah yang baru ya?" Alena menyeruput strawberry milkshake nya.
"Hmmm mana aku tau, apa jangan-jangan seorang murid psyco yang berkeliaran di sekolah, menurutmu Zee?" Lia menoleh pada Zee.
"Mana aku tahu, pembunuh sekarang kan macam-macam apalagi ada bagian tubuhnya yang hilang begitu." jawab Zee.
"Maksudmu kanibal? ada kanibal di sekolah begitu?" sahut Theo masih menggenggam tangan Zee dan menahannya.
"Wah menyeramkan, kanibal di sekolah hiiyyy." sahut Lia bergidik ngeri.
"Sudah lah aku mau pulang, lepaskan aku Theo!" pinta Zee.
"Aku akan mengantarmu pulang." Theo berdiri menarik Zee.
"Tapi sepedaku bagaimana?" tanya Zee.
"Supirku akan mengantarkan sepedamu nanti." ucap Theo.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Alena.
"Pulanglah bersama Lia, ayo Zee kau bilang mau pulang." Theo menarik Zee menuju mobilnya dan menyuruh supir nya untuk mengendarai sepeda Zee mengantarkan ke rumah Zee.
Meski berat dan malu mengendarai sepeda perempuan milik Zee, namun perintah tuan muda Theo harus dilaksanakan dengan senang hati berbumbu terpaksa.
Alena dan Lia malah puas menertawakan sang supir yang mengayuh sepeda Zee.
***
"Kita mau kemana?" tanya Zee.
"Sudah kau diam saja, ini baru pertama kalinya aku membawa seorang perempuan ke sini apalagi perempuan itu sepertimu." sahut Theo melirik Zee sambil fokus berkendara.
"Ini kan hutan yang waktu..." Zee bergumam sambil mengingat kejadian saat ia dan Joseph membunuh ayah Alena di rumah tua dalam hutan. "Apa kita akan ke dalam hutan itu?" tanya Zee.
"Lalu kenapa? apakah kau takut?" Theo memasang wajah smirk saat Zee meliriknya.
"Kenapa harus takut, aku hanya heran ada ya seorang pria membawa seorang gadis berkencan dalam hutan." ucap Zee asal.
"Hahaha percaya diri sekali kau, aku mengajakmu berkencan? dasar aneh!"
"Lho ini apa namanya jika bukan mengajakku berkencan hanya berdua seperti ini, lagi pula kau ku peringatkan ya, aku bisa lebih jahat dari yang kau duga." ancam Zee.
"Uuuuu aku takut, tolong Zee jahat padaku." Theo meledek Zee. Zee meninju bahu Theo dengan kesal.
"Ayo turun." Theo menghentikan mobilnya dan membuka pintu langsung keluar dan menarik Zee. "Kita mau kemana Theo?"
"Melukis."
"Apa? kau jauh - jauh kesini hanya ingin mengajakku melukis?"
"Apa kau takut dengan rumah itu?" tanya Theo.
"Tidak, aku hanya penasaran saja."
"Apa kau tahu di rumah itu ada hantu nya." bisik Theo dengan nada menyeramkan menakuti Zee.
"Hahaha kau lucu sekali."
kau pikir aku takut apa dengan hantu, asal kau tau saja banyak makhluk aneh yang kutemui selama hidupku.
Zee memandangi punggung Theo dengan sebal.
Zee terperanjat dengan pemandangan dalam hutan yang tiba-tiba ia dapati saat Theo makin membawanya masuk. Beberapa burung dengan warna cantik mengikuti Zee saling bersiul dan hinggap di beberapa bunga yang merekah warna - warni menghiasi perjalanannya.
"Bagaimana bagus bukan?" ucap Theo saat tiba di hadapan sebuah danau yang airnya jernih tenang dan menyegarkan, sebuah gazebo sudah terbangun dengan cantiknya di sana.
"Ketika ku bosan dengan keadaan rumah disinilah aku berada."
Theo merebahkan dirinya sambil menaruh alat - alat lukisnya. Zee masih berdiri menatap pemandangan sekitar bagaimana bisa setelah sering menemani paman Joseph berburu dia baru tau ada tempat seindah ini.
"Hei duduklah di sampingku!" perintah Theo.
"Tidak mau!" sahut Zee ketus.
"Memangnya kau pikir apa yang mau aku lakukan pada gadis sepertimu cih?" Theo melempar Zee dengan kelopak bunga kering di sekitar gazebo.
"Ih menyebalkan." ucap Zee melangkah menuju bukit karang di tepi danau.
Theo membuka sketchbook nya dan mulai membuat sketsa disana. Sebenernya dalam buku sketsa nya sudah ada dua lukisan yang mirip dengan Zee, saat Zee sedang melamun di kelas dan saat Zee memakai gaun hitam datang ke pemakaman ayah Alena. Senyum Theo tersungging di wajah tampannya sambil membuat sketsa Zee di tepi sungai dengan cekatan.
"Seperti ada sesuatu yang melintas di dalam danau, apakah itu ikan?" gumam Zee.
"Tapi kenapa besar sekali, apakah ada paus di danau, bagaimana mungkin." Zee memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
"Hoi...!" suara Theo mengejutkan Zee membuatnya hampir terjatuh namun Theo dengan sigap memegang tubuh Zee.
"Lepaskan aku!" pekik Zee
"Yakin ku lepaskan? kalau ku lepas nanti jatuh lho." Theo menggoda Zee berpura-pura melepas pegangannya dari tubuh Zee namun Zee dengan sigap malah memeluk Theo.
"Haha rupanya kau takut juga dengan air."
"Bukan begitu, rasanya ada yang aneh di dalam danau itu, ada makhluk besar di dalamnya." ucap Zee masih memeluk Theo.
"Oh itu Natti." sahut Theo dengan nada ucapan datar.
"Natti?" Zee melihat wajah Theo penuh tanya.
****
To be continued...
semoga makin suka guys jangan lupa vote nya 😘😘